Menjelang
malam hari berada tempat aku berhenti
sebuah kota yang istimewa dengan budaya, keraton, dan suasana kota
yang berbeda,aku masih menunggu setiap
detiknya menikmati senja yang semakin tua untuk terbenam di ufuk barat Kota
Yogyakarta, dengan sejuta harapan yang masih ada dan aku merasa letih sore ini
dengan ditemani kopi yang menjadi salah satu daya kekuatan terbesar selain dia.
Entah mengapa kota ini menjadi sebuah tempat yang selalu aku rindukan, bahkan
sebuah tempat pelarian yang tak pernah marah jika aku sedang mengeluh “sambat”
atas semuanya.
Masih
saja ku duduk disebuah minimarket, mengatakan “hallo apakabar dirimu
ini?”kataku kepada aku. Mengetik segala risau hati, disebuah kertas putih yang
tak pernah menghianati semua hal pada hari ini. Aku masih saja mengatakan
perjalanan ini sangat-sangat harus disyukuri ketika semua teman tadi agak
mengeluh, atas keterlambatan dan tidak dapat mengikuti sebuah sesi kelas
fotografi. Membuatku seakan kasihan melihat dalam keadaanku yang sama-sama merasakan
capek di tengah terik siang kota Yogyakarta. Banyak yang berlalu lalang
didepanku tersenyum ramah dan membuatku malu, tak nampak aktivitas hari ini
yang sungguh melelahkan pagi hingga sore tersusulkan oleh malam, tak tau
malunya aku dengan matahari dan bulan yang tak mengerti soal waktu. Bahkan saja
masih ku disini tak kunjung pulang, berisikan banyak peristiwa dan
penyemangatku yang muncul tiba-tiba di tengah waktu luang yang membuatku
benar-benar merasakan senang dengan kehadirannya yang lama saling menunggu
dalam harap.
“Aku kesel e, sayah” kata seorang teman
kepadaku
‘’aku yo
kesel e sayah, malah ra entuk sesi fotografi” kata seorang teman yang lain
Ya,
memang siang itu sangat terik menyengat tubuh membuat tubuh lelah. Namun aku
sadar bahwa tak selamanya perjuangan kita itu selalu gagal ditengah, banyak
ilmu yang harus kita gali. Tidak memandang apapun itu ilmu mampu menjadi sebuah
sarana perjuangan dengan penuh drama dan konflik yang seakan-akan tak kelar
pada waktu itu membuatku menjadi salah satu kegelisahan sendiri, apakah ilmu
itu akan menjadi sebuah bekal ku esok ? atau malah menjadikan ku sebagai
boomerang untukku? Tak ingin aku merasa segalanya salah kepadaku, namun aku
masih tetapi memikirkannya sampai detik ini. Berjalannya sore ini, aku masih
duduk bersama diriku sendiri tidak ada rasa sepi, tidak ada rasa khawatir.
Namun kelelahan yang aku rasakan, tak apa ketika ada seorang barista menanyakan
dan menyodorkan menu kopi yang ada di situ, ku pesan lagi sebuah kopi untuk
menemani malam yang akan ku lalui diperjalananku
setelah ini dari Yogyakarta-Magelang penuh dengan rasa senang dan cinta. Banyak
sekali hal yang membuatku terbuka untuk menjadi orang yang baik.
Bau “Baking” yang sangat menggodaku hingga memanggil orang untuk segera membelinya. Hingga selesai ku mengopi di tempat itu, aku merasa bersyukur mampu merasakan hal yang berubah dalam diriku lantaran aku tak mampu mengungkapkan segala rasa hari ini, dari mulai perjalanan yang melelahkan hingga bertemu sang pujaan hati “cieeeee, pujaan hati” yah seperti itu lah pokoknya. Dan tak kusangka mampu menjadi hal yang sangat sangat beruntung, dan merupakan salah satu keputusan yang tak pernah ku lupakan. Karena ku yakin bahwa Allah telah merealisasikan rencana yang bisa membuat kita tercengang hingga berpikir berkali-kali, tak hanya itu manusia belajar untuk berusaha dan meniatkan segela rencana yang telah dipikirkan.
No comments:
Post a Comment