Semenanjung di Awal Desember

Source pixabay


Oleh. Muhammad Naufaldi

Kini, Desember telah hadir
Pada semenanjung yang bersenandung
Membawa rasa-rasa yang kembali ke nadir
Hingga, mentari kini tertutup mendung

Sementara, hati yang masih terbelenggu
Rupanya menjadi, rasa sakit yang menunggu
Tanpa adanya tetes air mata, maupun dendam
Kini seorang tuan telah melepaskan hal yang diidam

Haus akan cinta, hingga hancur karena sepatah kata
Bahkan, dedaunan yang melambai rasa
Burung-burung yang bernanyi merdu
Juga, berusaha menghibur sang tuan

Desember, tidak ini sudah berlalu
Kini, kusimpan patah hati untuk yang kesekian kali
Menanamnya dalam risauku dan gelisahku
Yang tidak akan pernah mati oleh patah hati

Semoga hati tuan dilapangkan dari cobaan ini, semoga saja doa yang terbaik kepada tuan.

spacer

Dua Kata Yang Hampa

Oleh. Muhammad Naufaldi

Sejenak aku memandangi titik-titik kota
Menatap sayu akan lelah perjuangan pujangga
Syair-syair yang sudah tercatat tinta
Mampu mengurangi rasa pedih yang tercipta

Kata-kata hampa
Selagi kau mampu mencinta
Seharusnya aku mampu merindu
Tanpa adanya batasan untuk rindu padamu

Ketika mentari berganti temaram
Kau seakan lupa akan cinta yang berujung muram
Menciptakan beribu bekas lara
Yang menyiksa dalam dekapan panah asmara

Semua kata-kata itu kau buat indah
Seakan langit dan bumi menjadi hiasan kata yang membuahkan perih
Ahh-ha-ha... Sunggu menanti bukanlah hal yang tepat lagi
Malahan siksa batin ini menjadi-jadi dan mematikan diri

Magelang, 15 November 2020

spacer

Elegi Rindu

source: pixabay

Oleh. Muhammad Naufaldi

Lelahku telah berakhir
Dalam sebuah rasa tak berarti dan terpinggir
Menjamah hati yang telah lama berhenti, menyepi
Terangkak keluar batin menunjukan diri mencari

Memulai dalam kerinduan yang cukup
Menepi jatuh dan menghilang rasa terlungkup
Rengkuh-rengkuh tanganku yang menutup
Tak mampu menjadi sebuah cerita yang terungkap

Elegi menyambut sedikit menenangkan luka hati
Menerpa dengan sejenak kehangatan yang dicari
Terakhir dan mengakhir bukan lagi dalam tabu yang tak bertuan
Seruan-seruang untuk mundur dalam sangkala terompet peperangan

Akankah sebuah detakan jantung merubah alur waktu
Yang tak pernah tahu kapan pemberhentian itu
Rindu yang menjelma dalam riuh doa-doa sepertiga malam
Menjadi saksi keatas dalam lindungan gusti yang hanya diketahui oleh alam
spacer

Puisi Dini Hari: Untuk Perempuan Yang Sedang Hancur Hatinya


Oleh. Muhammad Naufaldi

"Untuk Perempuan Yang Sedang Hancur Hatinya"

Darahku cepat terpompa keotak

Panas dingin raga tersontak

Hati terasa lemah berantak

Tak sekalipun berkata "tidak!"


Pedih, sekali lagi pedih!

Telah kubuka hati, akhir luka dan lungkrah

Sejenak mata menutup, elu pilu menetes

Disaksikan jam berdetak, untuknya terlepas



Lelaki, lelaki itu

Ingatan dalam gelap, merasuki dalam benakku

Membelah, terbelah hati terbagi dan hilang

Menyusup terbawa angin, terdiam ia terbang


Mengalir sejenak dalam pilu

Lekas sudah makna cinta dewasakanku

Purna, purna dan tertutuplah hati

Bermuara, pada labuh terakhir oleh kesembuhan hatiku

Magelang, 2020
spacer

Jakarta



Oleh. Muhammad Naufaldi

Detik, menitik hatiku
Merasuk jam-jam, kerasnya tuan bertahan hidup
Menarik ulur setiap perasaan, hingga lupa rangka manusianya
Tertuduk malu dalam tawa sang surya

Menyesatkan pikir, riuh kotamu yang menghancurkan hati
Tak akan pernah ku lupa sebuah bidikan rasa yang tak sampai
Sungguh derita dan menderita hati
Untuk rasa suci sebuah kisah mencintai

