Bulan Juli Dan D/MI Café


Oleh Muhammad Naufaldi

Sebentar lagi Juli telah habis, mereka yang masih saja keras kepala terhadap dirinya adalah selalu benar. Yah begitulah singkat ceritanya. Selama masa new normal aku merasa kekosongan dalam hati dan pikiranku tentang asmara yang tersingkir oleh banyak percobaan dalam langkah yang tak berarah namun dalam tujuan yang sama.

Senyap malam itu dan riuhnya kota menjadi sebuah komposisi energis yang tak terlihat dalam sayap emas sang malaikat yang membantu mencari keadilan dan ikut andil dalam renung kami sang hamba yang ingin mencari kebenaran. Semua tak segan untuk menyapa berkenalan hingga menjadi kawan, sajak-sajak yang dilantunkan bait yang disebarkan dan dibacanya menjadi saksi malam yang tak terlewatkan. Hebat memang!

Malam itu dalam renung aku sedang memikirkan betapa hebat sang penulis pram yang menorehkan catatan prestasi berekor dunia dalam sekedar tulisan penuh makna. Bayangkan saja betapa indah hati ini jika saja tulisan membuatku menjadi sebuah sejarah dalam dunia dan abadi tiada henti. Gumamku saja yang merasa ingin tetap menaruh hati kepada tulisan bukan kepada hati seorang.

Perjalananku ini dimulai dalam gelap malam yang tidak terlalu pekat namun berada dipertengahan senja yang semakin menyenangkan. Persekutuan mendekati sebuah kafe yang tidak terlalu besar namun penuh makna dan kenangan yang semerbak harum mawar perjuangan mencari keadilan yang tak pudar sekalipun. Merapatkan kuda besiku yang cukup mencerna setiap amarahku, hati ini dalam keadaan gundah. perkumpulan itu menjadi tempat kenyamanan baru diluar rumah dan penawar rindu selama ini.

"Ruang Tanpa Sekat, Hmmm sebuah nama yang bagus juga untuk dijadikan nama belakang menarik seorang." Seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan kuliah dan KKN saat ini

"Iya begitulah mbak, insyallah tahun ini bukuku akan ku terbitkan dengan salam hangat dan kasih sayang" kataku menjawab

"Semoga berhasil mas dalam kepenulisan ini." singkat saja pesan whatsapp yang ditutup karena aku sendiri sedang berada diluar

Semua saja berjalan dengan nyaman dan aman, hingga terlihatlah fajar jumat waktu itu aku masih saja memikirkan setiap langkah yang positif dan ingin kulakukan untuk bisa dirayakan bersama orang-orang yang kukenal dan yang membutuh sebuah mood positif. Kubuatkan sedikit puisi dalam rasa kekecewaan terhadap rindu yang sebenarnya adalah bukan tentang kebutaan atau keterbudakan cinta. Sering sekali seorang menganggap bucin adalah hal yang menjengkelkan dan membuat iri. padahal kita bisa membuat bucin itu ada dihadapan kita dan mencerna setiap rasa itu dan serta mertalah menjadi bucin. Aku tidak terlalu Naif untuk menjadi seorang pecinta yang saat ini belum juga bertuan, tetap menjadi diriku sendiri yang mecinta dalam rahasia tuhan dan entah letak rasa itu dimana tertimbun oleh tulisan asa dan kekhawatiranku.

Sore dan senja menjelanglah malam, pertengkaran batin dimulai dalam rasa yang tak semakin tenang dan khawatir yang tak kunjung mereda. Kusulutkan rokok dengan api yang kecil dan manis namun mematikan jika membakar suatu hal, maka kutatap api itu dan berkata batin didalam raga yang ber-ruh ini atas kehendak-Nya.

"Kenapa api selalu menyulut, membakar dan mematikan ? padahal api adalah abadi jika kita mengenal dewa bernama AGNI yang biasa kita kenal sebagai api abadi." gumamku dalam perjalanan yang tehrenti karena merokok.

Aku perokok yang aktif bisa dikatakan seperti itu walaupun aku tidak begitu peduli dengan apa yang saat ini kurasa, tetapi aku sangat pro terhadap masyarakat dan rakyat. Banyak, sangat banyak sekali hal yang ingin kuungkapkan dalam rasa perjuanganku dalam berpuisi. Hingga akhirnya gumamku menjadi lirih dan tersadar bahwa sebenarnya ada pesan yang tak kujawab sedari tadi, 10 Menit berlalu oleh gumaman ku yang tak kunjung purna ini.

"Abang! Abang Adi" kubaca dan kutarik task bar smartphoneku
"Bang Balas, ini kami sudah memulai acara sastra yang telah direncakan sebelumnya" lanjutnya

hingga akupun menjawab.

"Baiklah aku akan datang segera ketempat biasa, jangan khawatir sesegara aku akan kesana" jawabku singkat dengan sedikit kesabaran.

Kulanjutkan dalam perjalanan tempat biasa kami kongko atau nongkrong di depan perempatan dan kafe yang sering kami sebut D/MI cafe. Sampailah diriku ditempat tersapalah diriku ini oleh kawan-kawan yang lama tak bertemu. Hingga malam berjalan akhirnya kami berhasil menyelesaikan acara yang telah kita rencankan.

Kusulutkan sebatang rokok dan menikmati setiap malam disudut ruangan itu. Terpinggir bersama dengan malam yang kiat gelap menuju pagi buta, muncul pikiran-pikiran gelisah yang tak segan menutupku dalam ramai dan riuh malam itu. Semua menatapnya dan cukup membuatku selalu tertarik berada disekitar mereka hangat dan selalu siap menerima datangku.

spacer

Hey Jo!

 

 Oleh Muhammad Naufaldi

"Menghindar bukanlah sebuah pilihan yang tepat dalam kejenuhan ini. Seperti saja mencintai seorang yang tak pernah sadar akan ada cinta yang menanti di tengah terik siang memberikan perlawanan sengit." -Sebuah tulisan bait Bertuhan Pada Aksara, telah dibaca oleh Jo...

Joana atau Jo yang sering dikenal dikalangan teman-temannya dengan lincah membacakan puisi dari seorang penulis pemula yang ia sering baca buku-bukunya. Entah kenapa hari ini Jo merasa sedikit gundah hati lantaran ada yang hilang dari sebuah part dalam dirinya. 

"Apakah yang hilang dari diriku? Apakah ini bentuk yang telah hilang?" -Membatin membeku dengan buku Analogi Puisi Bertuhan Pada Aksara terbuka habis terbacar olehnya.

"Atau ada sebuah rasa yang telah lama tertinggal dari masalalu ? Sebuah tanda keinginan sebuah cinta ?" -tuturnya dengan membaca buku Analogi Puisi tersebut dengan hati gundah dan seksama

Jo merupakan seorang yang menyukai bentuk-bentuk sastra dan gemar membaca sebagai pelampiasan rasa ia ketika bosan, sambil menatap kearah jendela. Kebiasaan Jo ketika memang ia telah benar-benar bosan dan jenuh dengan dipangku buku itu.

Sengitnya langit berkolaborasi dengan surya yang gagah memancarkan sinarnya. Telah menciptakan kenyamanan dan kehangatan selimut hati Jo yang telah lama ia balut penawar patah hatinya dan lupa akan rasa itu. Untuk pertama kalinya Jo merasakan sakit hati dan tak mampu melupakannya selama 4 tahun, melalui banyak hal yang membuatnya semakin gemar mendekati sastra untuk melupakan rasa itu.

Sesaat terdengar bunyi notifikasi whatsapp dari ponselnya, yang menggugah rasa ingin membuka ponselnya.. Terdapat empat pesan dari seseorang dengan nomor yang tak dikenal dan belum ia simpan. sedikit ia terkejut isi pesan yang tak pernah ia duga, "Sang Dewi Merak" dalam isi pesannya.

