Sekedar Ngopi Ning Dalan

Perjalanan waktu yang menghajarku sore ini, sudah cukup membuatku lelah, bahkan babak belur tak karuan lantaran rinduku yang sekarang menjadi tak bertuan malah menjadikanku resah akan sebuah kehilangan. Masih dengan suasana yang sedikit tidak mengenakan hati, aku mulai duduk di beranda rumah menikmati sore dengan harum kopi hitam yang pekat dengan ampas-ampas seakan membuatku begairah sore itu untuk dinikmati olehku. Sebenarnya, aku ini adalah penggila kopi bahkan bisa dikatakan maniak sekali karena kebiasaan dengan slogan "tidak ngopi, inspirasi belum bisa muncul" seperti itu menjadikan semua hal yang berkaitan dengan perjalanan waktu yang berakhir di sore menuju senja langit senja menemani diri ini yang sedang diam menikmati kopi dan senja.

Tak kusangka ‘’telah lama tak kurasakan, sebuah rasa yang benar-benar membuatku seperti ini. Seakan tidak bisa aku jelaskan bagaimana perasaan itu" dalam batinku yang mulai sedikit hampa dengan harapan tetap sama, mencintai dan menyayangi dia yang tidak pernah merubah perasaanku. Dia yang hadir membukakan buku lembaran baru dengan menuliskan tinta yang ada di pena itu, telah membuatku merasakan seakan "apakah ini akan menjadi sebuah perjalanan yang memilik cerita yang luar biasa atau hanya sebatas formalitas yang akhirnya menimbulkan rasa sakit antara kita." Hanya saja tetap belum tahu kenapa rasa ini tetap bertahan hingga sekarang bahkan benar-benar tak berkurang sepeser-pun.

Apakah keikhlasan itu ?
Kamu telah melaksanakan segala kewajibanmu. Namun, pejuang seperti halnya sebab-akibat dimana semua itu terjadi maka akan ada konsekuensi yang didapat. Dimana kita mampu menyerahkan akan segala jiwa dan raga untuk mengejar hati seorang atau mempertahankan sebuah perasaan tanpa meminta imbalan kembali. Seakan-akan ketulusanlah yang membuat kita memahami tentang arti keikhlasan.

Sore yang menjingga menjelang senja, telah menemani soreku yang tak merubah segala hal apapun itu. Masih saja ku nikmati kopi hitam yang sudah dihidangkan yang kemudian membuatku berpikir "Seharusnya kita bisa menghargai sebuah perasaan dengan jujur, mencoba untuk mengerti dan memahami setiap insan yang ada", tetap saja aku berpikir bahwa itu benar-benar tidak mudah dalam realisasinya. Tak kusangka hari yang sebenarnya menyenangkan ternyata ada hal yang sedikit tidak mengenakan. 

" mas mikirke nopo kok mung meneng wae ting mriki??"
"Lah, biasa tok dek maskan nek sore senengan e gawe kopi kongko ning kene."
"Tapi biasane moco-moco iki tumben banget ora gowo bacaan sing di gawe wingi"
"Wah, iyo dek lagi ora mood buka buku kuwi pingin leleren dhisik."
"Owalah, ngono mas? Iki meneng ki mikir ke niku opo enten sing liyane?"
"Ah, yo ngono iku"

Disela-sela kopi dan tiba adikku yang dari dalam rumah membuatku sedikit terkejut saja, namun aku masih saja menikmati kopi sembari memikirkan apa yang harus ku lakukan. Aku nikmati kopi hingga benar benar habis dan mulai ku tinggal segala kegiatanku di beranda rumah lantaran waktu maghrib udah memanggil, lantas ku ambil air wuxhu dan segera menuju ke masjid dekat rumah. Ku berjalan kaki, namun hati dan pikiran ku tetap tidak bisa menjadi tenang. Merasakan bahwa khawatir saja dengan apa yang akan terjadi dengan segala hal yang berhubungan dengan hati, hingga saat ini tetap tak mampu saja aku melihat keadaan secara batinku. Banyak terdiam, bahkan tidak berkata  kepada orang lain hanya merenung terus menerus diperjalanan itu dengan harapan dapat tenang setelah sholat maghrib. 

Malam datang dengan cepat, tak diundang bahkan tak menyapaku. Seakan terlihat sombong, dibalik tetap rasa syukur yang selalu ku lantunkan dalam doaku agar mendapat yang terbaik dan selalu meyakini atas keputusanku ini. Sudah lama diam dalam perjuangan yang tak bertumpahkan darah, seakan masih harus menutup luka agar tak terlihat menyedihkan. 

"Apakah, ini menjadi salah satu jalan yang harus aku lakukan dari andil tugas mempertahankan sebuah perkataan hati yang saat ini sedang terluka?" pikirku yang sedang berjalan menuju rumah.
Tak kusangka saja sekian panjang hari yang terlewati hingga tak ada sisa-sisa kepercayaan ini, seakan aku hanya menerima dan mendapat konsekuensi sebagai sisa-sisa yang tak di ikhlaskan.  Masih saja berharap namun sudah tak mampu untuk mengharap lagi, lantaran "untuk apa ?" hanya akan melelahkan diriku. Akhirnya tetap saja bagaimana perjuanganku hingga mampu menemukan seorang yang akhirnya tetap saja, sebagaimana manusia adalah makhluk-Nya yang bisa mencintai dan menyayangi makhluk-Nya yang lain jadi tetap saja bagaimanapun itu tetap saja sebagai makhluk-Nya kita masih diberikan kasih sayang oleh-Nya dengan dibolak balikan hatiku ini. Kunci dari semuanya adalah ikhlas dan ikhlaslah yang memberi kita kekuatan dan ketulusan hati yang bersih sebagai manusia.

Share:
spacer