Mendekatlah



Cipt: Muhammad Naufaldi

"Bangun", alam bawah sadarku menghentakku
Perlahan-lahan, kubuka mata dalam hening pagi
Merenungi, kerinduan akan rumah
Yang menaungiku, memelukku hangat

Belum juga sang surya muncul
Kerinduan yang mendalam terhadap rumah
Rasa kebingungan di rantau
Namun, aku harus menjadi sukses, benakku bicara

 "Sio Mama"
Lagu kerinduan terhadap rumah
Rumah yang tidak ada dua-nya
Yang tak pernah akan lupa tentang kenangannya

Semoga waktu, mengajarkan kesabaran
Hingga kesabaran mampu menjadi obat
Obat-obat kerinduan yang semakin merajuk
Alam dan Gusti akan memeluk-mu erat
Merangkul dalam resah-mu
Dalam doa yang semakin riuh
Di dalam sambutan shubuh
Dan burung-burung berkicau bersahut riuh
spacer

Untitled: Malam, tidurlah!


Cipt: Muhammad Naufaldi

Hening malam
Tak kunjung temui-mu
Alam, memantau-ku
Menatap iba dalam pencarian-ku

Lelah, sangat melelahkan
Tak kunjung malam tidur, dalam lelap-ku
Menyaksikan, insan yang terluka
Dan berjuang bertemu pujaan-nya

Akankah pujaanku dipertemukan ?
Atau hanya lara yang terlahir?
Akan kuceritakan kepada malam
Kepada alam-alam yang memeluk

Alunan-alunan itu
Suara merdu gitar malam ini, 
Meleburkan segala lara
Menghancurkan dan menghantam pedih

Ingin, inginku juga bahagia
Namun, tidak untuk sendiri
Menangislah hati ini, lara!
Diam dalam naungan malam

Yang memberhentikan waktu
Menutup mata-ku
Dengan mimpi, untuk mengobatiku
Hati yang lara!

Malam, tidurlah!
Kau berusaha tenangkanku
Aku mampu lupakan dia
Jika, tak mampu biarkan daku
Istirahatkan hati.
spacer

Amarah


Cipt. Muhammad Naufaldi

Sebuah rasa yang sudah lama diam
Tak, kunjung terobati
Telah lama daku menahan diam
Namun, disakiti 

Daku ini salah apa Gusti ?
Manusia, hamba-Mu ini
Sudah bosan dengan hidup seperti ini
Seakan kebebasanku terenggut

Akankah ada langit untuk bernaung
Atau mungkin akan ku kubur lebih dalam
Meningkatkan rasangan otak 
Naik pitam, dalam diri

Orang-orang tak pernah tau
Tak pernah tau, soal masalah ini
Setiap raga berhenti
Maka, akan ada maaf dan rasa kehilangan


spacer

Keheningan Malam Obat Hati

Sudah mendekati larut malam, ditambah nuansa hujan dan juga hening yang ada dilingkungan ini membuatku merasa sedikit tenang. Yah, lantaran sudah bertemu dengan sang pujaan hati yang baru saja bisa bertemu. Mulai kunikmati setiap gerak-gerik dedaunan dibawah hujan berteman dengan kopi panas yang sedikit menggodaku. Tidak kusangka baru saja banyak aku berbicara dengan dia, mengobati segenap rasa rindu yang terbatas oleh kuliah. Namun, aku tidak menyalahkan kuliah menjadi pembatas lho ya! tetapi aku berbicara soal kuliah itu salah satu yang penting, tetapi ada yang lain juga yang penting juga begitu. Malam yang biasa saja sebenarnya menjadi spesial kek "martabak manis" lantaran aku menemukan selfhealing dan obat hati yang sempat merusakku beberapa bulan yang lalu. Hujan tak kunjung berhenti menghipnotis setiap insan agar tidak keluar dari rumah malam ini, namun kujemput dia malam ini bertemu dan berbicara tentang banyak hal.

"Hey" sapaan dia halus lembut
"Arep nangdhi mas ??"Lanjutnya..
"Yo, teko mlaku sek koyo biasa"jawabku, biasa sambil senyumanku katanya gemesin begitu.
"Tapi kok iki udan ki dek, piye ?"jawabku ditengah kekhawatiran yang sedikit bingung juga
"Terserah, mas"

Ya, karena dia bilang "Sekarep-mu mas." ku ajak saja ke cafe yang tidak terlalu luas tetapi kenyamanan dan keamanan selalu terjaga  yang pasti tetaplah ketutup dari hujan. Sedikit canggung ketika awal mengobrolkan tentang hal-hal yang berhubungan dengan atau soal pacaran begitu, membahas kenangan yang telah lalu dalam hidupnya dan itu merupakan salah satu bentuk kepercayaan setiap orang kepada kekasihnya. kenangan-kenangan itu mengobati setiap laraku dan lelahku hari ini malam yang akan segera berujung menuju pagi pasti ada sebuah harapan-harapan baru yang akan muncul aku hanya harus "yakin" soal itu.