"Tak pernah kusangka kembali bisa menemukan, sepucuk angka-angka untuk menyapamu lagi dalam pergerakan angin dan hujan, ditengah panas dan sengitnya matahari kau masih tetap saja berterbangan dengan berjuta diksi yang telah diciptakan itu. apa kau tak bosan harus berlari mencari sebuah tempat bersarang dan sejenak istirahat diri untuk tetap tenang."
Jo, kaget dengan pesan itu tersurat dan tersirat yang membuat kagum dengan pengirim pesan itu. Tak kenal waktu sebuah keadaan yang tak bisa dijelaskan oleh perasaannya, ditengah rasa ingin tahu siapa pengirimnya, senang, dan takut. Namun, ia yakin mengenalnya lantaran tulisan itu tidak asing pernah karena hampir mirip sebuah kutipan buku yang pernah ia baca, benar-benar tak asing dan hanya saja diksinya diganti oleh sang pengirim tanpa mengubah makna. 

Mulai, bingung ditengah sang surya mulai meredup untuk berganti berjaga, Jo masih tetap belum membalas pesan tersebut karena ia memang Jo merupakan seorang yang memiliki kesibukan untuk menunjang kebiasaan menulisnya juga.

"Jo, ayo kita makan malam bersama dulu?" -kata sang ibunda panggil halus dan mengetuk pintu kamar Jo.
"Oke bun, sebentar lagi mau selesaikan tulisanku... aku akan segera menyusul bun."
"Baik, jangan lama-lama kasihan pada nungguin kamu"
"Iya, bunda iya"

Sedikit kesal, namun ia tetap cepat-cepat menyelesaikan tulisan itu dengan rapi sebelum ia lupa apa yang harus ditulis kembali. kemudian setelah ia selesai, menujulah ia keruang makan dan berkumpul dengan keluarga kecilnya yang selalu menyenangkan. Ia masih kalut dalam pikirannya, hatinya begitu penasaran dan ia tuliskan dalam sebuah blog pribadinya;

"Hidup telah menjadi perjalanan tentang menua, pengalaman dan kedewasaan. Jika cinta berakhir kembali, atau menghianati itu bukanlah cinta yang sebenarnya. Lantaran cinta tak mampu kau salahkan, cinta itu suci bak air yang mengalir terus menerus bergantian mengalir hingga bermuara diakhir perjalanan. 4 tahun berlalu, rasa sakit itu masih ada walau aku telah memaafkan masalalu itu. Mengingatku telah mencapai keinginan untuk saling memiliki namun belum jua aku temukan hal itu"

Selesai makan malam bersama dengan keluarga, hujan mengguyur tak henti-henti dengan rasa kalut Jo yang belum juga menemukan sebuah hal  yang hilang. Akhirnya ia, memberanikan untuk membalas pesan itu dengan ragu namun tetap ia meyakinkan hatinya untuk membalas chat itu.

"Mohon, maaf sebelumnya ini dengan siapa ?" balasan Jo yang terlalu kaku dan gugup

Jo hanya menunggu dengan jantung yang berdetak kencang tak berarturan, begitu kakunya ia membalas. Setelah menunggu lama, tiba-tiba handphonenya berbunyi nada dering, dan memunculkan notifikasi.

"Ini aku bimo, mungkin akan kau lupa setelah pertengkaran kecil itu karena mantanmu yang menyakitimu 4 tahun lalu. Kemudian, aku telah lama mencari nomor-nomormu Jo, dan sedikit menelisik tempat tinggalmu serta aku telah mendapatkan informasi tersebut." Balas Bimo.

Jo, tiba-tiba terbangun dari tempat tidurnya.

Sedikit terkejut dengan seorang yang telah membela dia 4 tahun lalu lantaran mantan Jo sudah terbukti selingkuh dan termasuk over protektif. Bimo yang waktu menjadi teman sebelum pertengkaran yang memisahkan hubungan pertemanan mereka hingga sama-sama hilang kontak setelah kelulusan SMA itu. Bimolah yang menyaksikan perselingkuhan mantan Jo yang bernama Ade, dengan mata kepalanya dan memberikan kesaksian kepada Jo namun ia tak mempercayai.
 
"Maaf, setelah kejadian itu kita lama terputus komunikasi dan silahturahmi. Namun akhirnya aku menemukan juga kontakmu. Sekali lagi aku meminta maaf jika ini mengganggu-mu dengan mengingatkan hal yang telah lalu" lanjut, Bimo.

Jo, masih tidak menyangka pertengkaran 4 tahun yang lalu akan mengembalikan pertemanannya yang telah lama kandas karena "keegoisan hati tidak mau menerima dari asal logika tersebut". Pertengkaran itu telah memecah belah hubungan pertemanan Jo dan Bimo, hingga benar akhirnya hubungan pertemanan itu ada karena memang "kesadaran dari diri masing-masing individu".

Akhirnya, Jo membalas dengan sedikit gugup lantaran telah lama tak bersapa. Dan memang Bimo telah menghilang tanpa jejak. Bahkan, di grup chat angkatanpun dia juga tak ada. Namun, ia mampu nongol dengan membuat Jo gundah hati.

"Bimo, Bimo Satrio ?" Balas Jo
"Maafmu ku terima Bim, kita sudah berada dimasa depan dan akan menuju kedepan. Jangan selalu salahkan dirimu juga soal kejadian yang lalu, telah lama kucari seorang teman yang hilang dari grup chat angkatan. Tanpa, angin dan badai kau terbang dan kirimkan sebuah warta" Lanjut Jo

Dalam batin Jo "Astaga, Dia benar-benar membuatku gundah secara pikiran". Namun, dalam hatinya telah bertemu teman lama itulah yang membuat sedikit senang. Tak, lama kemudian ada balasan dari Bimo.

"Iya ini gue Jo, btw lagi sibuk bikin buku juga ya ? aku telah baca salah satu buku-mu dan itulah yang membuatku tahu bahwa ada yang harus aku kejar dalam diriku ini. Untuk minggu depan aku akan ke Surabaya, lumayan cukup lama untuk melaksanakan pekerjaan dan mungkin saling sapa. Ada yang ingin kuceritakan dan kuberitahu nantinya kepadamu Jo. Aku akan kabari lagi nanti kalau tidak esok, oke ?" Balas Bimo yang tak basa-basi.

Jo, semakin bingung dengan dirinya yang telah dibuat gundah sosok Bimo yang ia kenal sebagai seorang memang tak suka basa-basi. Jo, bisa menyimpulkan itu karena  4 tahun lalu Bimo juga masih sama seperti itu memberikan kesaksian dan bukti tanpa basa-basi untuk mengingatkan Jo. Ditengah pikiran-pikiran gelap malam ia berbicara "Gusti jangan membuatku gundah, tenangkan hati dan pikirku yang tak pernah merasakan ini selama 4 tahun lalu".

Pergulatan batin yang tak kunjung, dengan sedikit penyesalan yang dirasakan Jo bahwa waktu itu tidak mempercayai Bimo sebagai temannya. Bahkan, sempat ia mencaci Bimo dengan kata "Kau tak pernah tahu apa yang aku rasakan saat ini, dan kau jangan sok tahu soal itu apalagi soal hubunganku. lebih baik kau tak usah ganggu aku lagi!" kata-kata saat dulu dan itu membuatnya gundah.

Sang mentari pagi menyinari dan merasuk kedalam sela-sela jedela, hangat pelukannya dari bias matahari itu. Jo, bangun dengan menikmati pagi sambil terduduk di pinggiran tempat tidur. Tiba-tiba notifikasi muncul dari Bimo, dan membuat ia terkejut dan blingsatan.

