Belajar Rela Dari Seekor Elang Timur



Oleh. Muhammad Naufaldi

Berdiri diantara gelap malam
Memikirkan setiap rasa yang kini semakin muram
Tidak nampak jelas dan merajam
Hingga nanti tampak mentari muncul dari timur menerkam

Elang yang mengepakan sayapnya
Mengarungi jarak yang tak terhitung olehnya
Hingga ia harus mematahkan paruh tajam
dan menggantikannya yang baru 

Ia telah jauh berkelana
Mencari tempat untuk kembali dan memeluk dia
Jika timur menjadi tujuannya
Harapan akan barat akan kehidupan baru untuk mereka

Kerelaan yang sangat menyakitkan pelajaran dari elang
Paruh yang tajam, bulu yang akan berganti ia cabut sendiri
Kedinginan dan melawan cuaca yang menusuk lebih kejam
Iapun bertahan untuk mencari sang pasangan

spacer

Dua Kata Yang Hampa

Oleh. Muhammad Naufaldi

Sejenak aku memandangi titik-titik kota
Menatap sayu akan lelah perjuangan pujangga
Syair-syair yang sudah tercatat tinta
Mampu mengurangi rasa pedih yang tercipta

Kata-kata hampa
Selagi kau mampu mencinta
Seharusnya aku mampu merindu
Tanpa adanya batasan untuk rindu padamu

Ketika mentari berganti temaram
Kau seakan lupa akan cinta yang berujung muram
Menciptakan beribu bekas lara
Yang menyiksa dalam dekapan panah asmara

Semua kata-kata itu kau buat indah
Seakan langit dan bumi menjadi hiasan kata yang membuahkan perih
Ahh-ha-ha... Sunggu menanti bukanlah hal yang tepat lagi
Malahan siksa batin ini menjadi-jadi dan mematikan diri

Magelang, 15 November 2020

spacer

Selusin Rindu

Oleh Muhammad Naufaldi

Genggaman itu, membekas akan telapak ini
Sungguh heran, malam terasa semakin sunyi
Selusin rindu, menghantam melalui dingin malam
Menutup hari, kunjung dalam ruang yang muram

Manisku, sedikit gula kutambahkan diantara kopi dan susu
Setertarik hati, diamku riuh dalam doa untukmu
Begitu rindu aku, dalam lusinan rindu
Menumpuk kuat dalam dingin malamku

Sejenak susah hati, bahagia hadir
Ketika kuingat, benak senyummu manis membuatku berdebar
Diantara doa untukmu dan panjatan kepada Tuhan
Segala rasa, meresap dalam hati dan alam kesadaran

Manisku, jangan bersedih akan rindu
Sungguh tatkala pagi datang, menjelmalah riuh doaku menjadi bahagiamu
Iringi langkahmu, dalam raga yang berjuang
Mengarungi setiap aksara rindu yang teguh seperti karang.

Magelang, 21 September 2020
spacer

Elegi Rindu

source: pixabay

Oleh. Muhammad Naufaldi

Lelahku telah berakhir
Dalam sebuah rasa tak berarti dan terpinggir
Menjamah hati yang telah lama berhenti, menyepi
Terangkak keluar batin menunjukan diri mencari

Memulai dalam kerinduan yang cukup
Menepi jatuh dan menghilang rasa terlungkup
Rengkuh-rengkuh tanganku yang menutup
Tak mampu menjadi sebuah cerita yang terungkap

Elegi menyambut sedikit menenangkan luka hati
Menerpa dengan sejenak kehangatan yang dicari
Terakhir dan mengakhir bukan lagi dalam tabu yang tak bertuan
Seruan-seruang untuk mundur dalam sangkala terompet peperangan

Akankah sebuah detakan jantung merubah alur waktu
Yang tak pernah tahu kapan pemberhentian itu
Rindu yang menjelma dalam riuh doa-doa sepertiga malam
Menjadi saksi keatas dalam lindungan gusti yang hanya diketahui oleh alam
spacer