Kenangan, adalah bentuk sebuah ingatan yang bisa menancap dalam pikiran maupun hati. Menimbulkan perdebatan antara otak dan hati, karena terkadang tidak sinkron dan harus berjalan sendiri-sendiri menimbulkan luka untuk diri sendiri. Terpenting adalah tanpa kenangan kita tak akan mampu berdiri tegar dan kuat seperti sekarang ini, terapalagi bab percintaan yang tak kunjung berlabuh dan bersama.

Percakapan yang tak kunjung ingin kuselesaikan dikarenakan masih ada rindu yang tersisa, tapi waktu malam dan hujan menjadikan kemungkinan ini tertutup untuk segera menceritakan banyak hal lagi. Masih kuingat sorot tatap matanya, senyumnya, dan tertawanya menimbulkan kebahagiaan tersedenri menjadikan self healingku disetiap jenuh dan resahku. riuhnya kendaraan yang lalu lalang tak mengijinkanku diam saja memberikanku kesempatan untuk sering berbicara dengan dia, dan turunnya hujan menjadi rasa bersyukur ketika waktu tak segera menjawabku ada sebuah keyakinan aku akan memilikinya dalam ikatan yang lebih serius. Malam akan segera habis sesaat lagi, menemani setiap detak jantungku dan nafasku. Keheningan malam membawakan-ku secangkir obat penghilang dahaga dan obat penawar hati yang tersakiti, memberikan pelajara soal percintaan yang baru dan ku yakini ingin alam merestui hubunganku "SEMOGA KITA BERJODOH!"harapku dalam teriakan hati kecil. dan semoga kita bisa tetap berakhir pada muara dan pelabuhan kita.

Jangankan soal patah hati, kita memiliki hati yang dipatahkan untuk melatih kesabaran dan emosi kita. Cinta bukan soal menyayangi saja, tapi soal hal-hal yang kita tak pernah pelajari bahkan mampu membuat kita mengerti hal-hal yang baru, bahkan kenangan adalah sebuah ujianmu untuk melalui itu. Hujan saja tau cara pengertian, sebagai manusiapun kita seharusnya bisa selama kita yakin pasti bisa.
spacer

Tercekik



Cipt: Muhammad Naufaldi

Sedih memang, celah-celah itu
Terbuka oleh orang-orang yang menutup telinga
Menutup mata, 
Tanpa melihat nasib orang lain

Langkah tegap, persiapan investasi lebih baik
Namun, nafsu tatkala sudah menghancurkan akal pikir
Penghancuran alam segera akan terjadi, jika kebijakan itu berlaku 
Hingga tak ada sisa untuk kami bernapas

Menghancurkan setiap kehidupan
Pencemaran dimana-mana
Alam-pun sekarat hingga tak berbicara
Perlahan, menggoncangkan tanah air

Alamku, Alammu, Alam kita semua
Ia sudah seperti ibu kita
Durhaka sekali, orang yang menutup mata dan telinga itu
Kepada ia yang telah melahirkan, menaungi kita
Banyak yang tercekik
Hingga tanah sudah tak sudi untuk diinjak
Alam semesta memandang dingin
Perlahan diam diujung kematian, dan detak yang melambat

Dan semoga mereka tak dikutuk oleh Gusti dan Alam tidak mengutuk kalian.

Dan pesan-pesan ini perlahan kusampaikan. Jangan hancur, bersama kita berjuang
Menghancurkan yang bersalah, memperbaiki yang benar. tatkala mereka.


spacer

Arti Juang dan Perjuangan



Cipt: Muhammad Naufaldi

Lelah, siang ini
Tak kunjungku temukan pencarianku
Keresahan dan kekhawatiranku
Akan sebuah jawaban yang tak kunjung ku temui

Perjuangan
Sebuah kata yang mudah disebut
Tak mudah, namun
Menderita agar bahagia

Kulihat dalam-dalam
Seberapa luka selongsong peluru
Yang menembus tubuhku 
hingga merobek beberapa kulitku

