Gara-Gara Perjuangan Aku Menulis Puisi


 
Kepada semua insan yang berjuang, untukku dan kita semua.
Oleh. Muhammad Naufaldi

Pertarungan raga menjadi pertanda
Pertarungan otak menjadi sengitnya laga
Agni dalam hati tak akan pernah padam
Dan angkara yang lama kian memadam

Tungku, yang berisi bara
Membakar arang yang dimakan habis olehnya
Semua tak bersisa hanya abu yang menandakan
Ruang singgahku ini hanya sementara, kebetulan

Harga martabat, hak dan keadilan menjadi tenar
Menggenggam kami untuk mencari benar
Supaya bicara halus kami keras terdengar
Kepada beliau yang duduk diatas kursi yang mendengkur

Usang, usang dan usang
Kursi yang berganti, hanyalah eksistensi diri. Apakah ini benar ?
Atau salah kami meminta keadilan dan kebenaran ini ?
Semua sama dipandangan tuhan kita manusia
Semoga, segera kerjakan amanah dan tuntaskan keinginan kami
spacer

Renungan Dingin


Oleh Muhammad Naufaldi

Setiap laksana langitku pandangi
Rasa itu tak pernah tepat kusinggahi
Sang mata menatap taman bunga yang ramai
Berwarna-warni menemani hari

Renung pagi, berselimut dingin
Menjadi sebuah asa yang tak tetahan
Setiap rasa dan raga yang mulai mengikuti irama beraturan
Menciptakan rasa yang tak mampu lagi dijelaskan

Secara gamblang bibirku memilih untuk diam
Tanpa ucap dan menikmati setiap relung  dan ruang-ruang hati
Seketika waktu yang menjulang dan memutar diatasku
Berhenti sejenak untuk menikmati bersama-ku

Mengucapkan setiap kata yang tak sekedar diucap
Rasa pengucapan yang tertulis dalam aksara dan dekap
Menjadi pengecoh rasa kantuk
Yang merenungi dirimu penuh pelukan dingin pagi yang menembus raga dan hati terketuk

Magelang, 27 Juli 2020
spacer

Puisi Dini Hari: Ramai, Sekerumunan Sepi

Oleh Muhammad Naufaldi

Secarik larik tak purna
Menyisakan hening akan ada
Menjelma, penghebusan halus udara
Lembut, merasuk kesukma

Sepi
Hingga raga membangkitkan diri
Meringankan pikiran ini
Ditengah muramnya hari

Belum juga terbit surya
Rasa, ini sesakan semua raga
Menjulur hingga paru-paru
Yang tak lagi menjelma, bersahabat dengan rasaku

Sepi
Selagi, aku masih dalam riuh kota ini
Akankah, bertemu ditengah lamunan ini
Ringan, tak berbatas ditengah sekerumunan rasa sepi
spacer

Ada Yang Melengkung Namun Bukan Bulan itu #1

 
Oleh. Muhammad Naufaldi

Terakhir hari menjadi sangat muram, tak aku sangka juga akan menjadi seperti ini. Mawas diri atas raga yang tak ingin tersakiti (lagi). Begitu, banyak peristiwa dan kenangan masa lalu yang tak sanggup aku bendung menciptakan rasa perlindungan diri-sendiri yang tatkala ini mungkin untuk diri dan orang lain. Menjelang petang Whatsapp tak ada satu kalipun Notifikasi yang menunjukan tentang segala hal yang ingin dirasakan, "Ya sudah bagus berarti" pikirku dalam benak. 

Ditengah cuaca panas, media-media yang saling mencari rating. Seakan-akan egoisme tak terbendung oleh kalangan atas tidak terlihat hingga akhir-akhir ini aku merasakan media tidak bisa kupercayai lagi. Pademi Covid-19 yang mewabah disaat ini menciptakan nuansa baru dalam hidup yang kadang sulit sekali dipercayai, sangat sulit untuk ditebak maupun diprediksikan. Banyaknya, manusia virtual saat ini memiliki bermacam-macam sifat dan sikap seakan-akan menutup dirinya menjadi "Bermuka tebal" dan memilih untuk menjadi orang lain. Orang-orang virtual mulai menitik beratkan dunianya dengan empiris begitu banyak kejadian-kejadian yang tak disadari oleh manusia-manusia itu. Hingga percintaan dan perbucinan dibawa kedalam virtual "dunia memang begitu saja" lamunanku.

