Malioboro Gemerlap Kota Yogyakarta



Oleh. Muhammad Naufaldi

"teruntuk kamu, yang aku rindukan bersama riuhnya kota-mu yaitu Yogyakarta. Maaf, jika kutahan semua rasa ini."


Lampu kota bersinar cukup terang

Tak redup, menemani rasa senang

Walau hati ini begitu rapuh

Aku berdiri dalam sudut rasa pasrah


Malioboro kala itu, menenangkan

Sesepi dari riuhnya kota pukul 2 pagi

Heningnya yang membuat semua lelap

Dalam pelukan pagi yang buta nan dingin


Semakin gundah rasaku

Aku tlah kembali jatuh cinta dengan-mu

Panah hangat menghujam jantung

bak, mengujam langit malam dengan bintang


Kurasa-rasa kota ini menjelma rindu

Akankah pertemuan berpihak kepada kita

Hari manis nan indah kota-mu dalam bahagia

Esok hari jumpaku kepadamu, aku rindu!


Yogyakarta, 03 September 2020

spacer

Pantai Liang

 


 Oleh. Muhammad Naufaldi

Ada yang aku rindukan dari sebuah pantai
Tempat lahir ibu yang indah dalam pelukan garis pantai
Tak pernah aku merasakan kesejukan biru laut
Yang menjelma dalam gubuk aku terduduk merenung kepulangan yang bersekat

Ruang yang luas, matahari yang menyengat
Segarnya suara air berkejaran menuju sudut
Bertebaran pasir putihnya yang menjelma seperti rasa
Sungguh kehilangan gairah dalam pelukan alam semesta

Kuingat lagi, betapa rindunya memiliki seorang
 Rintihku keras dihadapan Tuhan, dalam doa yang begitu meriuhkan
Takjubku melihat maha karya-Nya dalam rasa hati yang bingung
Anak-anak terlihat gembira bermain air dan bercipratan air seperti permata berkilauan

Ahh, pikirku "Gusti, aku merasa kesepian..."
Ruang hati begitu hampa terdiam lama menikmati pantai di Ambon
Dalam kesepian yang begitu dalam, tak tertahan
Terimakasih, tuhan

spacer

Kacamataku dan Restu-Nya


 

 Oleh Muhammad Naufaldi

Gusti, ampuni hati ini
Rasa yang membajiri, meluap tak terbendung
Tlah membuatku merasa susah hati
Riangnya yang kurindukan lagi-lagi membuat bingung

Syair dan aksara tlah terbaca
Tergoreskan tinta yang kutatap oleh mata
Mata yang sudah menua dan terbantu oleh sebuah lensa
Kacamata kehidupan sebuah rasa

Aku masih saja menyebutnya dalam doa
Walaupun hatinya memilih lain yaitu dia
Aku teguh, sekeras karang dan tetap dalam pelukan-Nya
Mengharap restu gusti yang meminta ampun dalam salahnya rasa

Riang-mu menjadi bahagia dalam cerita
Penyair ini sedang kesepian dalam hilang arahnya
Kompas yang sedari tadi disentuh tak lagi meruntuhkan harap
Semoga kelak pencarian sepiku akan bertemu kau yang aku harap

spacer

Puisi: Puas dan Ragu Pagi Hari

 
Oleh Muhammad Naufaldi

Semua syairku
Kutekankan pada rindu
Rindu yang menjelma dalam pagi dingin
Setengah sadar, dalam rasa kehilangan yang kumimpikan

Taman yang berbunga
Menciptakan rasa yang dinamakan cinta
Tak terlanjur untuk merindu kasih
Pada harapan yang t'lah jadi lungkrah

Semua batin ini
Kerinduan dalam melodia
Tlah memaksa rasa muncul dalam pagi
Tersasar lagi dalam ruang ragu yang hampa
 
Sejenak langkah mendendamku
Sang laut tlah melabuhkanku
Dalam pelukan sang semesta
Rasa puas dalam kebahagian yang penantian bersama


spacer

Bulan Juli Dan D/MI Café


Oleh Muhammad Naufaldi

Sebentar lagi Juli telah habis, mereka yang masih saja keras kepala terhadap dirinya adalah selalu benar. Yah begitulah singkat ceritanya. Selama masa new normal aku merasa kekosongan dalam hati dan pikiranku tentang asmara yang tersingkir oleh banyak percobaan dalam langkah yang tak berarah namun dalam tujuan yang sama.

Senyap malam itu dan riuhnya kota menjadi sebuah komposisi energis yang tak terlihat dalam sayap emas sang malaikat yang membantu mencari keadilan dan ikut andil dalam renung kami sang hamba yang ingin mencari kebenaran. Semua tak segan untuk menyapa berkenalan hingga menjadi kawan, sajak-sajak yang dilantunkan bait yang disebarkan dan dibacanya menjadi saksi malam yang tak terlewatkan. Hebat memang!