Ada rasa panas, kepedihan yang mendalam, 
atau darah yang tak kunjung behenti
Masih saja aku berjuang, memerdekakan diri
Dalam setiap peperangan

Tatkala aku dengar sebuah riuh peluru melesat
Menghancurkan setiap tembok-tembok kokoh
Tatkala aku melihat hati yang takut
Inilah sebuah perjuangan

Aku bukan manusia sempurna
Aku berusaha menjadi lebih baik
Tetapi, aku tak menemukan jawaban dalam hal ini
Menghancur, menggerogoti setiap saat
Semakin, sekarat tak kunjung tertutup

Magelang, 17 Februari 2020

spacer

Resah, Hancur, dan Mendung



Cipt: Muhammad Naufaldi

Lagi-lagi dan lagi
Sebuah pukulan mendarat tempat dihati
Menghancurkan segala hal yang tak akan kembali lagi
Mungkin, itu adalah arti patah hati

Namun, kembali lagi
Usahapun tak ada hasil
Bahkan, dalam diam "biar tahu" kataku
Memang, arti cemburu itu tidak menentu

Gusti, akankah?
Saya menjadi pemuja yang tidak sehat?
Menjadi seorang yang cemburu dalam hal ini
Ampunilah, segala rasa dan tubuh ini

Tak satupun
Manusia yang diam itu adalah terkuat
Atau dalam langkah yang tidak terdengar
Menembus setiap, rintik hujan

Gusti, Akankah ?
Aku menjadi seorang yang dimata-Mu adalah baik
Aku hamba-Mu yang tak punya rasa ingin kembali
Tetapi tak ada rasa yang bersembunyi 

Awan mendung ?
Itu sudah pertanda baik dalam hati
Untuk apa aku marah ?
Siapa dia yang tak tahu tentangku

Langkah-langkah, kupercayakan
Kepada-Mu Gusti
Rasa percaya, atau hanya sebatas percaya dalam dusta
Aku berserah kepada-Mu

Hati tak segan lagi
Namun, Lara yang datang kembali
Membunuh setiap syaraf akal
Dan memberhentikan waktu lebih lama dan kekal

Tak sering
Tak akan lagi sering
Melibatkan ini tanpa-Mu Gusti
Kututup hasrat dan telinga
Kututup mata dan air mataku
Dikala raga tersenyum
Dikala hati hancur
Yakinkan diriku, aku cukup mampu dengan ini

Maaf, sekali lagi maaf
Aku tak punya hak dalam diamku ini
Namun, ku yakinkan ini rasa sayang bukan untuk permainan belaka
Atau hanya sekali pakai.
spacer

Kadung Cinta: Untuk Dikau Adinda

Cipt: Muhammad Naufaldi

Heningnya pagi ini
Meringkusku dalam kesendirian
Yang merindu pada diri-mu
Dalam sudut kamar ini.

Banyak yang berlalu
Lelah yang berganti dengan harapan
Saling menguatkan
Agar berujung indah

Masih, terlalu pagi
Kalam ini, mungkin salah satu maafku
Menghening dalam keriuhan lalu lalang
Merindukan-mu ciptaan-Nya yang istimewa

Kau tau adinda, Cinta tidak lebih dekat
Rindu tak lebih dari jauh
Segala yang telah melekat
Darimu seutuhnya-utuh

Akupun melantunkan rindu
Memohon kepada Gusti
Sampaikan rasa maaf ini
Semoga ini menjadi obat hatimu
spacer

Terlelap Terbit


Cipt. Muhammad Naufaldi

Kau tahu betapa aku mengaggumimu ?
Mengaggumi sisi indahmu dari sisi gelapku
Bahkan, hanya terpendam dalam diam
Yang tak mampu mengungkapkannya

Ku tahu ini terlalu pagi
Namun, aku selalu merindu ditengah hening
Mengasah kuat, memekarkan sabar
Penantian yang tak kunjung usai

Aku tak ingin berkhayal dengan kekosongan fantasi
Tetapi, ingin nyata yang ada
Aku ingin sebuah rasa
Namun, asa tak bisa terpaksa

Aku tahu, bisa saja aku gila
Kepalang cinta yang tak kunjung bertemu
Atau saja aku terlalu payah
Dalam mengungkapkan rasa hati yang ada

Dik, untukmu aku tak mampu
Tak mampu menahan rasa, bantu aku ungkapkan
Untuk lagi, menutup lara lama
Lara yang tak kunjung kau obati
spacer