Perindu Puan Dalam Hujan


Oleh. Muhammad Naufaldi

Setelah jarak yang aku lawan menghilang
Terjangan derasnya alur kehidupan 
Semenit, dua menit
Merasa cumbu menggoda

Sejalan yang kulalui, sendiri
Setapak dan licin oleh hujan kala itu
Bangkit, semerbak harum mawar dalam hati
Ah, kasih olehmu aku rindu

Lelangitan berteduh, oleh alam
Langkah yang ragu dalam diam
Mencoba kembali tuk mengejar suara detak
Jantung yang kencang berdetak

Hutan hujan dan lembah dingin ini
Menjadi saksi akan mencari dirimu, t'lah kulalui
Laju waktu, hantaman jarak, tak kuhiraukan
Hanya dikau kasih, kumenanti dalam keras arus tetapku menahan
spacer

Puisi Dini Hari: Untuk Perempuan Yang Sedang Hancur Hatinya


Oleh. Muhammad Naufaldi

"Untuk Perempuan Yang Sedang Hancur Hatinya"

Darahku cepat terpompa keotak

Panas dingin raga tersontak

Hati terasa lemah berantak

Tak sekalipun berkata "tidak!"


Pedih, sekali lagi pedih!

Telah kubuka hati, akhir luka dan lungkrah

Sejenak mata menutup, elu pilu menetes

Disaksikan jam berdetak, untuknya terlepas



Lelaki, lelaki itu

Ingatan dalam gelap, merasuki dalam benakku

Membelah, terbelah hati terbagi dan hilang

Menyusup terbawa angin, terdiam ia terbang


Mengalir sejenak dalam pilu

Lekas sudah makna cinta dewasakanku

Purna, purna dan tertutuplah hati

Bermuara, pada labuh terakhir oleh kesembuhan hatiku

Magelang, 2020
spacer

Jakarta



Oleh. Muhammad Naufaldi

Detik, menitik hatiku
Merasuk jam-jam, kerasnya tuan bertahan hidup
Menarik ulur setiap perasaan, hingga lupa rangka manusianya
Tertuduk malu dalam tawa sang surya

Menyesatkan pikir, riuh kotamu yang menghancurkan hati
Tak akan pernah ku lupa sebuah bidikan rasa yang tak sampai
Sungguh derita dan menderita hati
Untuk rasa suci sebuah kisah mencintai

Kasih dan menyayangi
Hanya sebuah kefanaan berujung mati
Raut hati yang mulai resah dan kalut ini
Menghantam beribu batin, menangis


Magelang, 04 Juni 2020
spacer

Amore e Roma

Oleh. Muhammad Naufaldi

-Pioggia nella città di Roma


Sepucuk surat telah tiba, ditengah hujan
Disuatu tempat dalam kehidupan
Persimpangan jalan itu, yang telah basah
Sekarang menjadi saksi sebuah kisah

Kisah cinta, berawal di Roma
Penuh kasih dan sayang merajut cinta

Memerah dalam lengkung senyummu
Aku berluntut pada Gusti, dalam rasa syukurku

Kau hadir, menyapa hati tak berpuan
Cukup menghangatkan rasa dan raga yang t'lah lama terasingkan

2020

-Pantheon Street
Kulihat lagi senyummu mengembang
Seperti roti yang berada di toko itu,
Cukup menggoda rasa khilfaku, dalam cinta disudut jalan pantheon street
Hening, dan cukup mengairahkan rasaku

Kalbuku menjerit, selalu ingin bersamamu
Angin seketika berdesis, melalui sela-sela sempit dan kecil itu

Aku jatuh cinta padamu, dalam senandung langit biru

2019

spacer

Puisi Dini Hari: Ti Amor


Oleh. Muhammad Naufaldi

Ti Amare

Jika saja pagiku, harus berpangku dengan puisi ini
Mungkin langit akan selalu tersenyum, melihat dan riuh berdoa kepada gusti
Dibalut rasa riang, membuatku tak pernah menyesal memiliki-mu, puan.