Malam itu dalam renung aku sedang memikirkan betapa hebat sang penulis pram yang menorehkan catatan prestasi berekor dunia dalam sekedar tulisan penuh makna. Bayangkan saja betapa indah hati ini jika saja tulisan membuatku menjadi sebuah sejarah dalam dunia dan abadi tiada henti. Gumamku saja yang merasa ingin tetap menaruh hati kepada tulisan bukan kepada hati seorang.

Perjalananku ini dimulai dalam gelap malam yang tidak terlalu pekat namun berada dipertengahan senja yang semakin menyenangkan. Persekutuan mendekati sebuah kafe yang tidak terlalu besar namun penuh makna dan kenangan yang semerbak harum mawar perjuangan mencari keadilan yang tak pudar sekalipun. Merapatkan kuda besiku yang cukup mencerna setiap amarahku, hati ini dalam keadaan gundah. perkumpulan itu menjadi tempat kenyamanan baru diluar rumah dan penawar rindu selama ini.

"Ruang Tanpa Sekat, Hmmm sebuah nama yang bagus juga untuk dijadikan nama belakang menarik seorang." Seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan kuliah dan KKN saat ini

"Iya begitulah mbak, insyallah tahun ini bukuku akan ku terbitkan dengan salam hangat dan kasih sayang" kataku menjawab

"Semoga berhasil mas dalam kepenulisan ini." singkat saja pesan whatsapp yang ditutup karena aku sendiri sedang berada diluar

Semua saja berjalan dengan nyaman dan aman, hingga terlihatlah fajar jumat waktu itu aku masih saja memikirkan setiap langkah yang positif dan ingin kulakukan untuk bisa dirayakan bersama orang-orang yang kukenal dan yang membutuh sebuah mood positif. Kubuatkan sedikit puisi dalam rasa kekecewaan terhadap rindu yang sebenarnya adalah bukan tentang kebutaan atau keterbudakan cinta. Sering sekali seorang menganggap bucin adalah hal yang menjengkelkan dan membuat iri. padahal kita bisa membuat bucin itu ada dihadapan kita dan mencerna setiap rasa itu dan serta mertalah menjadi bucin. Aku tidak terlalu Naif untuk menjadi seorang pecinta yang saat ini belum juga bertuan, tetap menjadi diriku sendiri yang mecinta dalam rahasia tuhan dan entah letak rasa itu dimana tertimbun oleh tulisan asa dan kekhawatiranku.

Sore dan senja menjelanglah malam, pertengkaran batin dimulai dalam rasa yang tak semakin tenang dan khawatir yang tak kunjung mereda. Kusulutkan rokok dengan api yang kecil dan manis namun mematikan jika membakar suatu hal, maka kutatap api itu dan berkata batin didalam raga yang ber-ruh ini atas kehendak-Nya.

"Kenapa api selalu menyulut, membakar dan mematikan ? padahal api adalah abadi jika kita mengenal dewa bernama AGNI yang biasa kita kenal sebagai api abadi." gumamku dalam perjalanan yang tehrenti karena merokok.

Aku perokok yang aktif bisa dikatakan seperti itu walaupun aku tidak begitu peduli dengan apa yang saat ini kurasa, tetapi aku sangat pro terhadap masyarakat dan rakyat. Banyak, sangat banyak sekali hal yang ingin kuungkapkan dalam rasa perjuanganku dalam berpuisi. Hingga akhirnya gumamku menjadi lirih dan tersadar bahwa sebenarnya ada pesan yang tak kujawab sedari tadi, 10 Menit berlalu oleh gumaman ku yang tak kunjung purna ini.

"Abang! Abang Adi" kubaca dan kutarik task bar smartphoneku
"Bang Balas, ini kami sudah memulai acara sastra yang telah direncakan sebelumnya" lanjutnya

hingga akupun menjawab.

"Baiklah aku akan datang segera ketempat biasa, jangan khawatir sesegara aku akan kesana" jawabku singkat dengan sedikit kesabaran.

Kulanjutkan dalam perjalanan tempat biasa kami kongko atau nongkrong di depan perempatan dan kafe yang sering kami sebut D/MI cafe. Sampailah diriku ditempat tersapalah diriku ini oleh kawan-kawan yang lama tak bertemu. Hingga malam berjalan akhirnya kami berhasil menyelesaikan acara yang telah kita rencankan.

Kusulutkan sebatang rokok dan menikmati setiap malam disudut ruangan itu. Terpinggir bersama dengan malam yang kiat gelap menuju pagi buta, muncul pikiran-pikiran gelisah yang tak segan menutupku dalam ramai dan riuh malam itu. Semua menatapnya dan cukup membuatku selalu tertarik berada disekitar mereka hangat dan selalu siap menerima datangku.

spacer