"Aku sudah sampai Surabaya Jo, apakah kita bisa bertemu hari ini ? Jikalau kamu tidak sibuk ijinkanku bertemu dengan-mu. Aku tak ingin menerima alasan kamu tidak bisa" Tapa basa-basi dan langsung ke inti. Sosok Bimo yang tak pernah bisa ditebak namun selalu pasti.

Ia, sadar selama SMA Bimo merupakan salah satu seorang yang digemari oleh banyak cewe. Namun, karena Bimo merupakan orang yang dikenal Jo dengan kaku, tidak bisa basa-basi, dan langsung ke intinya namun beretika. Batin Jo semakin tak bisa dijelaskan detak jantung yang semula biasa  memberikan kode yang tak biasa, membuat Jo berpikir banyak hal. Tanpa basa-basi Jo langsung beranjak dan segera merapikan semua dan segera pergi, tanpa mengambil lama-lama jo sarapan pagi itu dan segera membalas chat Bimo.

"Hari ini aku tak terlalu sibuk, mengapa begitu mendadak memberikan warta kepadaku? untung saja aku tidak sedang sibuk, kita mau bertemu dimana ? Jam berapa ?" Jawab Jo

"Kita bertemu di cafe biasa saat SMA dulu, jam 10" Jawan Bimo

Masih saja jo merasa geleng-geleng kepala dengan kelakuan Bimo yang tak pernah berubah dan membuatnya kagum saat ini kepadanya. Setelah semua selesai dia langsung menuju tempat bertemunya Bimo, tanpa ia sadar Bimo sudah disitu dengan santai dan menyeruput kopi. "Hey, Jo!" kata bimo, Jo langsung menuju ke meja tempat dimana Bimo duduk. Dengan Interior tak berubah, tempat duduk yang sama dan posisi yang sama tak ada yang berubah.

"Hey, Jo" Sapa Bimo
"Halo, Bim sorry ya kalau gue telat banget mendadak tadi naik taksi jadi sedikit lama. Tahulah kota ini padat seperti apa."
"Ah, tidak apa Jo tenang saja aku juga baru saja sampai kok. Apakabar dengan dirimu ? selalu sehat di Kota inikan ?" Mulailah Bimo Serius tanpa banyak basa-basi lagi.
"Jo, sebenarnya aku datang kesini selain mengucapkan maaf. Aku juga ingin kamu tahu bahwasannya aku ingin mencintaimu jika diijinkan, aku ingin bermuara dan aku ingin beristirahat dari terbang dan berpetualangan pekerjaanku ini" Lanjut Bimo

Jo, yang terdiam semakin gugup dengan itu. Namun, ia kenal Bimo jauh dari orang lain tahu. Tiba-tiba suara cafe menghening tanpa ada suara, dan diluar cafe hujan semakin deras. Jo, yang telah merasakan dan menyingkirkan perasaan itu dari hidupnya sekarang merasakan hangatnya dengan yakin untuk itu Jo menjawab dengan "mengangguk". Dan tanpa basa-basi Bimo duduk didepannya, dan segera mengambil dan membuka kotak kecil dari saku itu. berisi cicin berlian dan keseriusan Bimo membuat Jo, semakin percaya akan niat Bimo.

spacer

Ada Yang Melengkung Namun Bukan Bulan itu #1

 
Oleh. Muhammad Naufaldi

Terakhir hari menjadi sangat muram, tak aku sangka juga akan menjadi seperti ini. Mawas diri atas raga yang tak ingin tersakiti (lagi). Begitu, banyak peristiwa dan kenangan masa lalu yang tak sanggup aku bendung menciptakan rasa perlindungan diri-sendiri yang tatkala ini mungkin untuk diri dan orang lain. Menjelang petang Whatsapp tak ada satu kalipun Notifikasi yang menunjukan tentang segala hal yang ingin dirasakan, "Ya sudah bagus berarti" pikirku dalam benak. 

Ditengah cuaca panas, media-media yang saling mencari rating. Seakan-akan egoisme tak terbendung oleh kalangan atas tidak terlihat hingga akhir-akhir ini aku merasakan media tidak bisa kupercayai lagi. Pademi Covid-19 yang mewabah disaat ini menciptakan nuansa baru dalam hidup yang kadang sulit sekali dipercayai, sangat sulit untuk ditebak maupun diprediksikan. Banyaknya, manusia virtual saat ini memiliki bermacam-macam sifat dan sikap seakan-akan menutup dirinya menjadi "Bermuka tebal" dan memilih untuk menjadi orang lain. Orang-orang virtual mulai menitik beratkan dunianya dengan empiris begitu banyak kejadian-kejadian yang tak disadari oleh manusia-manusia itu. Hingga percintaan dan perbucinan dibawa kedalam virtual "dunia memang begitu saja" lamunanku.

Ada yang indah, ketika senja akan datang nanti atau akankah mendung yang akan menemaniku. Seakan-akan rasa kesepian ini menjadi sebuah daya tarik sendiri untuk menjawab pertanyaan yang ada direlung batinku terdalam, siapa pemilik hati ini Gusti ? 

Tengah berpikir menjadi seorang yang realistis dalam berpikir, senyuman-senyuman yang muncul merupakan sebuah bentuk kebahagiaan yang lalu dalam setiap waktu yang ada. Berharap jika waktu itu bisa kembali dalam sejam saja ingin rasanya bisa menatapi seseorang itu dan ketika ku mengenalnya mungkin aku tak akan sia-siakan hal itu. tatkala akhirnya kita menjadi canggung dan mulailah dari raga yang menjauh diikuti oleh sang raja hati yaitu manusia. Seakan cepat berubah, berdiri disini akhirnya sendiri dan tak ada seorangpun yang lagi menberiku cerita-cerita baru soal kisah yang telah lama hilang rasa.

Hingga, tak ada yang sama sekali kurasakan penyesalan mengapa aku seperti ini. "Melihat seseorang bahagia adalah bentuk bahwa penderitaan yang sedang kau rasakan akan kembali ke gembiraan itu". Bukan berarti aku ingin menderita, namun disini adalah tentang bagaimana kita berusaha mengikhlaskan seseorang untuk menjadi yang lebih dewasa. Toh, soal cinta itu sebatas kawan dekat yang tak tau mau bermuara dimana bahkan bahtera yang ditumpangi bisa saja rusak tertabrak karang karena Gusti Maha Penyayang kepadan Hamba-Nya. Hinggaku menemukan pemikiran "Menjaga hati seseorang, sama saja dengan menjaga anak orang" benar bukan ? dimana yang dijaga hati pasti orangnya juga.

Sedikit, yang kualami senyumanku yang tak segan diiringi rasa iri, cemburu, sakit hati, dan sebagainya mencampur jadi satu. Tetap, saja berdamai dengan masalalu merupakan cara terbaik saling memaafkan dan memberikan senyuman kepada kenangan itu ditambah dengan sedikit kopi hitam dan secari kertas dengan aksara-aksara indah. Yang memulai, bukan soal aku atau kamu namun kita karena itu penentuan tetapi ketika itu sudah mulai memudar bukan berarti kamu bisa menyalahkanku atau aku menyalahkanmu, tapi ini tentang kesadaran masing-masing.

Dengan, sedikit senyumanku "Baiklah ini awal perjalanan baru dengan pemikiran-pemikiran baru tentang percintaan ini. Semoga saja, yang terbaik pilihan itu adalah pilihan Gusti dan tak ada yang menerkaku untuk menjadi ini itu dan lainnya.

spacer

Rindu, Kenangan dan Google Drive!


 
Cipt. Muhammad Naufaldi

Apa yang kalian pikirkan sih tentang perjalanan?? Ini sebuah cerita yang tidak terlalu istimewa untuk orang-orang saat ini, tetapi bagiku sangan berkesan pada umur yang sangat belia bersama keluarga melakukan perjalanan yang sangat rutin, hingga disusuri semua pantai dan beberapa gunung.  Sebenarnya yang kutulis ini adalah rasa rindu yang sempat hilang dari ingatan. Sempat beberapa kali melihat “Google Drive” penyimpanan yang penuh, hinggaku berniat menghapus dan melihat file-file lama yang tak pernah kubuka ternyata masih ada didalam itu. Sebelumnya terimakasih Google! Hehehe.
 