-Torre pendente

Menusuk rasuk cuaca putih basah dan dingin
Sunyi kepada malam, aku ingin berpesan.
Lirih dalam dasar hati, bergemalah isi hatiku
Getaran jantung yang melambat dengan desis halus angin yang laju

Membawa pesan, tertiup bergulung menuju penjuru kota
Menghantarkan sajak puisi dari dalam hatiku bermula
Berujung pada jalan bersimpang, terbuatnya rencana
Bertemu disudut Torre Pendente yang menjadi saksi kita

spacer

Asmaraloka


Oleh. Muhammad Naufaldi

Dalam haluan angin, suara burung berkicauan
Merdu dalam, senandung rindu keinginan
Keinginan bertemu dalam sukmaku menuntun
Mencari sebuah muara untuk bertemu dalam balut kerinduan

Masa-masa yang semakin pagi, memanjakan dengan kesejukan dalam hati
Memantik rasa, memeluku dalam kalbu yang akan terbit kembali
Sebuah bahtera hati, yang tlah lama menanti
Untuk berlabuh, dan membawamu pergi

Semakin pagi rasa ini terjaga, semakin rindu tak mampu tersampaikan
Suara riuh malam yang bertabur bintang menghiasi perasaan
Dekapan alam, hangat menyapaku dengan fajarnya yang hangat menyongsong diufuk timur, dan berteman embun
Yang tipis menyeka dedaunan, dan menyelimuti hati dengan ketenangan

Tiba kembali hujan menyeka, dan pagi sedikit muram oleh kerinduan
Antara langit dan bumi yang juga sama memadu kasihnya, diantara hening pagi hari memunculkan ketenangan
Ahh, alam selalu membuatku cemburu..
Dengan dekapannya yang erat memelukku hangat didinginnya pagi.


spacer

Riangmu Adalah Bahagiaku


Oleh Muhammad Naufaldi

Dalam riuh hujan, dengan air yang menyeka
Memeluku hangat, dalam rasa yang hampa
Menatap mega dengan muramnya, menyapa
Apakah ini rasaku yang remuk di dalam masa?

Yang setiap malam hadir, kini mulai henti
Terkadang riuh tawa, menjadi hampa sepi
Banyak rindu yang menguap, bersama sudut kamar ini
Dalam hening, kau mampu membuat kegundahan dalam diri

Membuatku, ingin memilikimu
Namun, aku tak mampu
Dalam diri, tiada sesal diriku
Karena, memilikimu adalah sebuah cerita rahasia milik-ku
spacer

Langit dan Lautan


Oleh. Muhammad Naufaldi

Karang nan megah kuat.
Memandangi biru-biru bebercak putih awan dilangit
Ada harapan yang membuat diri kuat
Yaitu sebuah kerinduan yang tak kunjung dapat

Benak karang telah kuat, ingatan tentang langit
Terus memandangi, siang malam tak kunjung tepat
Gusti, melihat karang berjuang
Dalam riuhnya semilir angin, pesan itu datang

Mata hati yang berkilau kilap berlian
Selalu menggoda hanya untuk di maling oleh tangan tak bertanggung jawab
Menyisakan, kembali rasa pedih dan letih
Dalam penantian yang tak pernah temu titik ujung

Laksana langit berkata rindu, karang tahu tak mampu mendapatinya
Namun, Gusti tahu bahwa Karang berjuang keras untuk mencapai langit
Tak ada satupun yang mampu mendapatkan itu, tetapi Gustilah yang menepati
Hubungan kesetiaan tiada tara, bukan jarak dan problematika tanpa penyelesaian
spacer

