Pantai Liang

 


 Oleh. Muhammad Naufaldi

Ada yang aku rindukan dari sebuah pantai
Tempat lahir ibu yang indah dalam pelukan garis pantai
Tak pernah aku merasakan kesejukan biru laut
Yang menjelma dalam gubuk aku terduduk merenung kepulangan yang bersekat

Ruang yang luas, matahari yang menyengat
Segarnya suara air berkejaran menuju sudut
Bertebaran pasir putihnya yang menjelma seperti rasa
Sungguh kehilangan gairah dalam pelukan alam semesta

Kuingat lagi, betapa rindunya memiliki seorang
 Rintihku keras dihadapan Tuhan, dalam doa yang begitu meriuhkan
Takjubku melihat maha karya-Nya dalam rasa hati yang bingung
Anak-anak terlihat gembira bermain air dan bercipratan air seperti permata berkilauan

Ahh, pikirku "Gusti, aku merasa kesepian..."
Ruang hati begitu hampa terdiam lama menikmati pantai di Ambon
Dalam kesepian yang begitu dalam, tak tertahan
Terimakasih, tuhan

spacer

Renungan Dingin


Oleh Muhammad Naufaldi

Setiap laksana langitku pandangi
Rasa itu tak pernah tepat kusinggahi
Sang mata menatap taman bunga yang ramai
Berwarna-warni menemani hari

Renung pagi, berselimut dingin
Menjadi sebuah asa yang tak tetahan
Setiap rasa dan raga yang mulai mengikuti irama beraturan
Menciptakan rasa yang tak mampu lagi dijelaskan

Secara gamblang bibirku memilih untuk diam
Tanpa ucap dan menikmati setiap relung  dan ruang-ruang hati
Seketika waktu yang menjulang dan memutar diatasku
Berhenti sejenak untuk menikmati bersama-ku

Mengucapkan setiap kata yang tak sekedar diucap
Rasa pengucapan yang tertulis dalam aksara dan dekap
Menjadi pengecoh rasa kantuk
Yang merenungi dirimu penuh pelukan dingin pagi yang menembus raga dan hati terketuk

Magelang, 27 Juli 2020
spacer

Perindu Puan Dalam Hujan


Oleh. Muhammad Naufaldi

Setelah jarak yang aku lawan menghilang
Terjangan derasnya alur kehidupan 
Semenit, dua menit
Merasa cumbu menggoda

Sejalan yang kulalui, sendiri
Setapak dan licin oleh hujan kala itu
Bangkit, semerbak harum mawar dalam hati
Ah, kasih olehmu aku rindu

Lelangitan berteduh, oleh alam
Langkah yang ragu dalam diam
Mencoba kembali tuk mengejar suara detak
Jantung yang kencang berdetak

Hutan hujan dan lembah dingin ini
Menjadi saksi akan mencari dirimu, t'lah kulalui
Laju waktu, hantaman jarak, tak kuhiraukan
Hanya dikau kasih, kumenanti dalam keras arus tetapku menahan
spacer

Puisi Dini Hari: Untuk Perempuan Yang Sedang Hancur Hatinya


Oleh. Muhammad Naufaldi

"Untuk Perempuan Yang Sedang Hancur Hatinya"

Darahku cepat terpompa keotak

Panas dingin raga tersontak

Hati terasa lemah berantak

Tak sekalipun berkata "tidak!"


Pedih, sekali lagi pedih!

Telah kubuka hati, akhir luka dan lungkrah

Sejenak mata menutup, elu pilu menetes

Disaksikan jam berdetak, untuknya terlepas



Lelaki, lelaki itu

Ingatan dalam gelap, merasuki dalam benakku

Membelah, terbelah hati terbagi dan hilang

Menyusup terbawa angin, terdiam ia terbang


Mengalir sejenak dalam pilu

Lekas sudah makna cinta dewasakanku

Purna, purna dan tertutuplah hati

Bermuara, pada labuh terakhir oleh kesembuhan hatiku

Magelang, 2020
spacer

Rasamu dan Kopi Hitamku


Oleh Muhammad Naufaldi

Fajar menjelang, menjelma hangat
Langkah-langkah berhamburan dalam ingatan pekat
Deburan ombak berlarian ketepian
Mendatangiku dan berbisik akan arti sebuah penantian

Jauh kuarungi, bahteraku yang telah rusak ini
Mencari labuh untuk perbaiki
Bahtera untuk mengarungi mimpi
Menghiasi salah satu bintang dan menjadi penerang hati

Kasih, ijinkan berlabuh menjemputmu
Alam dan burung-burung bernyanyi merdu
Menggenggam dalam sembahyang
Mencurahkan riuh doa kepada gusti dalam harap dan angan

Menanti rasamu dan rukun kopi hitam
Oleh sebab, rasa yang tlah lama terpedam
Rengkuhlah maknaku dalam hidup pahit
Bersyahdulah hati memiliki sang dewi langit


spacer

Jakarta



Oleh. Muhammad Naufaldi

Detik, menitik hatiku
Merasuk jam-jam, kerasnya tuan bertahan hidup
Menarik ulur setiap perasaan, hingga lupa rangka manusianya
Tertuduk malu dalam tawa sang surya

Menyesatkan pikir, riuh kotamu yang menghancurkan hati
Tak akan pernah ku lupa sebuah bidikan rasa yang tak sampai
Sungguh derita dan menderita hati
Untuk rasa suci sebuah kisah mencintai

