Candu, Yang Merindukan

Sandaranku menatap ruanganku yang telah rapi, kala malam yang mulai mencekam dingin dengan sedikit rasa pahit dari kopi panas yang menggoda lidah. Lantaran asyik dengan kopi, tak sadarku terbayang memberikan hal yang membuatku termotivasi untuk melaksanakan aktifitas hari ini penuh rasa yang menyenangkan tak kusangka saja bisa menjadi salah satu nikmat terindah.

Segarnya angin pagi, harumnya bunga dari taman kecil dekat beranda rumah, serta terpaan sinar matahari yang mulai muncul menghangatkan tubuhku dikala dingin. Rasa syukur, yang sangat besar dalam keadaan yang benar-benar buyar antara kehidupan percintaan serta kehidupan dunia yang secara fisik dan psikis. Masih tersandar "apakah ini perjalananku? Atau perjalanan kita?" batinku, rasa lelah berjuang yang namun sampai saat ini tak berkurang rasanya masih saja setia menanti yang kalau kata orang "tak pasti" tetapi aku tetap bersyukur dengan adanya sekarang.

Suara-suara berkicau burung berterbangan dengan asyik, memperlihatkan pagi itu akan menemaniku dengan yang sangat indah dan membahagiakan. "Untukmu yang membaca ini, aku harap kamu sadar aku menunggumu" sebuah bait yang ada di puisiku telah menjadi sebuah keusangan lantaran terdiam beberapa hari lalu. Sekarang, tak ada lagi pagi yang menekan diriku karena perasaan yang telah di peras dan ditekan membuat menjadi ikhlas dan mempelajari segala hal yang memungkinkan untuk mengikhlaskan untuk dirinya. Jika, Allah tak memberiku kehadiran dia mungkin sekarang aku tak seperti sekarang ini, kekurangan yang sangat membuat hati dehidrasi dalam pencarianku.

Ikhlash?
Sebuah perasaan yang mewakili hati untuk menyampaikan sebuah rasa yang tak terlihat, tak tersentuh, tak terdengar dan mungkin bisa mustahil untuk dipahami oleh setiap manusia.

Pencarian ini ingin segera aku tuntaskan, segera usai dan berlabuh. Namun, aku yakin tak selamanya ini mudah pasti akan ada rintangan yang telah menanti didepan menunggu sangat lantang berteriak "mari lawan aku!". Masih saja aku terdiam dengan rasa lelahku bergelut dengan perasaan dan otak yang tidak mau sinkron dan bersama jalan sejajar. Bahkan, tak ku sangka bisa memikirkanmu seorang perempuan yang ku nanti dalam penantian yang tak main-main. Sekedar ku ngopi dipagi hari, ada pertengkaran kecil yang membuatku tertawa kecil atas kejadian pagi itu sebelum matahari mengintip muncul malu malu sebenarnya.

Sebuah smartphone yang aku telpon berdering dari seorang yang aku kenal, langsung saja kuangkat.

" Assalamualaikum, gimana mas ?" selalu halus membuatku rindu.
"Sebenarnya tidak ada apa-apa, hanya saja ingin ku menelpon lebih dulu karena beberapa hari lalu kamu chat enggakku bales" dalam keadaan gelap dipagi itu
"Yakin, tidak ada apa-apa ? Jawabnya
"Yakin, tidak ada apa-apa cuma ingin saja kita ngobrol"

Semakin menuju pagi, aku merasa rindu lantaran pertemuan waktu itu hanya sebentar. Bahkan, aku hanya mampu memikirkannya untuk saat ini, hanya dalam doa yang ku layangkan ke langit. Tak ada pertarungan lagi saat menuju pagi, sebab rasa itu hanya aku yang memiliki sebuah optimisme yang ada saat ini. Kugarap semua pekerjaanku dan aktivitasku yang sangat-sangat padat pada pagi yang menjelang siang dengan beribu keinginan seperti manusia pada umumnya. Ingin rasanya berbagi sebuah hal yang menurutku tabu untuk mempertahankan sebuah hubungan yang telah lama ku lupakan hingga akhirnya dia datang merubah segala halnya, hanya berucap dalam hatiku "selamat datang! Terimakasih kehadiranmu merubahku" hingga tak ada yang tersisa dalam hati ini. Semoga yang tersemogakan menjadi salah satu perjuangan tak sia sia.

Share:
spacer

No comments:

Post a Comment