Ada yang indah, ketika senja akan datang nanti atau akankah mendung yang akan menemaniku. Seakan-akan rasa kesepian ini menjadi sebuah daya tarik sendiri untuk menjawab pertanyaan yang ada direlung batinku terdalam, siapa pemilik hati ini Gusti ? 

Tengah berpikir menjadi seorang yang realistis dalam berpikir, senyuman-senyuman yang muncul merupakan sebuah bentuk kebahagiaan yang lalu dalam setiap waktu yang ada. Berharap jika waktu itu bisa kembali dalam sejam saja ingin rasanya bisa menatapi seseorang itu dan ketika ku mengenalnya mungkin aku tak akan sia-siakan hal itu. tatkala akhirnya kita menjadi canggung dan mulailah dari raga yang menjauh diikuti oleh sang raja hati yaitu manusia. Seakan cepat berubah, berdiri disini akhirnya sendiri dan tak ada seorangpun yang lagi menberiku cerita-cerita baru soal kisah yang telah lama hilang rasa.

Hingga, tak ada yang sama sekali kurasakan penyesalan mengapa aku seperti ini. "Melihat seseorang bahagia adalah bentuk bahwa penderitaan yang sedang kau rasakan akan kembali ke gembiraan itu". Bukan berarti aku ingin menderita, namun disini adalah tentang bagaimana kita berusaha mengikhlaskan seseorang untuk menjadi yang lebih dewasa. Toh, soal cinta itu sebatas kawan dekat yang tak tau mau bermuara dimana bahkan bahtera yang ditumpangi bisa saja rusak tertabrak karang karena Gusti Maha Penyayang kepadan Hamba-Nya. Hinggaku menemukan pemikiran "Menjaga hati seseorang, sama saja dengan menjaga anak orang" benar bukan ? dimana yang dijaga hati pasti orangnya juga.

Sedikit, yang kualami senyumanku yang tak segan diiringi rasa iri, cemburu, sakit hati, dan sebagainya mencampur jadi satu. Tetap, saja berdamai dengan masalalu merupakan cara terbaik saling memaafkan dan memberikan senyuman kepada kenangan itu ditambah dengan sedikit kopi hitam dan secari kertas dengan aksara-aksara indah. Yang memulai, bukan soal aku atau kamu namun kita karena itu penentuan tetapi ketika itu sudah mulai memudar bukan berarti kamu bisa menyalahkanku atau aku menyalahkanmu, tapi ini tentang kesadaran masing-masing.

Dengan, sedikit senyumanku "Baiklah ini awal perjalanan baru dengan pemikiran-pemikiran baru tentang percintaan ini. Semoga saja, yang terbaik pilihan itu adalah pilihan Gusti dan tak ada yang menerkaku untuk menjadi ini itu dan lainnya.

spacer

Kala Rindu Menghampiri

 Kala Rindu Menghampiri
 Oleh Muhammad Naufaldi

Pagi, menyambutku
Menghindari selalu kata merindu
Paijo, yang menantang surya paloh
Seakan, dia paling pandai

Petani-petani memanen padi
Hingga merasa tawaku melihat keindahan arti bahagia
Seorang pemuda yang tak kalah bucinnya
Dengan manusia-manusia yang lain-nya

Ku tak tahu, aku bisa merindukan wanita
Tengah, dalam pelukan Gusti yang aman
Hebat cinta menjalinkan
Berjalan tanpa dengan "hadapi bersama"

Keseringan merindu aku ini, dik!
Memikirkan apa yang akan kita lakukan kelak
Canggungkah pertemuan itu nanti
Atau semua begitu mengalir dalam kebahagian
Dan terbaik adalah semoga tuhan memberikanku pelabuhan

Magelang, 10 April 2020

spacer

Alam Semesta, Lebih Tau


Cipt. Muhammad Naufaldi

Riuh doa
Sambutan udara shubuh
Alam melihat tenang
Gunung menatap hangat

Matahari yang baru muncul
Mencium setiap insan yang ada di bumi
Bahkan, awan mendung
Menyambut hangat dengan riuhnya air jatuh

Tak kau tanyakan ?
Mengapa ?
Kita dicintai alam, setia tanpa pamrih
Seperti ibu yang membesarkan kita
Dalam pelukan hangat

Alam lebih tau
Hingga ia harus bersabar
Oleh rakusnya makhluk yang berakal
Bertamasya diatas kebijakan
Hingga ia lupa akan diri sendiri