Kasih dan menyayangi
Hanya sebuah kefanaan berujung mati
Raut hati yang mulai resah dan kalut ini
Menghantam beribu batin, menangis


Magelang, 04 Juni 2020
spacer

Hujan

Oleh. Muhammad Naufaldi

Hujan datang kembali
Mengundang rasa gelisah lagi
Ditengah dikau yang aku rindukan dalam mimpi malam ini
Aku menunggu ruang berbicara untuk membalas isi hati 

Tuan yang sedang menunggu hati bangkit dalam hujan
Bermain seakan hujan adalah kawan yang paling tak sungkan
Tunjukan raga yang telah rapuh hingga menyongsong kuat sang mentari
Namun, mendung kembali datang dalam kerinduanku yang berujung semu akankah pulih kembali ?

Rerumputan di dekat berada rumah yang sekarang lebat tertetes air yang jatuh untuk menaungi
Akhirnya berbahagia cerita itu dalam sebuah aksara akhir yang tak abadi dalam tulisan ini
Apakah rasa ini bisa datang hanya sementara untukku ? Atau kisah ini akan berakhir dengan luka
Rasa rindu yang menahanku akan rasa sakit, menyelamatkanku dari dunia yang berujung lara

Kuatkan aku yang membutuhkanmu dalam rindangnya pohon ini
Menyapaku, dalam udara yang telah lama menunggu dengan dedaunan yang lembut menari
Jatuh perlahan dalam pangkuan dan perlindungan-Nya
Aku tertunduk malu akan asmara yang tak berbalas oleh puan yang saat ini tak sekalipun menyapa
spacer

Puisi Dini Hari: Ramai, Sekerumunan Sepi

Oleh Muhammad Naufaldi

Secarik larik tak purna
Menyisakan hening akan ada
Menjelma, penghebusan halus udara
Lembut, merasuk kesukma

Sepi
Hingga raga membangkitkan diri
Meringankan pikiran ini
Ditengah muramnya hari

Belum juga terbit surya
Rasa, ini sesakan semua raga
Menjulur hingga paru-paru
Yang tak lagi menjelma, bersahabat dengan rasaku

Sepi
Selagi, aku masih dalam riuh kota ini
Akankah, bertemu ditengah lamunan ini
Ringan, tak berbatas ditengah sekerumunan rasa sepi
spacer

Ada Yang Melengkung Namun Bukan Bulan itu #1

 
Oleh. Muhammad Naufaldi

Terakhir hari menjadi sangat muram, tak aku sangka juga akan menjadi seperti ini. Mawas diri atas raga yang tak ingin tersakiti (lagi). Begitu, banyak peristiwa dan kenangan masa lalu yang tak sanggup aku bendung menciptakan rasa perlindungan diri-sendiri yang tatkala ini mungkin untuk diri dan orang lain. Menjelang petang Whatsapp tak ada satu kalipun Notifikasi yang menunjukan tentang segala hal yang ingin dirasakan, "Ya sudah bagus berarti" pikirku dalam benak. 

Ditengah cuaca panas, media-media yang saling mencari rating. Seakan-akan egoisme tak terbendung oleh kalangan atas tidak terlihat hingga akhir-akhir ini aku merasakan media tidak bisa kupercayai lagi. Pademi Covid-19 yang mewabah disaat ini menciptakan nuansa baru dalam hidup yang kadang sulit sekali dipercayai, sangat sulit untuk ditebak maupun diprediksikan. Banyaknya, manusia virtual saat ini memiliki bermacam-macam sifat dan sikap seakan-akan menutup dirinya menjadi "Bermuka tebal" dan memilih untuk menjadi orang lain. Orang-orang virtual mulai menitik beratkan dunianya dengan empiris begitu banyak kejadian-kejadian yang tak disadari oleh manusia-manusia itu. Hingga percintaan dan perbucinan dibawa kedalam virtual "dunia memang begitu saja" lamunanku.

Ada yang indah, ketika senja akan datang nanti atau akankah mendung yang akan menemaniku. Seakan-akan rasa kesepian ini menjadi sebuah daya tarik sendiri untuk menjawab pertanyaan yang ada direlung batinku terdalam, siapa pemilik hati ini Gusti ? 