Malaikat Hujan-ku


Oleh Muhammad Naufaldi

Sang peneduh hati, tiap manusia
Tepat harap-harap itu kau terima
Bahkan tak ada lagi tandingannya
Memberikan segelintir kehidupan akan dahaga ditengah sahara, menetes embun yang menyeka
Tetap dingin dan tenang, hangat yang dengan pelukannya yang tenangkan amarah
Bersama angin ia bergerak, sebagai langkah pasrah dalam kendaraan-nya
Malaikat Hujan-ku
Bertahan dalam kuatnya angin topan, yang siap menyerang.
Dalam pelukan gusti kau menangis, memohon agar sembuhkan lara dari kekalahan
Riuh suara hatinya, doa-doa berterbangan keangkasa.
Menuju, kearah-Nya
Lantas, hatinya kuat menyabar diri
Sosok puan yang selalu sejukan pikiran
Yang halus berbisik, bersama riuhnya hujan yang menyeka
Menetes, dan membasahi bumi
Memberikan harapan kehidupan untuk alam
Seakan hatinya kuat tak mampu lagi yang bisa membukanya
Sudahlah puan, kau kuat hingga tiada ada yang bisa menandingi puan
Dalam, tabahnya, tawakal, hingga riuhnya doa
Ijabah dan ijabah doa itu.

Untukmu puan: Kau yang terkuat, selalu memberikan kekuatan, dan percayalah Gusti memuliakanmu.
spacer

Hujan

Oleh. Muhammad Naufaldi

Hujan datang kembali
Mengundang rasa gelisah lagi
Ditengah dikau yang aku rindukan dalam mimpi malam ini
Aku menunggu ruang berbicara untuk membalas isi hati 

Tuan yang sedang menunggu hati bangkit dalam hujan
Bermain seakan hujan adalah kawan yang paling tak sungkan
Tunjukan raga yang telah rapuh hingga menyongsong kuat sang mentari
Namun, mendung kembali datang dalam kerinduanku yang berujung semu akankah pulih kembali ?

Rerumputan di dekat berada rumah yang sekarang lebat tertetes air yang jatuh untuk menaungi
Akhirnya berbahagia cerita itu dalam sebuah aksara akhir yang tak abadi dalam tulisan ini
Apakah rasa ini bisa datang hanya sementara untukku ? Atau kisah ini akan berakhir dengan luka
Rasa rindu yang menahanku akan rasa sakit, menyelamatkanku dari dunia yang berujung lara

Kuatkan aku yang membutuhkanmu dalam rindangnya pohon ini
Menyapaku, dalam udara yang telah lama menunggu dengan dedaunan yang lembut menari
Jatuh perlahan dalam pangkuan dan perlindungan-Nya
Aku tertunduk malu akan asmara yang tak berbalas oleh puan yang saat ini tak sekalipun menyapa
spacer

Puisi Dini Hari: Perjalanan dan Kenangan

Oleh. Muhammad Naufaldi

Mana lagi petang yang tak kulalui
Sedetikpun kujalani
Menaati setiap keluhan hati
Membiru dengan gelora mati

Perjalan itu
Masih dalam rindu
Mengenal dalam aliran sendu
Hingga menutup mata itu 

Kesetiaan yang rindu akan daku
Keresahan yang menyurut dan pasangkan rasa
Hingga perjalanan ini menjadi saksi
Yang akan terkenang oleh otak ini

Berat, langkahku
Melebamkan setiap batinku
Mengingat sebuah kenangan
Untuk menuju kekedamaian

spacer

Puisi Dini Hari: Ramai, Sekerumunan Sepi

Oleh Muhammad Naufaldi

Secarik larik tak purna
Menyisakan hening akan ada
Menjelma, penghebusan halus udara
Lembut, merasuk kesukma

Sepi
Hingga raga membangkitkan diri
Meringankan pikiran ini
Ditengah muramnya hari

Belum juga terbit surya
Rasa, ini sesakan semua raga
Menjulur hingga paru-paru
Yang tak lagi menjelma, bersahabat dengan rasaku

Sepi
Selagi, aku masih dalam riuh kota ini
Akankah, bertemu ditengah lamunan ini
Ringan, tak berbatas ditengah sekerumunan rasa sepi
spacer

