Bertapa dibawah awan
Kutatap mega yang anggun
Biru-membiru dalam haluan
Membujukku cemburu terbawa angin
Masih adakah hati yang suci ?
Seakan rasa cemburu itu hanya permainan kecil
Menyulutkan api kecil, yang membakar kulit
Tiada rasa bosan, ampuni oleh hati
Ketika ramai adalah rumunan sepi
Maka kita berdua adalah jarak yang saling merindu
Mungkin, kita tak sadar atas raga ini
Yang memecahkan karang dalam hati itu
Gusti, mengapa cemburu itu harus ada ?
Apakah ini sebuah ujian hati dalam sebuah permainan laga?
Jikapun diizinkan aku tak ingin merasakan cemburu ada
Mungkin ini adalah sajak-sajak kecilku yang lara dan membara
Menghidupkan api yang telah lama mati
Namun, tak terbiasa dengan batin yang cemburu
Merisau hingga tidak dapat terperikan melalui bibir ini
Yang mungkin tak mampu tersampaikan ke kamu.
Kutatap mega yang anggun
Biru-membiru dalam haluan
Membujukku cemburu terbawa angin
Masih adakah hati yang suci ?
Seakan rasa cemburu itu hanya permainan kecil
Menyulutkan api kecil, yang membakar kulit
Tiada rasa bosan, ampuni oleh hati
Ketika ramai adalah rumunan sepi
Maka kita berdua adalah jarak yang saling merindu
Mungkin, kita tak sadar atas raga ini
Yang memecahkan karang dalam hati itu
Gusti, mengapa cemburu itu harus ada ?
Apakah ini sebuah ujian hati dalam sebuah permainan laga?
Jikapun diizinkan aku tak ingin merasakan cemburu ada
Mungkin ini adalah sajak-sajak kecilku yang lara dan membara
Menghidupkan api yang telah lama mati
Namun, tak terbiasa dengan batin yang cemburu
Merisau hingga tidak dapat terperikan melalui bibir ini
Yang mungkin tak mampu tersampaikan ke kamu.

No comments:
Post a Comment