Tengah berpikir menjadi seorang yang realistis dalam berpikir, senyuman-senyuman yang muncul merupakan sebuah bentuk kebahagiaan yang lalu dalam setiap waktu yang ada. Berharap jika waktu itu bisa kembali dalam sejam saja ingin rasanya bisa menatapi seseorang itu dan ketika ku mengenalnya mungkin aku tak akan sia-siakan hal itu. tatkala akhirnya kita menjadi canggung dan mulailah dari raga yang menjauh diikuti oleh sang raja hati yaitu manusia. Seakan cepat berubah, berdiri disini akhirnya sendiri dan tak ada seorangpun yang lagi menberiku cerita-cerita baru soal kisah yang telah lama hilang rasa.

Hingga, tak ada yang sama sekali kurasakan penyesalan mengapa aku seperti ini. "Melihat seseorang bahagia adalah bentuk bahwa penderitaan yang sedang kau rasakan akan kembali ke gembiraan itu". Bukan berarti aku ingin menderita, namun disini adalah tentang bagaimana kita berusaha mengikhlaskan seseorang untuk menjadi yang lebih dewasa. Toh, soal cinta itu sebatas kawan dekat yang tak tau mau bermuara dimana bahkan bahtera yang ditumpangi bisa saja rusak tertabrak karang karena Gusti Maha Penyayang kepadan Hamba-Nya. Hinggaku menemukan pemikiran "Menjaga hati seseorang, sama saja dengan menjaga anak orang" benar bukan ? dimana yang dijaga hati pasti orangnya juga.

Sedikit, yang kualami senyumanku yang tak segan diiringi rasa iri, cemburu, sakit hati, dan sebagainya mencampur jadi satu. Tetap, saja berdamai dengan masalalu merupakan cara terbaik saling memaafkan dan memberikan senyuman kepada kenangan itu ditambah dengan sedikit kopi hitam dan secari kertas dengan aksara-aksara indah. Yang memulai, bukan soal aku atau kamu namun kita karena itu penentuan tetapi ketika itu sudah mulai memudar bukan berarti kamu bisa menyalahkanku atau aku menyalahkanmu, tapi ini tentang kesadaran masing-masing.

Dengan, sedikit senyumanku "Baiklah ini awal perjalanan baru dengan pemikiran-pemikiran baru tentang percintaan ini. Semoga saja, yang terbaik pilihan itu adalah pilihan Gusti dan tak ada yang menerkaku untuk menjadi ini itu dan lainnya.

spacer

Mendekatlah



Cipt: Muhammad Naufaldi

"Bangun", alam bawah sadarku menghentakku
Perlahan-lahan, kubuka mata dalam hening pagi
Merenungi, kerinduan akan rumah
Yang menaungiku, memelukku hangat

Belum juga sang surya muncul
Kerinduan yang mendalam terhadap rumah
Rasa kebingungan di rantau
Namun, aku harus menjadi sukses, benakku bicara

 "Sio Mama"
Lagu kerinduan terhadap rumah
Rumah yang tidak ada dua-nya
Yang tak pernah akan lupa tentang kenangannya

Semoga waktu, mengajarkan kesabaran
Hingga kesabaran mampu menjadi obat
Obat-obat kerinduan yang semakin merajuk
Alam dan Gusti akan memeluk-mu erat
Merangkul dalam resah-mu
Dalam doa yang semakin riuh
Di dalam sambutan shubuh
Dan burung-burung berkicau bersahut riuh
spacer

Untitled: Malam, tidurlah!


Cipt: Muhammad Naufaldi

Hening malam
Tak kunjung temui-mu
Alam, memantau-ku
Menatap iba dalam pencarian-ku

Lelah, sangat melelahkan
Tak kunjung malam tidur, dalam lelap-ku
Menyaksikan, insan yang terluka
Dan berjuang bertemu pujaan-nya

Akankah pujaanku dipertemukan ?
Atau hanya lara yang terlahir?
Akan kuceritakan kepada malam
Kepada alam-alam yang memeluk

Alunan-alunan itu
Suara merdu gitar malam ini, 
Meleburkan segala lara
Menghancurkan dan menghantam pedih

Ingin, inginku juga bahagia
Namun, tidak untuk sendiri
Menangislah hati ini, lara!
Diam dalam naungan malam

Yang memberhentikan waktu
Menutup mata-ku
Dengan mimpi, untuk mengobatiku
Hati yang lara!