Ketika itu aku berumur 12 tahun, dan yah mungkin itu adalah masa dimana anak-anak sekolah dan bermain sewajarnya mempunyai pengalaman bersama teman-teman dalam lingkungannya. Namun, aku ini merasa beruntuk ketika bisa “travelling” ke tempat-tempat yang mungkin bisa dibilang jarang didatangi anak-anak berumur masih belia dan beruntung pada masa itu. Mungkin dulu aku adalah salah satu “Nek dikon foto kok mesti wegah” , kata ibukku waktu itu dan memang aku adalah anak yang tidak suka sekali difoto namun malah menjadi suka dengan dunia fotografi saat ini. Anehnya, aku waktu itu merasakan exited dengan namanya “Gunung Bromo” itu akhirnya aku mau saja berfoto dan menikmati keindahan alam dan  disitulah aku pertama mengenal alam yang lebih megah ciptaan Gusti dibumi yang menabjubkan. Dengan rasa syukur dengan foto itu dibelakangnya ada Puncak Mahameru (sebutan puncak legenda) yaitu Gunung Semeru yang tertinggi di Pulau Jawa dengan gagah selain Gunung Merapi dan Sumbing yang juga memiliki kegagahan serta megahnya. Aku-akui dan visual gambarnya dua gunung ini (Bromo dan Semeru) membuatku tabjub akan keindahannya, dan mungkin dengan rasa syukur sekali lagi atas kuasa-Nya waktu itu aku bisa melihat dua gunung yang megah nan indah. 

Dengan penuh perjuangan yang saat itu lucu, jadi sebelum naik ke tempat Gardu Pandang lebih tepatnya. Sampailah aku dan keluarga waktu itu sekitar jam 2-3 pagi, dimana waktu itu baru pertama kali namanya aku naik gunung dengan suhu yang lumayan dingin. Menjelang pagi aku masih ingat sekali, aku tertidur di dekat jendela yang itu pastinya dingin dan yang pasti aku merasakan masuk angina kemudian. Hebatnya, aku masih bisa melaksanakan ibadah sholat shubuh dengan air yang sangat dingin, lantai keramik yang luar biasa dingin seperti es. Dan itu adalah pengalaman yang memang lucu dimana matahari mulai muncul dan terbit dengan senyuman-senyuman penduduk yang ramah menyambut kami, aku tak ingin turun dari mobil karena merasakan badan yang sudah tidak membaik alias masuk angin. 

Hingga akhirnya,
“Bangun, mas sarapan dulu” kata, ayah waktu itu
“Badan mas enggak enak yah ini” jawabku
“Lah, liburan malah masuk angin. Yaudah turun dan makan dulu makan sarapan mie rebus itu udah dibelikan dan dimasakin siapa tau enakan badannya?” 

Dan terpaksa turun, karena memang lapar sebenarnya. Aku merasakan keajaiban disini, aku makan tidak sampai 2 sendok makan badanku yang awalnya terasa tidak enak menjadi lebih mendingan dan pulih secara cepat. Bahkan, nafsu makanku tidak berkurang sedikitpun hinggaku makan dan habiskan semuanya mulailah perjalanan menuju gardu pandang. Dan disambut oleh dua gunung megah yang bersih tanpa kabut dan ditemani cahaya hangat dari matahari yang tak mau mengalahnya dengan dua gunung itu. Hanya beberapa jam berada di tempat tersebut pada akhirnya kami melanjutkan perjalan pulang.

Banyak yang kupikirkan waktu dulu hingga saat ini. Jujur aku rindu dengan provinsi-nya. Walaupun kota-nya terkadang sangat panas menyengat aku rindu akan semua hal. Bahkan, semua hal itu masih saja membekas dan aku benar-benar bersyukur bisa merasakan pengalaman yang mungkin bisa saja itu hanya sekali saja. Namun, harapanku adalah tetap alam ini kita jaga bersama dan lindungi bersama selain anak cucu kita yang akan menikmati itu kelak. Mungkin saja kita juga bisa kesana dengan kerinduan yang aku rasakan saat ini. Dan semoga aku dan kalian bisa dapat menyambangi dua gunung ini. Aamiin!

spacer

Malam, Jogja Dirindukan


Cipt. Muhammad Naufaldi

Aku pernah dibuat oleh istimewa (bukan hanya kotanya). Namun, dia memberikanku kenang-kenangan dengan secarik kertas berisikan "Handwritting" namaku dengan embel-embel penulisan creditnya menggunakan kata "cantik". Aku masih ingat ketika itu malam, disebuah angkringan yang sering dibuat nongki anak UGM. Aku lupa namun tepat itu berada disekitaran jalan kaliurang pokoknya. Ya, semoga aja si doi ini (sahabatku) selalu sehat dan dalam lindungan Gusti. Namun, kota itu masih dalam gelap malam dalam keriuhannya. Ah, berharap saja dia tidak melupakanku.

Kami sering bertemu dan berdiskusi tentang banyak hal, bahkan kisah-kisah Romeo dan Juliet atau apapun itu. Yah, dia memang sangat tangguh gadis rupawan yang tinggal di Kota berplat R-nya. Terkenal dengan gadis-gadis cantik katanya. Dan kamipun tak pernah lupa kenapa bertemu?

Bertemu karena hal sepele dan kenekatan yang waktu itu membuat berhasil bertemu di sebuah kota kecil yang lumayan luas jangkauannya lebih tepatnya Kota Yogyakarta. Kita tahu apabila rencana untuk pergi kadang tidak kesampean jadi, maka kuputuskan nekat pergi. Kota yang riuh, selokan mataram yang panjang mengeliling kota. Ah sudahkah rindu dengan kota itu. Yah aku benar-benar rindu dengan kota-nya yang selalu memberikan kenangan-kenangan membekas dalam hari-hariku, hinggaku mengenalnya dari suatu forum menjadi dekat dengan dia adalah kenangan paling membekas. Mungkin begitu pikirku, benarkan, rah ?

Ini bukan lagi rasa cinta yang kubahas namun rasa kasih sayang sebagai sahabat itu benar adanya. Kami memiliki beberapa hal sama dalam keanehan-keanehan itu, dan aku benar benar bersyukur mengenalnya waktu itu Seorang gadis dri plat R yang tak pernahku lupa senyum dan tawanya. Tak inginku lupa dengan sambutan kota itu, selalu dengan kejutan-kejutan baru tak membosankan hati ini untuk ingi berkunjung kesana. mungkin menemui-mu lagi ? ya, kenapa tidak kuharapkan waktu dan ruang memberikan keleluasaan kepada kita wahai sahabatku.
spacer

Keheningan Malam Obat Hati

Sudah mendekati larut malam, ditambah nuansa hujan dan juga hening yang ada dilingkungan ini membuatku merasa sedikit tenang. Yah, lantaran sudah bertemu dengan sang pujaan hati yang baru saja bisa bertemu. Mulai kunikmati setiap gerak-gerik dedaunan dibawah hujan berteman dengan kopi panas yang sedikit menggodaku. Tidak kusangka baru saja banyak aku berbicara dengan dia, mengobati segenap rasa rindu yang terbatas oleh kuliah. Namun, aku tidak menyalahkan kuliah menjadi pembatas lho ya! tetapi aku berbicara soal kuliah itu salah satu yang penting, tetapi ada yang lain juga yang penting juga begitu. Malam yang biasa saja sebenarnya menjadi spesial kek "martabak manis" lantaran aku menemukan selfhealing dan obat hati yang sempat merusakku beberapa bulan yang lalu. Hujan tak kunjung berhenti menghipnotis setiap insan agar tidak keluar dari rumah malam ini, namun kujemput dia malam ini bertemu dan berbicara tentang banyak hal.

