Pantai Liang

 


 Oleh. Muhammad Naufaldi

Ada yang aku rindukan dari sebuah pantai
Tempat lahir ibu yang indah dalam pelukan garis pantai
Tak pernah aku merasakan kesejukan biru laut
Yang menjelma dalam gubuk aku terduduk merenung kepulangan yang bersekat

Ruang yang luas, matahari yang menyengat
Segarnya suara air berkejaran menuju sudut
Bertebaran pasir putihnya yang menjelma seperti rasa
Sungguh kehilangan gairah dalam pelukan alam semesta

Kuingat lagi, betapa rindunya memiliki seorang
 Rintihku keras dihadapan Tuhan, dalam doa yang begitu meriuhkan
Takjubku melihat maha karya-Nya dalam rasa hati yang bingung
Anak-anak terlihat gembira bermain air dan bercipratan air seperti permata berkilauan

Ahh, pikirku "Gusti, aku merasa kesepian..."
Ruang hati begitu hampa terdiam lama menikmati pantai di Ambon
Dalam kesepian yang begitu dalam, tak tertahan
Terimakasih, tuhan

spacer

Langit dan Lautan


Oleh. Muhammad Naufaldi

Karang nan megah kuat.
Memandangi biru-biru bebercak putih awan dilangit
Ada harapan yang membuat diri kuat
Yaitu sebuah kerinduan yang tak kunjung dapat

Benak karang telah kuat, ingatan tentang langit
Terus memandangi, siang malam tak kunjung tepat
Gusti, melihat karang berjuang
Dalam riuhnya semilir angin, pesan itu datang

Mata hati yang berkilau kilap berlian
Selalu menggoda hanya untuk di maling oleh tangan tak bertanggung jawab
Menyisakan, kembali rasa pedih dan letih
Dalam penantian yang tak pernah temu titik ujung

Laksana langit berkata rindu, karang tahu tak mampu mendapatinya
Namun, Gusti tahu bahwa Karang berjuang keras untuk mencapai langit
Tak ada satupun yang mampu mendapatkan itu, tetapi Gustilah yang menepati
Hubungan kesetiaan tiada tara, bukan jarak dan problematika tanpa penyelesaian
spacer

Malaikat Hujan-ku


Oleh Muhammad Naufaldi

Sang peneduh hati, tiap manusia
Tepat harap-harap itu kau terima
Bahkan tak ada lagi tandingannya
Memberikan segelintir kehidupan akan dahaga ditengah sahara, menetes embun yang menyeka
Tetap dingin dan tenang, hangat yang dengan pelukannya yang tenangkan amarah
Bersama angin ia bergerak, sebagai langkah pasrah dalam kendaraan-nya
Malaikat Hujan-ku
Bertahan dalam kuatnya angin topan, yang siap menyerang.
Dalam pelukan gusti kau menangis, memohon agar sembuhkan lara dari kekalahan
Riuh suara hatinya, doa-doa berterbangan keangkasa.
Menuju, kearah-Nya
Lantas, hatinya kuat menyabar diri
Sosok puan yang selalu sejukan pikiran
Yang halus berbisik, bersama riuhnya hujan yang menyeka
Menetes, dan membasahi bumi
Memberikan harapan kehidupan untuk alam
Seakan hatinya kuat tak mampu lagi yang bisa membukanya
Sudahlah puan, kau kuat hingga tiada ada yang bisa menandingi puan
Dalam, tabahnya, tawakal, hingga riuhnya doa
Ijabah dan ijabah doa itu.

Untukmu puan: Kau yang terkuat, selalu memberikan kekuatan, dan percayalah Gusti memuliakanmu.
spacer

Masa Hidup Sang Karang


Oleh: Muhammad Naufaldi

Pasang itu tlah datang lagi 
Menggulung-gulung berganti
Berlomba-lomba ketepi
Dan Kembali ke samudra lagi

Batu karang, menjulang
Makna kuat nan gersang
Kokoh berdiri, walau dihantam oleh gulungan pasang
Keras menahan bantingan yang tak hilang

Inilah rupa dari cinta, kokoh tak bisa disalahkan
Mendewasakan disetiap waktu,  alam memberi dekapan
Orang-orang berlomba membagi kasih
Ada juga yang berakhir sedih, pedih dan letih

Bertahan ditengah badai dan pasang yang mengamuk
Sang karanglah, gambaran manusia yang sabar
Bak langit yang dirindukan selalu memberi kabar
Dalam bahagia yang menanti diujung labuh.
spacer

Hujan

Oleh. Muhammad Naufaldi

Hujan datang kembali
Mengundang rasa gelisah lagi
Ditengah dikau yang aku rindukan dalam mimpi malam ini
Aku menunggu ruang berbicara untuk membalas isi hati 

Tuan yang sedang menunggu hati bangkit dalam hujan
Bermain seakan hujan adalah kawan yang paling tak sungkan
Tunjukan raga yang telah rapuh hingga menyongsong kuat sang mentari
Namun, mendung kembali datang dalam kerinduanku yang berujung semu akankah pulih kembali ?

