Belajar Rela Dari Seekor Elang Timur



Oleh. Muhammad Naufaldi

Berdiri diantara gelap malam
Memikirkan setiap rasa yang kini semakin muram
Tidak nampak jelas dan merajam
Hingga nanti tampak mentari muncul dari timur menerkam

Elang yang mengepakan sayapnya
Mengarungi jarak yang tak terhitung olehnya
Hingga ia harus mematahkan paruh tajam
dan menggantikannya yang baru 

Ia telah jauh berkelana
Mencari tempat untuk kembali dan memeluk dia
Jika timur menjadi tujuannya
Harapan akan barat akan kehidupan baru untuk mereka

Kerelaan yang sangat menyakitkan pelajaran dari elang
Paruh yang tajam, bulu yang akan berganti ia cabut sendiri
Kedinginan dan melawan cuaca yang menusuk lebih kejam
Iapun bertahan untuk mencari sang pasangan

spacer

Puisi Dini Hari: Untuk Perempuan Yang Sedang Hancur Hatinya


Oleh. Muhammad Naufaldi

"Untuk Perempuan Yang Sedang Hancur Hatinya"

Darahku cepat terpompa keotak

Panas dingin raga tersontak

Hati terasa lemah berantak

Tak sekalipun berkata "tidak!"


Pedih, sekali lagi pedih!

Telah kubuka hati, akhir luka dan lungkrah

Sejenak mata menutup, elu pilu menetes

Disaksikan jam berdetak, untuknya terlepas



Lelaki, lelaki itu

Ingatan dalam gelap, merasuki dalam benakku

Membelah, terbelah hati terbagi dan hilang

Menyusup terbawa angin, terdiam ia terbang


Mengalir sejenak dalam pilu

Lekas sudah makna cinta dewasakanku

Purna, purna dan tertutuplah hati

Bermuara, pada labuh terakhir oleh kesembuhan hatiku

Magelang, 2020
spacer

Jakarta



Oleh. Muhammad Naufaldi

Detik, menitik hatiku
Merasuk jam-jam, kerasnya tuan bertahan hidup
Menarik ulur setiap perasaan, hingga lupa rangka manusianya
Tertuduk malu dalam tawa sang surya

Menyesatkan pikir, riuh kotamu yang menghancurkan hati
Tak akan pernah ku lupa sebuah bidikan rasa yang tak sampai
Sungguh derita dan menderita hati
Untuk rasa suci sebuah kisah mencintai

Kasih dan menyayangi
Hanya sebuah kefanaan berujung mati
Raut hati yang mulai resah dan kalut ini
Menghantam beribu batin, menangis


Magelang, 04 Juni 2020
spacer

Bukan Buta Cinta, Aku Hanya Cemburu

Cipt: Muhammad Naufaldi

Bertapa dibawah awan
Kutatap mega yang anggun
Biru-membiru dalam haluan
Membujukku cemburu terbawa angin

Masih adakah hati yang suci ?
Seakan rasa cemburu itu hanya permainan kecil
Menyulutkan api kecil, yang membakar kulit
Tiada rasa bosan, ampuni oleh hati

Ketika ramai adalah rumunan sepi
Maka kita berdua adalah jarak yang saling merindu
Mungkin, kita tak sadar atas raga ini
Yang memecahkan karang dalam hati itu

Gusti, mengapa cemburu itu harus ada ?
Apakah ini sebuah ujian hati dalam sebuah permainan laga?
Jikapun diizinkan aku tak ingin merasakan cemburu ada
Mungkin ini adalah sajak-sajak kecilku yang lara dan membara

Menghidupkan api yang telah lama mati
Namun, tak terbiasa dengan batin yang cemburu
Merisau hingga tidak dapat terperikan melalui bibir ini
Yang mungkin tak mampu tersampaikan ke kamu.

spacer

Untitled: Malam, tidurlah!


Cipt: Muhammad Naufaldi

Hening malam
Tak kunjung temui-mu
Alam, memantau-ku
Menatap iba dalam pencarian-ku

Lelah, sangat melelahkan
Tak kunjung malam tidur, dalam lelap-ku
Menyaksikan, insan yang terluka
Dan berjuang bertemu pujaan-nya

Akankah pujaanku dipertemukan ?
Atau hanya lara yang terlahir?
Akan kuceritakan kepada malam
Kepada alam-alam yang memeluk

Alunan-alunan itu
Suara merdu gitar malam ini, 
Meleburkan segala lara
Menghancurkan dan menghantam pedih

Ingin, inginku juga bahagia
Namun, tidak untuk sendiri
Menangislah hati ini, lara!
Diam dalam naungan malam

Yang memberhentikan waktu
Menutup mata-ku
Dengan mimpi, untuk mengobatiku
Hati yang lara!

Malam, tidurlah!
Kau berusaha tenangkanku
Aku mampu lupakan dia
Jika, tak mampu biarkan daku
Istirahatkan hati.
spacer

Seriuh Hujan, Berpatah Hati

Cipt. Muhammad Naufaldi

Rerintikan disiang hari
Menjelma riuh suara-suara itu
Dalam keberdukaan hati
Yang tercipta oleh lara

Untuk apa kita menangisi hujan ?
Padahal, hujan menangis jua
Cinta sejati seperti apa ?
Seperti angin kencang yang menemani hujan

Seberapa deras air mengalir?
Perdebatan antara gemuruh petir dengan awan mendung
Akankah dingin ini setia menemanimu?
Menemanimu hingga hilang lara

Percayalah, pasti akan ada muncul semberut
Lesung pipi, hangat menemani
Dibalik sebuah rasa, yang membungkam
Untuk dibebaskan, dalam rasa keberdukaan oleh lara
Yang menciptakaan kebetulan dalam kebahagiaan
spacer

Untitled: To Be Come A Cloud

Semakin malam, hening datang
Merobek-robek setengah hatiku
Dalam diam, keresahan ini
Menghukumku dalam larut malam

Menginjak akan pagi
Namun, tak ku sangka
Tusuk belati itu belum juga usai
Tak mampu mematikan rasa

Buat apa puisi ini
Penghibur laraku atau laramu?
Tak perlu khawatir tentangku
Karena aku masih saja disini

Merambahkan kabut hadir
Dingin menyiksa seperti luka bertabur garam
Air mata, sudah tidak mampu menetes dalam wajah
Hanya diam, melihatmu sebelum matiku

Mungkin tak perlu berandai-andai
Agar waktu berhenti maupun berputar kembali
Bahkan, tuhan menciptakan dan mengatur segalanya
Hal yang tidak pernah kita ketahui

Bebaringan Lelah, 2019

spacer