"Hey" sapaan dia halus lembut
"Arep nangdhi mas ??"Lanjutnya..
"Yo, teko mlaku sek koyo biasa"jawabku, biasa sambil senyumanku katanya gemesin begitu.
"Tapi kok iki udan ki dek, piye ?"jawabku ditengah kekhawatiran yang sedikit bingung juga
"Terserah, mas"

Ya, karena dia bilang "Sekarep-mu mas." ku ajak saja ke cafe yang tidak terlalu luas tetapi kenyamanan dan keamanan selalu terjaga  yang pasti tetaplah ketutup dari hujan. Sedikit canggung ketika awal mengobrolkan tentang hal-hal yang berhubungan dengan atau soal pacaran begitu, membahas kenangan yang telah lalu dalam hidupnya dan itu merupakan salah satu bentuk kepercayaan setiap orang kepada kekasihnya. kenangan-kenangan itu mengobati setiap laraku dan lelahku hari ini malam yang akan segera berujung menuju pagi pasti ada sebuah harapan-harapan baru yang akan muncul aku hanya harus "yakin" soal itu.

Kenangan, adalah bentuk sebuah ingatan yang bisa menancap dalam pikiran maupun hati. Menimbulkan perdebatan antara otak dan hati, karena terkadang tidak sinkron dan harus berjalan sendiri-sendiri menimbulkan luka untuk diri sendiri. Terpenting adalah tanpa kenangan kita tak akan mampu berdiri tegar dan kuat seperti sekarang ini, terapalagi bab percintaan yang tak kunjung berlabuh dan bersama.

Percakapan yang tak kunjung ingin kuselesaikan dikarenakan masih ada rindu yang tersisa, tapi waktu malam dan hujan menjadikan kemungkinan ini tertutup untuk segera menceritakan banyak hal lagi. Masih kuingat sorot tatap matanya, senyumnya, dan tertawanya menimbulkan kebahagiaan tersedenri menjadikan self healingku disetiap jenuh dan resahku. riuhnya kendaraan yang lalu lalang tak mengijinkanku diam saja memberikanku kesempatan untuk sering berbicara dengan dia, dan turunnya hujan menjadi rasa bersyukur ketika waktu tak segera menjawabku ada sebuah keyakinan aku akan memilikinya dalam ikatan yang lebih serius. Malam akan segera habis sesaat lagi, menemani setiap detak jantungku dan nafasku. Keheningan malam membawakan-ku secangkir obat penghilang dahaga dan obat penawar hati yang tersakiti, memberikan pelajara soal percintaan yang baru dan ku yakini ingin alam merestui hubunganku "SEMOGA KITA BERJODOH!"harapku dalam teriakan hati kecil. dan semoga kita bisa tetap berakhir pada muara dan pelabuhan kita.

Jangankan soal patah hati, kita memiliki hati yang dipatahkan untuk melatih kesabaran dan emosi kita. Cinta bukan soal menyayangi saja, tapi soal hal-hal yang kita tak pernah pelajari bahkan mampu membuat kita mengerti hal-hal yang baru, bahkan kenangan adalah sebuah ujianmu untuk melalui itu. Hujan saja tau cara pengertian, sebagai manusiapun kita seharusnya bisa selama kita yakin pasti bisa.
spacer

Aku, Kamu, Jogja dan Senja.


Mulai dari malam perjalananku terhenti untuk kembali pulang, dimana aku sedang duduk bersama dengan secangkir iced coffee  yang ku nikmati dengan malam yang segera menjelang. Keseharian yang telah berlalu banyak hal yang didapatkan, momen yang singkat membuatku merindukannya lagi tetapi membuatku agak kesal sebenarnya. Tak kusangka hari yang selalu tidak direncanakan bisa menjadi hari yang paling special dan menyenangkan rasa hati bertemu dengan seorang “pujaan hati”. Hari yang hanya sebenarnya biasa saja menjadi luar biasa dan berarti akan hal yang tak pernah kita duga, seketika bisa langsung terjadi. Sedikit, malu bertemunya untuk kesekian kali namun rasa yang tak pernah berubah seakan menjadi pondasi dalam menjalin sebuah hubungan yang semakin erat. 

“Halo, pal” kata tutur yang halus
“hehe, hei” jawabku dengan sedikit ketawa karena melihat dari spion yang telah lama memandanginya.
“jadi, kita akan kemana pal ??” katanya
“aku ikut saja, mau kemana yang penting bisa foto” jawabku

Percakapan yang singkat tetapi membuat waktuku yang terbatas bersamanya, menjadi sangat berarti dan bermakna. Tak pernah ku bayangkan ini menjadi salah satu langkah besar dimana 4 tahun lalu aku memang tak berpikir untuk memiliki seorang perempuan lagi, tersakiti hatinya lantaran di khianati. Sore yang menjadi malam tak pernah menghianatiku hari ini, dia yang memberiku sebuah harapan itu menjadikanku seorang yang berani keluar dari zona nyamanku selama 4 tahun terakhir ini. 

Masih kurasakan tatapan matanya yang membuatku tak bisa melupakannya serta membuatku memikirkannya terus menerus.  Duduk merasakan letihnya hari dengan sedikit campuran “café latte” yang memikat untuk dirasakan seakan memanggil untuk dirasakan bersama hari yang menjelang malam. Tidak bisa, melepasnya demikian karena sangat rindu atau juga dia merasakan rasa yang sama menggetarkan hati yang pernah keras hingga benar-benar ku dibuat meleleh hatinya. Terkadang aku berpikir “apakah ini akan menjadi sebuah kisah yang akan panjang?” kata hati. Ingin rasanya aku merasakan hal yang memang dirasakan orang lain, berbagi sebuah kehangatan canda gurau dengan seorang lagi untuk melengkapi hati ini. Bukan, sekedar kata apabila kamu membaca sebuah ini tapi aku saja tak berubah pikirannya dengan rasa ini serta akan sesama menunggumu melihatmu menjagamu. Namun, ku percaya luka yang pernah membekas bisa hilang kembali dan luka itu bisa menjadi pembelajaran untukku. 

Suasana jogja sore itu, matahari akan segera terbenam ditengah ramainya kota itu tidak menghilangkan khasnya dengan julukan kota pendidikan. Ramainya jalan-jalan orang pada bergelut dengan macet lantaran ingin segera kembali ke tempat masing-masing. Kebahagiaan, sedih, sakit dsb bercampur pada hari itu tidak hanya satu orang namun semua orang. Lantaran kedapatan diriku hanya memiliki waktu yang sangat-sangat terbatas, dalam kerinduan yang hening dan diam, aku hanya mampu mensyukurii yang telah terjadi sore menjelang malam. Tak kusangka, hati yang selama ini benar-benar beku dalam waktu yang cepat mampu leleh olehnya.

Setelah lama mencari jawaban dunia, kehilangan yang sangat dalam dan terpapar oleh pasang surut zona nyaman yang tak mengizinkanku keluar. Setelah enggan rasanya, sore menjelang malam langit-langit mulai menjingga hingga kemerahan tua ditemanimu sore itu, aku senang terlebih jika kamu duduk bersamaku. Hingga perbincangan ngaco, ketawa-ketiwi, serta menciptakaan sebuah keirian oleh senja itu yang memang telah menua. Namun, kunjung saja kota itu tak pernah membohongi hatiku, hingga habis waktu menuju detik terakhir waktu. 