Rerumputan di dekat berada rumah yang sekarang lebat tertetes air yang jatuh untuk menaungi
Akhirnya berbahagia cerita itu dalam sebuah aksara akhir yang tak abadi dalam tulisan ini
Apakah rasa ini bisa datang hanya sementara untukku ? Atau kisah ini akan berakhir dengan luka
Rasa rindu yang menahanku akan rasa sakit, menyelamatkanku dari dunia yang berujung lara

Kuatkan aku yang membutuhkanmu dalam rindangnya pohon ini
Menyapaku, dalam udara yang telah lama menunggu dengan dedaunan yang lembut menari
Jatuh perlahan dalam pangkuan dan perlindungan-Nya
Aku tertunduk malu akan asmara yang tak berbalas oleh puan yang saat ini tak sekalipun menyapa
spacer

Puisi Dini Hari: Teruntuk Dini



Oleh. Muhammad Naufaldi

Jangankan berpaling menatap langit
Masih saja dalam pijakan bumi dan halusnya rumput
Dini, yang masih berada disana
Dengan senyum manisnya

Mempersiapkan kehangatan
Untuk seseorang yang diinginkan
Mencari dalam renungan doa
Riuh, tak terbatas saja

Lagu-lagu dinyanyikan
Fajar akan jadi saksinya
Lelah dalam pencariannya
Yang tak usai kegelapan

Dini,
Hangat bibirmu, tenang
Menenangkan setenang air mengalir
Hingga, diam-diam penantian terlampaui

Bertemu, dalam keindahan hari
Berulang, dan tak pernah membosankan
Beriku sebuah makna dalam hidup ini
Tak akan pernah, menangis
Dalam tegar yang kuat

Selamat Pagi

Magelang, 11 April 2020

.
spacer

Rindu, Kenangan dan Google Drive!


 
Cipt. Muhammad Naufaldi

Apa yang kalian pikirkan sih tentang perjalanan?? Ini sebuah cerita yang tidak terlalu istimewa untuk orang-orang saat ini, tetapi bagiku sangan berkesan pada umur yang sangat belia bersama keluarga melakukan perjalanan yang sangat rutin, hingga disusuri semua pantai dan beberapa gunung.  Sebenarnya yang kutulis ini adalah rasa rindu yang sempat hilang dari ingatan. Sempat beberapa kali melihat “Google Drive” penyimpanan yang penuh, hinggaku berniat menghapus dan melihat file-file lama yang tak pernah kubuka ternyata masih ada didalam itu. Sebelumnya terimakasih Google! Hehehe.
 
Ketika itu aku berumur 12 tahun, dan yah mungkin itu adalah masa dimana anak-anak sekolah dan bermain sewajarnya mempunyai pengalaman bersama teman-teman dalam lingkungannya. Namun, aku ini merasa beruntuk ketika bisa “travelling” ke tempat-tempat yang mungkin bisa dibilang jarang didatangi anak-anak berumur masih belia dan beruntung pada masa itu. Mungkin dulu aku adalah salah satu “Nek dikon foto kok mesti wegah” , kata ibukku waktu itu dan memang aku adalah anak yang tidak suka sekali difoto namun malah menjadi suka dengan dunia fotografi saat ini. Anehnya, aku waktu itu merasakan exited dengan namanya “Gunung Bromo” itu akhirnya aku mau saja berfoto dan menikmati keindahan alam dan  disitulah aku pertama mengenal alam yang lebih megah ciptaan Gusti dibumi yang menabjubkan. Dengan rasa syukur dengan foto itu dibelakangnya ada Puncak Mahameru (sebutan puncak legenda) yaitu Gunung Semeru yang tertinggi di Pulau Jawa dengan gagah selain Gunung Merapi dan Sumbing yang juga memiliki kegagahan serta megahnya. Aku-akui dan visual gambarnya dua gunung ini (Bromo dan Semeru) membuatku tabjub akan keindahannya, dan mungkin dengan rasa syukur sekali lagi atas kuasa-Nya waktu itu aku bisa melihat dua gunung yang megah nan indah. 