Malam, tidurlah!
Kau berusaha tenangkanku
Aku mampu lupakan dia
Jika, tak mampu biarkan daku
Istirahatkan hati.
spacer

Amarah


Cipt. Muhammad Naufaldi

Sebuah rasa yang sudah lama diam
Tak, kunjung terobati
Telah lama daku menahan diam
Namun, disakiti 

Daku ini salah apa Gusti ?
Manusia, hamba-Mu ini
Sudah bosan dengan hidup seperti ini
Seakan kebebasanku terenggut

Akankah ada langit untuk bernaung
Atau mungkin akan ku kubur lebih dalam
Meningkatkan rasangan otak 
Naik pitam, dalam diri

Orang-orang tak pernah tau
Tak pernah tau, soal masalah ini
Setiap raga berhenti
Maka, akan ada maaf dan rasa kehilangan


spacer

Arti Juang dan Perjuangan



Cipt: Muhammad Naufaldi

Lelah, siang ini
Tak kunjungku temukan pencarianku
Keresahan dan kekhawatiranku
Akan sebuah jawaban yang tak kunjung ku temui

Perjuangan
Sebuah kata yang mudah disebut
Tak mudah, namun
Menderita agar bahagia

Kulihat dalam-dalam
Seberapa luka selongsong peluru
Yang menembus tubuhku 
hingga merobek beberapa kulitku

Ada rasa panas, kepedihan yang mendalam, 
atau darah yang tak kunjung behenti
Masih saja aku berjuang, memerdekakan diri
Dalam setiap peperangan

Tatkala aku dengar sebuah riuh peluru melesat
Menghancurkan setiap tembok-tembok kokoh
Tatkala aku melihat hati yang takut
Inilah sebuah perjuangan

Aku bukan manusia sempurna
Aku berusaha menjadi lebih baik
Tetapi, aku tak menemukan jawaban dalam hal ini
Menghancur, menggerogoti setiap saat
Semakin, sekarat tak kunjung tertutup

Magelang, 17 Februari 2020

spacer

Resah, Hancur, dan Mendung



Cipt: Muhammad Naufaldi

Lagi-lagi dan lagi
Sebuah pukulan mendarat tempat dihati
Menghancurkan segala hal yang tak akan kembali lagi
Mungkin, itu adalah arti patah hati

Namun, kembali lagi
Usahapun tak ada hasil
Bahkan, dalam diam "biar tahu" kataku
Memang, arti cemburu itu tidak menentu

Gusti, akankah?
Saya menjadi pemuja yang tidak sehat?
Menjadi seorang yang cemburu dalam hal ini
Ampunilah, segala rasa dan tubuh ini

Tak satupun
Manusia yang diam itu adalah terkuat
Atau dalam langkah yang tidak terdengar
Menembus setiap, rintik hujan

Gusti, Akankah ?
Aku menjadi seorang yang dimata-Mu adalah baik
Aku hamba-Mu yang tak punya rasa ingin kembali
Tetapi tak ada rasa yang bersembunyi 

Awan mendung ?
Itu sudah pertanda baik dalam hati
Untuk apa aku marah ?
Siapa dia yang tak tahu tentangku

Langkah-langkah, kupercayakan
Kepada-Mu Gusti
Rasa percaya, atau hanya sebatas percaya dalam dusta
Aku berserah kepada-Mu

Hati tak segan lagi
Namun, Lara yang datang kembali
Membunuh setiap syaraf akal
Dan memberhentikan waktu lebih lama dan kekal

Tak sering
Tak akan lagi sering
Melibatkan ini tanpa-Mu Gusti
Kututup hasrat dan telinga
Kututup mata dan air mataku
Dikala raga tersenyum
Dikala hati hancur
Yakinkan diriku, aku cukup mampu dengan ini

Maaf, sekali lagi maaf
Aku tak punya hak dalam diamku ini
Namun, ku yakinkan ini rasa sayang bukan untuk permainan belaka
Atau hanya sekali pakai.
spacer

Kadung Cinta: Untuk Dikau Adinda

Cipt: Muhammad Naufaldi

Heningnya pagi ini
Meringkusku dalam kesendirian
Yang merindu pada diri-mu
Dalam sudut kamar ini.

Banyak yang berlalu
Lelah yang berganti dengan harapan
Saling menguatkan
Agar berujung indah

Masih, terlalu pagi
Kalam ini, mungkin salah satu maafku
Menghening dalam keriuhan lalu lalang
Merindukan-mu ciptaan-Nya yang istimewa

Kau tau adinda, Cinta tidak lebih dekat
Rindu tak lebih dari jauh
Segala yang telah melekat
Darimu seutuhnya-utuh

Akupun melantunkan rindu
Memohon kepada Gusti
Sampaikan rasa maaf ini
Semoga ini menjadi obat hatimu
spacer