Puisi Dini Hari: Teruntuk Dini



Oleh. Muhammad Naufaldi

Jangankan berpaling menatap langit
Masih saja dalam pijakan bumi dan halusnya rumput
Dini, yang masih berada disana
Dengan senyum manisnya

Mempersiapkan kehangatan
Untuk seseorang yang diinginkan
Mencari dalam renungan doa
Riuh, tak terbatas saja

Lagu-lagu dinyanyikan
Fajar akan jadi saksinya
Lelah dalam pencariannya
Yang tak usai kegelapan

Dini,
Hangat bibirmu, tenang
Menenangkan setenang air mengalir
Hingga, diam-diam penantian terlampaui

Bertemu, dalam keindahan hari
Berulang, dan tak pernah membosankan
Beriku sebuah makna dalam hidup ini
Tak akan pernah, menangis
Dalam tegar yang kuat

Selamat Pagi

Magelang, 11 April 2020

.
spacer

Kala Rindu Menghampiri

 Kala Rindu Menghampiri
 Oleh Muhammad Naufaldi

Pagi, menyambutku
Menghindari selalu kata merindu
Paijo, yang menantang surya paloh
Seakan, dia paling pandai

Petani-petani memanen padi
Hingga merasa tawaku melihat keindahan arti bahagia
Seorang pemuda yang tak kalah bucinnya
Dengan manusia-manusia yang lain-nya

Ku tak tahu, aku bisa merindukan wanita
Tengah, dalam pelukan Gusti yang aman
Hebat cinta menjalinkan
Berjalan tanpa dengan "hadapi bersama"

Keseringan merindu aku ini, dik!
Memikirkan apa yang akan kita lakukan kelak
Canggungkah pertemuan itu nanti
Atau semua begitu mengalir dalam kebahagian
Dan terbaik adalah semoga tuhan memberikanku pelabuhan

Magelang, 10 April 2020

spacer

Katakanlah, Walau Hanya Satu Rasa


Cipt. Muhammad Naufaldi

Selamat pagi sambutan hangat
Kicauan burung bersahutan beterbangan
Menciptakan sebuah kebebasan pagi
Tatkala muncul rasa bersyukur

Kembali dalam riuhnya alam mendoa
Mengembalikan tubuhnya
Yang telah lara, kembali
Untuk segera pulih

Katakanlah!
Walau hanya satu rasa
Pemilik hati yang tak henti berjuang
Berjuang, tawakal dan ikhtiar
Untuk dia yang kau cintai

Katakanlah!
Jika itu menyakitkan
Matahari masih sering memberikanmu semangat
Rasa syukur kepada-Nya yang mengobati
Semua rasa lara dan dendam dalam hati

Katakanlah!
Bahwa, cinta perlu dibuktikan
Agar hubungan tidak selamanya dianggap lelucon
Untuk semua insan yang berada 

Walau hanya satu rasa
Cinta tak bisa berdusta
Dalam diam, ditemani pagi yang hangat
Mencintai dalam riuhnya doa
Yang membukakan hati
spacer

Secarik Rasa Yang Hilang

Cipt: Muhammad Naufaldi

Sebuah renungan dalam rasa
Banyak, asa yang tak terbatas
Melukai, setiap hati yang tak bersalah
Inikah sebuah arti komitmen?

Hilangkan rasa setiap manusia ?
Tuhan tak pernah menghilangkan rasa.
Hanya membolak-balikan hati
Untuk memberimu sebuah evaluasi diri

Begitukah, suasana riuh ini?
Kunikmati, dudukku berdetak saja jantungku
Menunggumu dalam raga yang setengah hilang
Seperti, rasa yang tak kunjung pulih

Akankah, kau menjadi seperti itu ?
Tak tahu malu
Secarik kertas ini kutuliskan segera
Dalam komitmenmu yang berupaya mendapatkanku

Dalam setiap malam
Ku sempatkan memohon pada Gusti
Agar, segerakan aku mendapatkan kepastian itu
seperti dia dan mereka
Yang mempertanggung jawabkan itu
Hanya untuk satu wanita




spacer