Cinta?
Cinta itu sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. itu adalah pengertian secara umum. Namun, menurutku cinta adalah sebuah proses kehilangan dimana semua akan terobati dan kemudian akan pulih seperti semula bahkan tidak ada kata harus memiliki saja kita bisa menganggapnya itu "cinta". Namun, paling penting adalah cinta yang benar-benar itu tidak pernah mendua dan pasti hingga akhir hayat.
spacer

Sekedar Ngopi Ning Dalan

Perjalanan waktu yang menghajarku sore ini, sudah cukup membuatku lelah, bahkan babak belur tak karuan lantaran rinduku yang sekarang menjadi tak bertuan malah menjadikanku resah akan sebuah kehilangan. Masih dengan suasana yang sedikit tidak mengenakan hati, aku mulai duduk di beranda rumah menikmati sore dengan harum kopi hitam yang pekat dengan ampas-ampas seakan membuatku begairah sore itu untuk dinikmati olehku. Sebenarnya, aku ini adalah penggila kopi bahkan bisa dikatakan maniak sekali karena kebiasaan dengan slogan "tidak ngopi, inspirasi belum bisa muncul" seperti itu menjadikan semua hal yang berkaitan dengan perjalanan waktu yang berakhir di sore menuju senja langit senja menemani diri ini yang sedang diam menikmati kopi dan senja.

Tak kusangka ‘’telah lama tak kurasakan, sebuah rasa yang benar-benar membuatku seperti ini. Seakan tidak bisa aku jelaskan bagaimana perasaan itu" dalam batinku yang mulai sedikit hampa dengan harapan tetap sama, mencintai dan menyayangi dia yang tidak pernah merubah perasaanku. Dia yang hadir membukakan buku lembaran baru dengan menuliskan tinta yang ada di pena itu, telah membuatku merasakan seakan "apakah ini akan menjadi sebuah perjalanan yang memilik cerita yang luar biasa atau hanya sebatas formalitas yang akhirnya menimbulkan rasa sakit antara kita." Hanya saja tetap belum tahu kenapa rasa ini tetap bertahan hingga sekarang bahkan benar-benar tak berkurang sepeser-pun.

Apakah keikhlasan itu ?
Kamu telah melaksanakan segala kewajibanmu. Namun, pejuang seperti halnya sebab-akibat dimana semua itu terjadi maka akan ada konsekuensi yang didapat. Dimana kita mampu menyerahkan akan segala jiwa dan raga untuk mengejar hati seorang atau mempertahankan sebuah perasaan tanpa meminta imbalan kembali. Seakan-akan ketulusanlah yang membuat kita memahami tentang arti keikhlasan.

Sore yang menjingga menjelang senja, telah menemani soreku yang tak merubah segala hal apapun itu. Masih saja ku nikmati kopi hitam yang sudah dihidangkan yang kemudian membuatku berpikir "Seharusnya kita bisa menghargai sebuah perasaan dengan jujur, mencoba untuk mengerti dan memahami setiap insan yang ada", tetap saja aku berpikir bahwa itu benar-benar tidak mudah dalam realisasinya. Tak kusangka hari yang sebenarnya menyenangkan ternyata ada hal yang sedikit tidak mengenakan. 

" mas mikirke nopo kok mung meneng wae ting mriki??"
"Lah, biasa tok dek maskan nek sore senengan e gawe kopi kongko ning kene."
"Tapi biasane moco-moco iki tumben banget ora gowo bacaan sing di gawe wingi"
"Wah, iyo dek lagi ora mood buka buku kuwi pingin leleren dhisik."
"Owalah, ngono mas? Iki meneng ki mikir ke niku opo enten sing liyane?"
"Ah, yo ngono iku"

Disela-sela kopi dan tiba adikku yang dari dalam rumah membuatku sedikit terkejut saja, namun aku masih saja menikmati kopi sembari memikirkan apa yang harus ku lakukan. Aku nikmati kopi hingga benar benar habis dan mulai ku tinggal segala kegiatanku di beranda rumah lantaran waktu maghrib udah memanggil, lantas ku ambil air wuxhu dan segera menuju ke masjid dekat rumah. Ku berjalan kaki, namun hati dan pikiran ku tetap tidak bisa menjadi tenang. Merasakan bahwa khawatir saja dengan apa yang akan terjadi dengan segala hal yang berhubungan dengan hati, hingga saat ini tetap tak mampu saja aku melihat keadaan secara batinku. Banyak terdiam, bahkan tidak berkata  kepada orang lain hanya merenung terus menerus diperjalanan itu dengan harapan dapat tenang setelah sholat maghrib. 

Malam datang dengan cepat, tak diundang bahkan tak menyapaku. Seakan terlihat sombong, dibalik tetap rasa syukur yang selalu ku lantunkan dalam doaku agar mendapat yang terbaik dan selalu meyakini atas keputusanku ini. Sudah lama diam dalam perjuangan yang tak bertumpahkan darah, seakan masih harus menutup luka agar tak terlihat menyedihkan. 

"Apakah, ini menjadi salah satu jalan yang harus aku lakukan dari andil tugas mempertahankan sebuah perkataan hati yang saat ini sedang terluka?" pikirku yang sedang berjalan menuju rumah.
Tak kusangka saja sekian panjang hari yang terlewati hingga tak ada sisa-sisa kepercayaan ini, seakan aku hanya menerima dan mendapat konsekuensi sebagai sisa-sisa yang tak di ikhlaskan.  Masih saja berharap namun sudah tak mampu untuk mengharap lagi, lantaran "untuk apa ?" hanya akan melelahkan diriku. Akhirnya tetap saja bagaimana perjuanganku hingga mampu menemukan seorang yang akhirnya tetap saja, sebagaimana manusia adalah makhluk-Nya yang bisa mencintai dan menyayangi makhluk-Nya yang lain jadi tetap saja bagaimanapun itu tetap saja sebagai makhluk-Nya kita masih diberikan kasih sayang oleh-Nya dengan dibolak balikan hatiku ini. Kunci dari semuanya adalah ikhlas dan ikhlaslah yang memberi kita kekuatan dan ketulusan hati yang bersih sebagai manusia.

spacer

Candu, Yang Merindukan

Sandaranku menatap ruanganku yang telah rapi, kala malam yang mulai mencekam dingin dengan sedikit rasa pahit dari kopi panas yang menggoda lidah. Lantaran asyik dengan kopi, tak sadarku terbayang memberikan hal yang membuatku termotivasi untuk melaksanakan aktifitas hari ini penuh rasa yang menyenangkan tak kusangka saja bisa menjadi salah satu nikmat terindah.

Segarnya angin pagi, harumnya bunga dari taman kecil dekat beranda rumah, serta terpaan sinar matahari yang mulai muncul menghangatkan tubuhku dikala dingin. Rasa syukur, yang sangat besar dalam keadaan yang benar-benar buyar antara kehidupan percintaan serta kehidupan dunia yang secara fisik dan psikis. Masih tersandar "apakah ini perjalananku? Atau perjalanan kita?" batinku, rasa lelah berjuang yang namun sampai saat ini tak berkurang rasanya masih saja setia menanti yang kalau kata orang "tak pasti" tetapi aku tetap bersyukur dengan adanya sekarang.

Suara-suara berkicau burung berterbangan dengan asyik, memperlihatkan pagi itu akan menemaniku dengan yang sangat indah dan membahagiakan. "Untukmu yang membaca ini, aku harap kamu sadar aku menunggumu" sebuah bait yang ada di puisiku telah menjadi sebuah keusangan lantaran terdiam beberapa hari lalu. Sekarang, tak ada lagi pagi yang menekan diriku karena perasaan yang telah di peras dan ditekan membuat menjadi ikhlas dan mempelajari segala hal yang memungkinkan untuk mengikhlaskan untuk dirinya. Jika, Allah tak memberiku kehadiran dia mungkin sekarang aku tak seperti sekarang ini, kekurangan yang sangat membuat hati dehidrasi dalam pencarianku.