Dengan penuh perjuangan yang saat itu lucu, jadi sebelum naik ke tempat Gardu Pandang lebih tepatnya. Sampailah aku dan keluarga waktu itu sekitar jam 2-3 pagi, dimana waktu itu baru pertama kali namanya aku naik gunung dengan suhu yang lumayan dingin. Menjelang pagi aku masih ingat sekali, aku tertidur di dekat jendela yang itu pastinya dingin dan yang pasti aku merasakan masuk angina kemudian. Hebatnya, aku masih bisa melaksanakan ibadah sholat shubuh dengan air yang sangat dingin, lantai keramik yang luar biasa dingin seperti es. Dan itu adalah pengalaman yang memang lucu dimana matahari mulai muncul dan terbit dengan senyuman-senyuman penduduk yang ramah menyambut kami, aku tak ingin turun dari mobil karena merasakan badan yang sudah tidak membaik alias masuk angin. 

Hingga akhirnya,
“Bangun, mas sarapan dulu” kata, ayah waktu itu
“Badan mas enggak enak yah ini” jawabku
“Lah, liburan malah masuk angin. Yaudah turun dan makan dulu makan sarapan mie rebus itu udah dibelikan dan dimasakin siapa tau enakan badannya?” 

Dan terpaksa turun, karena memang lapar sebenarnya. Aku merasakan keajaiban disini, aku makan tidak sampai 2 sendok makan badanku yang awalnya terasa tidak enak menjadi lebih mendingan dan pulih secara cepat. Bahkan, nafsu makanku tidak berkurang sedikitpun hinggaku makan dan habiskan semuanya mulailah perjalanan menuju gardu pandang. Dan disambut oleh dua gunung megah yang bersih tanpa kabut dan ditemani cahaya hangat dari matahari yang tak mau mengalahnya dengan dua gunung itu. Hanya beberapa jam berada di tempat tersebut pada akhirnya kami melanjutkan perjalan pulang.

Banyak yang kupikirkan waktu dulu hingga saat ini. Jujur aku rindu dengan provinsi-nya. Walaupun kota-nya terkadang sangat panas menyengat aku rindu akan semua hal. Bahkan, semua hal itu masih saja membekas dan aku benar-benar bersyukur bisa merasakan pengalaman yang mungkin bisa saja itu hanya sekali saja. Namun, harapanku adalah tetap alam ini kita jaga bersama dan lindungi bersama selain anak cucu kita yang akan menikmati itu kelak. Mungkin saja kita juga bisa kesana dengan kerinduan yang aku rasakan saat ini. Dan semoga aku dan kalian bisa dapat menyambangi dua gunung ini. Aamiin!

spacer

Alam Semesta, Lebih Tau


Cipt. Muhammad Naufaldi

Riuh doa
Sambutan udara shubuh
Alam melihat tenang
Gunung menatap hangat

Matahari yang baru muncul
Mencium setiap insan yang ada di bumi
Bahkan, awan mendung
Menyambut hangat dengan riuhnya air jatuh

Tak kau tanyakan ?
Mengapa ?
Kita dicintai alam, setia tanpa pamrih
Seperti ibu yang membesarkan kita
Dalam pelukan hangat

Alam lebih tau
Hingga ia harus bersabar
Oleh rakusnya makhluk yang berakal
Bertamasya diatas kebijakan
Hingga ia lupa akan diri sendiri

Mencari sebuah jawaban
Alamlah yang menjawabnya

spacer

Pesan Rahasia: 2 April Sesudah 1 April

Cipt. Muhammad Naufaldi
 
Ada yang menangis pagi ini
Dalam sendu dan duka yang mendalam
Merasuki tubuhku dalam rasa lelahku
Akankah bumi kita membaik?