Mencari sebuah jawaban
Alamlah yang menjawabnya

spacer

Katakanlah, Walau Hanya Satu Rasa


Cipt. Muhammad Naufaldi

Selamat pagi sambutan hangat
Kicauan burung bersahutan beterbangan
Menciptakan sebuah kebebasan pagi
Tatkala muncul rasa bersyukur

Kembali dalam riuhnya alam mendoa
Mengembalikan tubuhnya
Yang telah lara, kembali
Untuk segera pulih

Katakanlah!
Walau hanya satu rasa
Pemilik hati yang tak henti berjuang
Berjuang, tawakal dan ikhtiar
Untuk dia yang kau cintai

Katakanlah!
Jika itu menyakitkan
Matahari masih sering memberikanmu semangat
Rasa syukur kepada-Nya yang mengobati
Semua rasa lara dan dendam dalam hati

Katakanlah!
Bahwa, cinta perlu dibuktikan
Agar hubungan tidak selamanya dianggap lelucon
Untuk semua insan yang berada 

Walau hanya satu rasa
Cinta tak bisa berdusta
Dalam diam, ditemani pagi yang hangat
Mencintai dalam riuhnya doa
Yang membukakan hati
spacer

Secarik Rasa Yang Hilang

Cipt: Muhammad Naufaldi

Sebuah renungan dalam rasa
Banyak, asa yang tak terbatas
Melukai, setiap hati yang tak bersalah
Inikah sebuah arti komitmen?

Hilangkan rasa setiap manusia ?
Tuhan tak pernah menghilangkan rasa.
Hanya membolak-balikan hati
Untuk memberimu sebuah evaluasi diri

Begitukah, suasana riuh ini?
Kunikmati, dudukku berdetak saja jantungku
Menunggumu dalam raga yang setengah hilang
Seperti, rasa yang tak kunjung pulih

Akankah, kau menjadi seperti itu ?
Tak tahu malu
Secarik kertas ini kutuliskan segera
Dalam komitmenmu yang berupaya mendapatkanku

Dalam setiap malam
Ku sempatkan memohon pada Gusti
Agar, segerakan aku mendapatkan kepastian itu
seperti dia dan mereka
Yang mempertanggung jawabkan itu
Hanya untuk satu wanita




spacer

Amor

Cipt: Muhammad Naufaldi

Tatkala malam datang
Aku masih menjadi pemujamu
Yang bersanding dengan malam
Meyakini pelukan tuhan saat ini

Aku merindu
Dalam ramainya riuh kota
Sedikit demi sedikit kukumpulkan
Setiap menit bersamamu lalu

Akankah kita bertemu
Dalam sebuah rasa yang berjuang
Untuk sama bahagia dalam
Rangkulan Gusti

Relungku seperti antagonis
Tak, peduli dengan yang lain
Melawan dalam segala hal
Hanya untukmu yang kukagumi

Apakah ini rasanya rindu ?
Menenangkan segala rasa
Menghilangkan segala lara
Dibalik malam gelap yang menemaniku

Jujur aku mengaggumi
Bersanding dengan alam ini
Merangkulku, membawa pesan
Selaksa luluh hati ini dalam hujan

Kau akan tahu
Pesan ini kusampaikan
Dalam sajak lusuh, tinta yang berhenti
Di jemari yang menari lunglai indah

Aku rindu, aku sayang
Mendungnya malam ingin kutembus
Lampu kota menemaniku
Menghiasi hatimu, dalam cobaan ini

Gusti,
Masihkah aku hambamu ?
Mencintai pilihan hati yang kau berikan
Ampuni aku.

Hingga, esok datang
Tetaplah ampuni aku, gusti
Kuyakini cinta datang dari-Mu
Mewarnai kebahagian sebuah Insan
Untukmu, tetaplah bersabar.
Aku mengaggumimu, harum seperti taman hati
Yang lusuh bak lama tak terbuka.