Ikhlash?
Sebuah perasaan yang mewakili hati untuk menyampaikan sebuah rasa yang tak terlihat, tak tersentuh, tak terdengar dan mungkin bisa mustahil untuk dipahami oleh setiap manusia.

Pencarian ini ingin segera aku tuntaskan, segera usai dan berlabuh. Namun, aku yakin tak selamanya ini mudah pasti akan ada rintangan yang telah menanti didepan menunggu sangat lantang berteriak "mari lawan aku!". Masih saja aku terdiam dengan rasa lelahku bergelut dengan perasaan dan otak yang tidak mau sinkron dan bersama jalan sejajar. Bahkan, tak ku sangka bisa memikirkanmu seorang perempuan yang ku nanti dalam penantian yang tak main-main. Sekedar ku ngopi dipagi hari, ada pertengkaran kecil yang membuatku tertawa kecil atas kejadian pagi itu sebelum matahari mengintip muncul malu malu sebenarnya.

Sebuah smartphone yang aku telpon berdering dari seorang yang aku kenal, langsung saja kuangkat.

" Assalamualaikum, gimana mas ?" selalu halus membuatku rindu.
"Sebenarnya tidak ada apa-apa, hanya saja ingin ku menelpon lebih dulu karena beberapa hari lalu kamu chat enggakku bales" dalam keadaan gelap dipagi itu
"Yakin, tidak ada apa-apa ? Jawabnya
"Yakin, tidak ada apa-apa cuma ingin saja kita ngobrol"

Semakin menuju pagi, aku merasa rindu lantaran pertemuan waktu itu hanya sebentar. Bahkan, aku hanya mampu memikirkannya untuk saat ini, hanya dalam doa yang ku layangkan ke langit. Tak ada pertarungan lagi saat menuju pagi, sebab rasa itu hanya aku yang memiliki sebuah optimisme yang ada saat ini. Kugarap semua pekerjaanku dan aktivitasku yang sangat-sangat padat pada pagi yang menjelang siang dengan beribu keinginan seperti manusia pada umumnya. Ingin rasanya berbagi sebuah hal yang menurutku tabu untuk mempertahankan sebuah hubungan yang telah lama ku lupakan hingga akhirnya dia datang merubah segala halnya, hanya berucap dalam hatiku "selamat datang! Terimakasih kehadiranmu merubahku" hingga tak ada yang tersisa dalam hati ini. Semoga yang tersemogakan menjadi salah satu perjuangan tak sia sia.

spacer

Ora Pinter, Tapi Gelem Nyinau

Menjelang malam hari berada tempat aku berhenti  sebuah kota yang istimewa dengan budaya, keraton, dan suasana kota yang  berbeda,aku masih menunggu setiap detiknya menikmati senja yang semakin tua untuk terbenam di ufuk barat Kota Yogyakarta, dengan sejuta harapan yang masih ada dan aku merasa letih sore ini dengan ditemani kopi yang menjadi salah satu daya kekuatan terbesar selain dia. Entah mengapa kota ini menjadi sebuah tempat yang selalu aku rindukan, bahkan sebuah tempat pelarian yang tak pernah marah jika aku sedang mengeluh “sambat” atas semuanya.

Masih saja ku duduk disebuah minimarket, mengatakan “hallo apakabar dirimu ini?”kataku kepada aku. Mengetik segala risau hati, disebuah kertas putih yang tak pernah menghianati semua hal pada hari ini. Aku masih saja mengatakan perjalanan ini sangat-sangat harus disyukuri ketika semua teman tadi agak mengeluh, atas keterlambatan dan tidak dapat mengikuti sebuah sesi kelas fotografi. Membuatku seakan kasihan melihat dalam keadaanku yang sama-sama merasakan capek di tengah terik siang kota Yogyakarta. Banyak yang berlalu lalang didepanku tersenyum ramah dan membuatku malu, tak nampak aktivitas hari ini yang sungguh melelahkan pagi hingga sore tersusulkan oleh malam, tak tau malunya aku dengan matahari dan bulan yang tak mengerti soal waktu. Bahkan saja masih ku disini tak kunjung pulang, berisikan banyak peristiwa dan penyemangatku yang muncul tiba-tiba di tengah waktu luang yang membuatku benar-benar merasakan senang dengan kehadirannya yang lama saling menunggu dalam harap. 

 “Aku kesel e, sayah” kata seorang teman kepadaku
‘’aku yo kesel e sayah, malah ra entuk sesi fotografi” kata seorang teman yang lain

Ya, memang siang itu sangat terik menyengat tubuh membuat tubuh lelah. Namun aku sadar bahwa tak selamanya perjuangan kita itu selalu gagal ditengah, banyak ilmu yang harus kita gali. Tidak memandang apapun itu ilmu mampu menjadi sebuah sarana perjuangan dengan penuh drama dan konflik yang seakan-akan tak kelar pada waktu itu membuatku menjadi salah satu kegelisahan sendiri, apakah ilmu itu akan menjadi sebuah bekal ku esok ? atau malah menjadikan ku sebagai boomerang untukku? Tak ingin aku merasa segalanya salah kepadaku, namun aku masih tetapi memikirkannya sampai detik ini. Berjalannya sore ini, aku masih duduk bersama diriku sendiri tidak ada rasa sepi, tidak ada rasa khawatir. 

Namun kelelahan yang aku rasakan, tak apa ketika ada seorang barista menanyakan dan menyodorkan menu kopi yang ada di situ, ku pesan lagi sebuah kopi untuk menemani malam  yang akan ku lalui diperjalananku setelah ini dari Yogyakarta-Magelang penuh dengan rasa senang dan cinta. Banyak sekali hal yang membuatku terbuka untuk menjadi orang yang baik.

Masih terdiam, sambil ku nikmati setiap seseruput kopi ini, memikirkan untuk mengambil hikmah yang terjadi hari ini mulai dari konflik hingga segala yang terjadi. Namun, ku tak merasakan sama sekali jenuh yang sangat dalam berada disini mendengarkan pembicara-pembicaraan yang selalu berarti bahkan tak kunjung ingin aku usaikan lantaran kunikmati dengan sepenuh hati.  Menciptakan rasa puas yang tak pernah ku rasakan sebelumnya, hingga benar benar termenung. 

Bau “Baking”  yang sangat menggodaku hingga memanggil orang untuk segera membelinya. Hingga selesai ku mengopi di tempat itu, aku merasa bersyukur mampu merasakan hal yang berubah dalam diriku lantaran aku tak mampu mengungkapkan segala rasa hari ini, dari mulai perjalanan yang melelahkan hingga bertemu sang pujaan hati “cieeeee, pujaan hati” yah seperti itu lah pokoknya. Dan tak kusangka mampu menjadi hal yang sangat sangat beruntung, dan merupakan salah satu keputusan yang tak pernah ku lupakan. Karena ku yakin bahwa Allah telah merealisasikan rencana yang bisa membuat kita tercengang hingga berpikir berkali-kali, tak hanya itu manusia belajar untuk berusaha dan meniatkan segela rencana yang telah dipikirkan.
spacer

Harapan, Yang Terlanjur Aku Percaya

Cipt. Muhammad Naufaldi

Pagi ini, masih saja ku terbaring asyik bersama kasur kesayanganku. Tak segera beranjak dari situ aku masih saja menyamankan seluruh badan, padahal tugas sudah mulai memanggil untuk dikerjakan. Ku dengar kicaunya burung burung kecil terbang dan ada yang bertengger seru seakan memanggil "bangunlah, sudah siang", namun ku tak melihat sang fajar yang berada di ufuk timur sana menunjukan salam paginya. Sehingga ku khawatir dia tak hadir menemaniku lagi, membuatku tergugah mencari sang cahaya baru.