Cepatlah raib dari negeriku
Menjajal setiap tubuh manusia
Menghancurkan dalam keadaan hampa
Serta harapan orang-orang

Masih saja pagi ini tetangis hujan menghampiri
Membasahi bumi dan tanah, agar tetap bersih
Membersihkan setiap tangan mungil manusia
Memberikan rasa aman kepada setiap makhluk-Nya

Ini adalah cobaan dari Gusti
Alam penjembatan antara Gusti dan Hamba-Nya
Semua yang tahu, adalah Gusti dan Takdir-Nya
Semoga, Bumi Agraria ini segera pulih kembali


spacer

Sebelum Petang



Cipt: Muhammad Naufaldi

Masih dalam pelukan alam ini
Kulihat udara yang semakin tipis
Awan-awan mengelilingiku
Menyapaku sebelum petang

Kulihat disisi sana
Mentari yang menua bersama jingganya langit
Tak, segan ku ikut menyapa
Bukit-bukit dan gunung beserta sawah yang terbetang

Tak mampuku khianati
Indah sekali ciptaan-Mu Gusti
Seakan kebahagiaan, melihat ini
Setelah kesedihan yang tak kunjung hilang

Akankah alam akan bahagia
Segala yang ada di langit
Segala yang ada di bumi
Kau sapa aku, insan yang biasa-biasa saja

Alamku, cinta sekali
Rindu, akan menyelimutiku seperti awan
Menyerupai senyumanmu yang akan memberiku ketenangan
Hingga, aku tak mampu melihatmu lagi

Maafkan daku alam
Sebagai manusia yang belum mampu
Menyadarkan mereka, yang serakah
Menghancurkan hatimu secara perlahan
Hingga kau sekarat

Kusampaikan pesan ini melalui puisi ini, pesan yang akan terbawa angin dan berjalan.
spacer

Tenang, Daku Rindu


Cipt. Muhammad Naufaldi

Ketenangan?
Banyak celah dalam laluan hari
Renung, dalam bebas jemari
Kulihat lagi hujan bersama puan

Menciptakan, aksara-aksara
Yang belum sempat dikatakan waktu itu
Aku sampaikan tulisan kepadamu
Tenang hadir dalam tatapan lembut mata

Indahnya lautan
Derasnya hujan
Memaknai ketenangan
Alam yang memeluk tak melepas dekapan-nya

Tenang..
Hadir dalam rangkaian sesaji
Yang tak segan memberiku harum semerbak
Secangkir kopi, puisi, dan hadiah alam ini
spacer

Mendekatlah



Cipt: Muhammad Naufaldi

"Bangun", alam bawah sadarku menghentakku
Perlahan-lahan, kubuka mata dalam hening pagi
Merenungi, kerinduan akan rumah
Yang menaungiku, memelukku hangat

Belum juga sang surya muncul
Kerinduan yang mendalam terhadap rumah
Rasa kebingungan di rantau
Namun, aku harus menjadi sukses, benakku bicara

 "Sio Mama"
Lagu kerinduan terhadap rumah
Rumah yang tidak ada dua-nya
Yang tak pernah akan lupa tentang kenangannya

Semoga waktu, mengajarkan kesabaran
Hingga kesabaran mampu menjadi obat
Obat-obat kerinduan yang semakin merajuk
Alam dan Gusti akan memeluk-mu erat
Merangkul dalam resah-mu
Dalam doa yang semakin riuh
Di dalam sambutan shubuh
Dan burung-burung berkicau bersahut riuh
spacer

Tercekik



Cipt: Muhammad Naufaldi

Sedih memang, celah-celah itu
Terbuka oleh orang-orang yang menutup telinga
Menutup mata, 
Tanpa melihat nasib orang lain

Langkah tegap, persiapan investasi lebih baik
Namun, nafsu tatkala sudah menghancurkan akal pikir
Penghancuran alam segera akan terjadi, jika kebijakan itu berlaku 
Hingga tak ada sisa untuk kami bernapas

Menghancurkan setiap kehidupan
Pencemaran dimana-mana
Alam-pun sekarat hingga tak berbicara
Perlahan, menggoncangkan tanah air

Alamku, Alammu, Alam kita semua
Ia sudah seperti ibu kita
Durhaka sekali, orang yang menutup mata dan telinga itu
Kepada ia yang telah melahirkan, menaungi kita
Banyak yang tercekik
Hingga tanah sudah tak sudi untuk diinjak
Alam semesta memandang dingin
Perlahan diam diujung kematian, dan detak yang melambat

Dan semoga mereka tak dikutuk oleh Gusti dan Alam tidak mengutuk kalian.

Dan pesan-pesan ini perlahan kusampaikan. Jangan hancur, bersama kita berjuang
Menghancurkan yang bersalah, memperbaiki yang benar. tatkala mereka.


spacer