Tak kusangka
‘’telah lama tak kurasakan, sebuah rasa yang benar-benar membuatku
seperti ini. Seakan tidak bisa aku jelaskan bagaimana perasaan itu"
dalam batinku yang mulai sedikit hampa dengan harapan tetap sama,
mencintai dan menyayangi dia yang tidak pernah merubah perasaanku. Dia
yang hadir membukakan buku lembaran baru dengan menuliskan tinta yang
ada di pena itu, telah membuatku merasakan seakan "apakah ini akan
menjadi sebuah perjalanan yang memilik cerita yang luar biasa atau hanya
sebatas formalitas yang akhirnya menimbulkan rasa sakit antara kita."
Hanya saja tetap belum tahu kenapa rasa ini tetap bertahan hingga
sekarang bahkan benar-benar tak berkurang sepeser-pun.
Apakah keikhlasan itu ?
Kamu telah melaksanakan segala kewajibanmu. Namun, pejuang seperti halnya sebab-akibat dimana semua itu terjadi maka akan ada konsekuensi yang didapat. Dimana kita mampu menyerahkan akan segala jiwa dan raga untuk mengejar hati seorang atau mempertahankan sebuah perasaan tanpa meminta imbalan kembali. Seakan-akan ketulusanlah yang membuat kita memahami tentang arti keikhlasan.
Kamu telah melaksanakan segala kewajibanmu. Namun, pejuang seperti halnya sebab-akibat dimana semua itu terjadi maka akan ada konsekuensi yang didapat. Dimana kita mampu menyerahkan akan segala jiwa dan raga untuk mengejar hati seorang atau mempertahankan sebuah perasaan tanpa meminta imbalan kembali. Seakan-akan ketulusanlah yang membuat kita memahami tentang arti keikhlasan.
Sore
yang menjingga menjelang senja, telah menemani soreku yang tak merubah
segala hal apapun itu. Masih saja ku nikmati kopi hitam yang sudah
dihidangkan yang kemudian membuatku berpikir "Seharusnya kita bisa
menghargai sebuah perasaan dengan jujur, mencoba untuk mengerti dan
memahami setiap insan yang ada", tetap saja aku berpikir bahwa itu
benar-benar tidak mudah dalam realisasinya. Tak kusangka hari yang
sebenarnya menyenangkan ternyata ada hal yang sedikit tidak mengenakan.
" mas mikirke nopo kok mung meneng wae ting mriki??"
"Lah, biasa tok dek maskan nek sore senengan e gawe kopi kongko ning kene."
"Tapi biasane moco-moco iki tumben banget ora gowo bacaan sing di gawe wingi"
"Wah, iyo dek lagi ora mood buka buku kuwi pingin leleren dhisik."
"Owalah, ngono mas? Iki meneng ki mikir ke niku opo enten sing liyane?"
"Ah, yo ngono iku"
"Lah, biasa tok dek maskan nek sore senengan e gawe kopi kongko ning kene."
"Tapi biasane moco-moco iki tumben banget ora gowo bacaan sing di gawe wingi"
"Wah, iyo dek lagi ora mood buka buku kuwi pingin leleren dhisik."
"Owalah, ngono mas? Iki meneng ki mikir ke niku opo enten sing liyane?"
"Ah, yo ngono iku"
Disela-sela
kopi dan tiba adikku yang dari dalam rumah membuatku sedikit terkejut
saja, namun aku masih saja menikmati kopi sembari memikirkan apa yang
harus ku lakukan. Aku nikmati kopi hingga benar benar habis dan mulai ku
tinggal segala kegiatanku di beranda rumah lantaran waktu maghrib udah
memanggil, lantas ku ambil air wuxhu dan segera menuju ke masjid dekat
rumah. Ku berjalan kaki, namun hati dan pikiran ku tetap tidak bisa
menjadi tenang. Merasakan bahwa khawatir saja dengan apa yang akan
terjadi dengan segala hal yang berhubungan dengan hati, hingga saat ini
tetap tak mampu saja aku melihat keadaan secara batinku. Banyak terdiam,
bahkan tidak berkata kepada orang lain hanya merenung terus menerus
diperjalanan itu dengan harapan dapat tenang setelah sholat maghrib.
Malam
datang dengan cepat, tak diundang bahkan tak menyapaku. Seakan terlihat
sombong, dibalik tetap rasa syukur yang selalu ku lantunkan dalam doaku
agar mendapat yang terbaik dan selalu meyakini atas keputusanku ini.
Sudah lama diam dalam perjuangan yang tak bertumpahkan darah, seakan
masih harus menutup luka agar tak terlihat menyedihkan.
"Apakah,
ini menjadi salah satu jalan yang harus aku lakukan dari andil tugas
mempertahankan sebuah perkataan hati yang saat ini sedang terluka?"
pikirku yang sedang berjalan menuju rumah.
Tak
kusangka saja sekian panjang hari yang terlewati hingga tak ada
sisa-sisa kepercayaan ini, seakan aku hanya menerima dan mendapat
konsekuensi sebagai sisa-sisa yang tak di ikhlaskan. Masih saja
berharap namun sudah tak mampu untuk mengharap lagi, lantaran "untuk apa
?" hanya akan melelahkan diriku. Akhirnya tetap saja bagaimana
perjuanganku hingga mampu menemukan seorang yang akhirnya tetap saja,
sebagaimana manusia adalah makhluk-Nya yang bisa mencintai dan
menyayangi makhluk-Nya yang lain jadi tetap saja bagaimanapun itu tetap
saja sebagai makhluk-Nya kita masih diberikan kasih sayang oleh-Nya
dengan dibolak balikan hatiku ini. Kunci dari semuanya adalah ikhlas dan
ikhlaslah yang memberi kita kekuatan dan ketulusan hati yang bersih
sebagai manusia.