Tak bernafsu untuk sarapan pagi ini membuatku bangkit dari persinggahan sementara itu menuju ke dapur. Seperti biasa di temani lagu-lagu pop seperti MLTR dan beberapa yang lainnya, masih saja ku perlahan menunggu suara bunyi air mendidih dan menyiapkan amunisi yang pasti itu tidak jauh dari kopi.

Mengapa kopi ?
Terkadang kopi mengajarkan kita betapa sabar hidup kita ini sebenarnya, tidak memandang kelas maupun kelompok tertentu. Tetapi, kopi juga salah satu cara pelampiasan terbaik untuk menjadi manusia yang lebih berakal dan menjadi semakin baik. Selain itu, kopi menjadi salah satu penawar kerinduan dan kesakitan rasa dalam perasaan.

Kusiapkan segala amunisi yang akan menemani pagi, sambil ku menyimak segala hiruk-pikuk keadaan sekitar maupun negara melalui berita-berita yang ada di televisi pagi ini. Sebelum ku seruput kopi panas itu, aku menyiapkan sebuah buku dimana didalamnya tertulis sebuah nama yang membuatku tidak bisa menolak kehadirannya walaupun sebenarnya aku sedang menanti dia dalam perjuangan.

"Tak kusangka….." dalam benakku
"Masih, kusimpan handwritting ini…" lanjutku tergumam

Masih, saja ku ingat bagaimana pertemuan itu terjadi dan kau memberikan selembar kertas berisikan namaku. Pembelaan yang sangat-sangat berdosa, hingga melakukan perjalanan yang panjang agar bisa bertemunya. Perjalanan Magelang-Jogja yang telah menjadi tempat peraduan dan peperangan itu pecah, hingga kerinduan ini berbentuk dendam. Pertengahan jalan terdapat pertikaian batin yang tidak dapat terhindarkan.

"Apakah ini pantas untuk ku perjuangkan ??" aku hanya diam termenung dan tetap ku yakinkan teguh semua ini.
Dan akhirnya, ku teguh dengan semua ini. Kusiapkan semua yang akan menjadi konsekuensi, walau tetap saja namanya yang berhubungan dengan "cinta" semuanya tetap sama itu adalah proses.

Konsekuensi ?
Cinta adalah sebuah kata bermakna majemuk yang sangat banyak sehingga bisa diartikan melalui kalimat yang dirujuknya. Sedangkan, konsekuensi itu adalah hal yang terjadi adanya sebab-akibat, dan cinta memiliki konsekuensi yang beragam tak tahu seberapa dalamnya itu.
Hingga membuat aku, mereka dan siapapun itu merasa seperti bermain dalam lingkaran yang dilarang.

Kulanjutkan di beranda rumah, kunikmati awan mendung hari ini walaupun cahaya surya muncul dari timur tetap saja aku merasa hampa untuk saat ini. Duduk termenung, memikirkanmu yang memang selalu saja hadir dalam otak dan hati ini tak terhitung bahkan ku juga tak mampu hitung.

Namun, aku bersyukur kamu hadir di tengah kegelisahan diriku yang mencari sebuah cahaya yang telah lama membuatku menutup hati kepada siapapun itu. Hingga pesan dalam artinya saja aku maknai tidak pandang bulu, kata seorang teman "bucin, ambyar, bucin, ambyar" namun sebenarnya aku paham dengan makna itu. Itu adalah makna dimana aku sedang mencari identitas diri tentang sebuah cinta yang memang harus digali agar menemukan seorang yang memang pantas, aku berusaha dan berdoa, Allah yang memberi dan mengatur semuanya.
spacer

Manusiawi Babagan Ambyar, Sayang dan Kesetiaan



Cipt. Muhammad Naufaldi

Pada intinya, kita manusia hidup berdampingan dengan banyak orang bahkan membentuk relasi-relasi serta kelompok kelompok yang banyak. Menciptakan lingkungan-lingkungan baru terhadap diri manusia-manusia lain.
Tuntunan sudah ada, jalan sudah diatur, namun terkadang kita lupa sebagai manusia. Hak yang dimiliki adalah mutlak tak bisa diganggu gugat, bahkan seperti keyakinan saja itu sudah di atur. Apalagi soal percintaan yang rumit, bikin pusing kepala.
Menjelang pagi, dari malam yang gelap masih saja tertunduk lemah aku di balik jendela yang akanku buka untuk segera menikmati fajar pagi itu. Di dendangkan lagu indie pagi itu membuat rasa malas ku bertambah, setibanya malas itu muncul sebuah benak lakukan secara serentak membuatku bangun belingsatan pagi itu.

"Apa-apaan ini? Pagiku masih lusuh dengan muka bantal?"

Tak kusangka pagi ini sudah sangat merepotkan hariku, bahkan tak kusangka sudah di telepon oleh dinda yang sengaja membangunkanku. Dalam pikirku masih halu saja, tak mampu melihat kebenaran. Diujung waktu sebelum berangkatku masih saja ku melihat mataku yang halu ini, mampu mendapatkan dia.

Ah, apakah aku se-egois itu ?
Tidak, sebenarnya egois itu bukan kata yang selalu negatif untuk di maknai. Hanya saja, karena streotipe kata egois selalu negatif maka orang akan memaknai itu negatif. Namun, jika kita berpikir lebih positif maka makana negatif tidak akan muncul. Bahkan memunculkan keseimbangan antara positif dan negatif.
Secara ilmiah egois itu berdampak seolah karena kita sendiri, namun aku tidak berpikir seperti itu karena ketika perilaku manusia lain memperlakukan kita secara tidak sesuai. Mungkin saja itu bisa membuat kita menjadi seorang yang egois.

Ditengah perjalanan itu, rasa curiga, rasa cemburu masih saja terasa bahkan tak hilang. Hingga akhirnya memutuskan untuk mengatakan "iya, ini adalah sebuah konsekuensi" itu membuat diriku bertahan dalam kebimbangan yang dia rasakan. Bahkan tak pernah rasa manusiawi ini menjadi alasan untuk mundur, entah dan mengapa itu bisa terjadi. Tapi waktu akan menjelaskan.
Konsekuensi yang dikerjakan apa ??

Menerawang seakan kita tau, tidak semuanya akan abadi. Ikhlas yang ada saat ini adalah pondasi bagaimana hubungan itu berjalan, bahkan proses yang menjadikan kita ikhlas dan banyak makna arti.

Dipertemuan ini, bersama cerita lembaran baru masih saja ku memandang wajahnya. Yang masih menunggu kepastian seorang laki-laki bahkan tak pernah lelah menunggu untuknya. Sedangkan aku hanya mampu melihat matanya yang berbinar menunggu kepastian seorang laki-laki yang dia selalu ceritakan kepadaku. Menghilang tak memberi kabar dan tak memberikan kepastian itu.

Setelah mencapai titik dimana, rasa ini murni tidak mengada-ada. Malah, laki-laki itulah mempermainkan hati perempuan ini dengan mengatakan semua ini hanya "prank" lucunya lagi dia tak merasa atas tindakannya. Itukah yang menjadikan semua lucu ? Tidak itu menyakitkan yang sebenarnya.

Diujung pertemuan itu, secangkir kopi tubruk ala robusta menemani hari bersama dia. Dimana kopi itu telah menjadi saksi, sepahit apa kisah ini? Salah satu part jenis percintaan yang telah lama hilang rasa seketika muncul dengan tiba-tiba. Bahkan, aku hanya menatap matanya, wajahnya, dengan senyuman yang menandakan aku lega. Namun, hati terasa ambyar. Namun, tetap saja disini ada sebuah pesan dimana pesan itu banyak banyak terselip disetiap kalimat. Apapun itu dahulukan kepentingan orang lain, kemudian jangan memaksakan dia yang kamu cintai untuk mencitaimu (kamu boleh berjuang), terus jangan lupakan jalan dirimu sendiri dan jadi dirimu sendiri.
spacer