Magelang, 11 Februari 2019
spacer

Kerinduan Malam


Cipt: Muhammad Naufaldi

Dalam renungan dibawah langit mendung
Terdapat rasa rindu
Tak kunjung hilang, menghantui kesedihan
Untuk sesegera merasakah kebahagiaan

Inginku berujung indah, bukan sebuah fantasi
Aku hanya ingin kenyataan yang telah kunanti
Dikau Adinda, telah banyak melewatinya
Didalam waktu yang tak kunjung henti, saat bersama

Selalu kagum, dalam gelapku
Mengagumi setiap langkah, hingga ketika malam datang
Aku akan menjadi seorang perindu
Dibawah malam gelap, bersama mimpi yang kurekayasa

Mengalun disela rintik rindu yang sengit
Pada malam-malam yang dingin
Dengan beribu riuhnya doa ini
Tatkala, batinku luluh terhadapmu
Mungkin, daku bukan seorang sempurna
Dik, Adinda-ku ,aku tak mampu lagi melihat-mu seperti ini
Masih, masih teramat dalam dan jauh jalan yang akan dilalui
Dan sekarang aku ingin bertemu dengan-mu kembali
Dalam lengahnya rembulan yang menerangi
Di malam yang merangkul, kasih
Dengan rasa yang sederhana
Untuk selalu mengagumi-mu dalam hening malam
Tatkala alangkah indah mensyukuri ciptaan-Nya
Sang Maha, yang merangkul itu
 Kehampaan, menyerap kerinduan.

Magelang, 17 Februari 2020
To: Zaw
From: Me
Copyright@2020

spacer

Bukan Buta Cinta, Aku Hanya Cemburu

Cipt: Muhammad Naufaldi

Bertapa dibawah awan
Kutatap mega yang anggun
Biru-membiru dalam haluan
Membujukku cemburu terbawa angin

Masih adakah hati yang suci ?
Seakan rasa cemburu itu hanya permainan kecil
Menyulutkan api kecil, yang membakar kulit
Tiada rasa bosan, ampuni oleh hati

Ketika ramai adalah rumunan sepi
Maka kita berdua adalah jarak yang saling merindu
Mungkin, kita tak sadar atas raga ini
Yang memecahkan karang dalam hati itu

Gusti, mengapa cemburu itu harus ada ?
Apakah ini sebuah ujian hati dalam sebuah permainan laga?
Jikapun diizinkan aku tak ingin merasakan cemburu ada
Mungkin ini adalah sajak-sajak kecilku yang lara dan membara

Menghidupkan api yang telah lama mati
Namun, tak terbiasa dengan batin yang cemburu
Merisau hingga tidak dapat terperikan melalui bibir ini
Yang mungkin tak mampu tersampaikan ke kamu.

spacer

Jo(Y) For (L)ove


Cipt. Muhammad Naufaldi

Jo, bagiku dia adalah anugerah
Yang hidup, akan kehendak tuhan
Hadir dalam keluarga kecil
Yang menumbuhkan kegembiraan hati

Jo, kau tahu ?
Hadirmu menggembirakan
Membawa arti kasih dan menyayangi
Menciptakan erat batin yang jauh

Gusti, jagalah hatinya
Hati kecilnya yang rapuh, dalam kerasnya hidup
Alam, jagalah setiap senyumnya
Dalam mimpinya, dalam keadaannya saat ini

Awan-awan menyebar kesegala penjuru
Menyampaikan pesan akan kekagumanku dalam gelap
Yang menatapmu, ditengah ramainya rintik hujan
Dan doaku yang  riuh, serta menyertaimu
Menjagamu disetiap langkahmu, disetiap pilihanmu
Bahagiamu adalah bahagia untuk orang lain

Muhammad Naufaldi
Magelang, 5 Maret 2020

spacer

Arti Juang dan Perjuangan



Cipt: Muhammad Naufaldi

Lelah, siang ini
Tak kunjungku temukan pencarianku
Keresahan dan kekhawatiranku
Akan sebuah jawaban yang tak kunjung ku temui

Perjuangan
Sebuah kata yang mudah disebut
Tak mudah, namun
Menderita agar bahagia

Kulihat dalam-dalam
Seberapa luka selongsong peluru
Yang menembus tubuhku 
hingga merobek beberapa kulitku

Ada rasa panas, kepedihan yang mendalam, 
atau darah yang tak kunjung behenti
Masih saja aku berjuang, memerdekakan diri
Dalam setiap peperangan

Tatkala aku dengar sebuah riuh peluru melesat
Menghancurkan setiap tembok-tembok kokoh
Tatkala aku melihat hati yang takut
Inilah sebuah perjuangan

Aku bukan manusia sempurna
Aku berusaha menjadi lebih baik
Tetapi, aku tak menemukan jawaban dalam hal ini
Menghancur, menggerogoti setiap saat
Semakin, sekarat tak kunjung tertutup

Magelang, 17 Februari 2020

spacer

Resah, Hancur, dan Mendung



Cipt: Muhammad Naufaldi

Lagi-lagi dan lagi
Sebuah pukulan mendarat tempat dihati
Menghancurkan segala hal yang tak akan kembali lagi
Mungkin, itu adalah arti patah hati

Namun, kembali lagi
Usahapun tak ada hasil
Bahkan, dalam diam "biar tahu" kataku
Memang, arti cemburu itu tidak menentu

Gusti, akankah?
Saya menjadi pemuja yang tidak sehat?
Menjadi seorang yang cemburu dalam hal ini
Ampunilah, segala rasa dan tubuh ini

Tak satupun
Manusia yang diam itu adalah terkuat
Atau dalam langkah yang tidak terdengar
Menembus setiap, rintik hujan

Gusti, Akankah ?
Aku menjadi seorang yang dimata-Mu adalah baik
Aku hamba-Mu yang tak punya rasa ingin kembali
Tetapi tak ada rasa yang bersembunyi 

Awan mendung ?
Itu sudah pertanda baik dalam hati
Untuk apa aku marah ?
Siapa dia yang tak tahu tentangku

Langkah-langkah, kupercayakan
Kepada-Mu Gusti
Rasa percaya, atau hanya sebatas percaya dalam dusta
Aku berserah kepada-Mu

Hati tak segan lagi
Namun, Lara yang datang kembali
Membunuh setiap syaraf akal
Dan memberhentikan waktu lebih lama dan kekal

Tak sering
Tak akan lagi sering
Melibatkan ini tanpa-Mu Gusti
Kututup hasrat dan telinga
Kututup mata dan air mataku
Dikala raga tersenyum
Dikala hati hancur
Yakinkan diriku, aku cukup mampu dengan ini

Maaf, sekali lagi maaf
Aku tak punya hak dalam diamku ini
Namun, ku yakinkan ini rasa sayang bukan untuk permainan belaka
Atau hanya sekali pakai.
spacer

Kadung Cinta: Untuk Dikau Adinda

Cipt: Muhammad Naufaldi

Heningnya pagi ini
Meringkusku dalam kesendirian
Yang merindu pada diri-mu
Dalam sudut kamar ini.

Banyak yang berlalu
Lelah yang berganti dengan harapan
Saling menguatkan
Agar berujung indah

Masih, terlalu pagi
Kalam ini, mungkin salah satu maafku
Menghening dalam keriuhan lalu lalang
Merindukan-mu ciptaan-Nya yang istimewa

Kau tau adinda, Cinta tidak lebih dekat
Rindu tak lebih dari jauh
Segala yang telah melekat
Darimu seutuhnya-utuh

Akupun melantunkan rindu
Memohon kepada Gusti
Sampaikan rasa maaf ini
Semoga ini menjadi obat hatimu
spacer

Aquarius: In Love With You

Cipt: Muhammad Naufaldi

Setelah surya naik keatas
Masih kuingat
Saat itu bertanya
Dan inginku mendengarkan jawabannya

Langit terbentang biru
Sebiru rasa ini, bahagia
Bahkan, lautpun juga biru
Sebiru rasa tenangku

Keteduhan dihangatkan
Fajar yang hadir lebih pagi
Menjingga dan keemasan
Membuat malu rasa ini

Menelaah pagi
Dengan kesejukannya
Kabut tipis
Dengan kata maaf

Bahwa, Air tidak pernah berbohong
Bahkan tidak pernah menyakiti
Namun, selalu disakiti
Tetap saja memaafkan

Tidak mendendam
Bahkan, tidak pernah marah
Tenang seperti halnya
Mengalir hingga bertemu
spacer

Untitled: To Be Come A Cloud

Semakin malam, hening datang
Merobek-robek setengah hatiku
Dalam diam, keresahan ini
Menghukumku dalam larut malam

Menginjak akan pagi
Namun, tak ku sangka
Tusuk belati itu belum juga usai
Tak mampu mematikan rasa

Buat apa puisi ini
Penghibur laraku atau laramu?
Tak perlu khawatir tentangku
Karena aku masih saja disini

Merambahkan kabut hadir
Dingin menyiksa seperti luka bertabur garam
Air mata, sudah tidak mampu menetes dalam wajah
Hanya diam, melihatmu sebelum matiku

Mungkin tak perlu berandai-andai
Agar waktu berhenti maupun berputar kembali
Bahkan, tuhan menciptakan dan mengatur segalanya
Hal yang tidak pernah kita ketahui

Bebaringan Lelah, 2019

spacer