Kasih dan menyayangi
Hanya sebuah kefanaan berujung mati
Raut hati yang mulai resah dan kalut ini
Menghantam beribu batin, menangis


Magelang, 04 Juni 2020
spacer

Amore e Roma

Oleh. Muhammad Naufaldi

-Pioggia nella città di Roma


Sepucuk surat telah tiba, ditengah hujan
Disuatu tempat dalam kehidupan
Persimpangan jalan itu, yang telah basah
Sekarang menjadi saksi sebuah kisah

Kisah cinta, berawal di Roma
Penuh kasih dan sayang merajut cinta

Memerah dalam lengkung senyummu
Aku berluntut pada Gusti, dalam rasa syukurku

Kau hadir, menyapa hati tak berpuan
Cukup menghangatkan rasa dan raga yang t'lah lama terasingkan

2020

-Pantheon Street
Kulihat lagi senyummu mengembang
Seperti roti yang berada di toko itu,
Cukup menggoda rasa khilfaku, dalam cinta disudut jalan pantheon street
Hening, dan cukup mengairahkan rasaku

Kalbuku menjerit, selalu ingin bersamamu
Angin seketika berdesis, melalui sela-sela sempit dan kecil itu

Aku jatuh cinta padamu, dalam senandung langit biru

2019

spacer

Puisi Dini Hari: Ti Amor


Oleh. Muhammad Naufaldi

Ti Amare

Jika saja pagiku, harus berpangku dengan puisi ini
Mungkin langit akan selalu tersenyum, melihat dan riuh berdoa kepada gusti
Dibalut rasa riang, membuatku tak pernah menyesal memiliki-mu, puan.

-Torre pendente

Menusuk rasuk cuaca putih basah dan dingin
Sunyi kepada malam, aku ingin berpesan.
Lirih dalam dasar hati, bergemalah isi hatiku
Getaran jantung yang melambat dengan desis halus angin yang laju

Membawa pesan, tertiup bergulung menuju penjuru kota
Menghantarkan sajak puisi dari dalam hatiku bermula
Berujung pada jalan bersimpang, terbuatnya rencana
Bertemu disudut Torre Pendente yang menjadi saksi kita

spacer

Asmaraloka


Oleh. Muhammad Naufaldi

Dalam haluan angin, suara burung berkicauan
Merdu dalam, senandung rindu keinginan
Keinginan bertemu dalam sukmaku menuntun
Mencari sebuah muara untuk bertemu dalam balut kerinduan

Masa-masa yang semakin pagi, memanjakan dengan kesejukan dalam hati
Memantik rasa, memeluku dalam kalbu yang akan terbit kembali
Sebuah bahtera hati, yang tlah lama menanti
Untuk berlabuh, dan membawamu pergi

Semakin pagi rasa ini terjaga, semakin rindu tak mampu tersampaikan
Suara riuh malam yang bertabur bintang menghiasi perasaan
Dekapan alam, hangat menyapaku dengan fajarnya yang hangat menyongsong diufuk timur, dan berteman embun
Yang tipis menyeka dedaunan, dan menyelimuti hati dengan ketenangan

Tiba kembali hujan menyeka, dan pagi sedikit muram oleh kerinduan
Antara langit dan bumi yang juga sama memadu kasihnya, diantara hening pagi hari memunculkan ketenangan
Ahh, alam selalu membuatku cemburu..
Dengan dekapannya yang erat memelukku hangat didinginnya pagi.


spacer

Sudut Rasa Memburu


Oleh Muhammad Naufaldi

Tiada rasa menyesal dalam diri
Memilikimu, intan mahkota hati
Yang sinar pancarnya tak pernah berhenti
Memilikiku, memeluk hangat hati

Ruang yang hampa, tak berpuan
Apakah sejatinya milikku adalah dirimu ? Atau hanya hembusan angin ?
Sudut rasa yang tlah lama tak mempermainkan perasaan
Sekarang, memburu untuk mencari tujuan dan jawaban

Menagih dan menghajarku diruang bicara
Seyumanmu, yang telah meluluhkan rasa
Dalam dekapan cerita virtual, merajut takjubku saja
Memantik hati, yang t'lah lama purna

Ampuni-ku sudut rasa, jangan memburuku dalam asa
Gambaran hati ini yang tak lagi ingin menyesal, menyekatku dalam tidur raga
Mendekam dalam rasa hampa, yang tak berujung oleh rasa
Memburuku kembali, menyeringai intuisi dan rasa

spacer

Langit dan Lautan


Oleh. Muhammad Naufaldi

Karang nan megah kuat.
Memandangi biru-biru bebercak putih awan dilangit
Ada harapan yang membuat diri kuat
Yaitu sebuah kerinduan yang tak kunjung dapat

Benak karang telah kuat, ingatan tentang langit
Terus memandangi, siang malam tak kunjung tepat
Gusti, melihat karang berjuang
Dalam riuhnya semilir angin, pesan itu datang

Mata hati yang berkilau kilap berlian
Selalu menggoda hanya untuk di maling oleh tangan tak bertanggung jawab
Menyisakan, kembali rasa pedih dan letih
Dalam penantian yang tak pernah temu titik ujung

Laksana langit berkata rindu, karang tahu tak mampu mendapatinya
Namun, Gusti tahu bahwa Karang berjuang keras untuk mencapai langit
Tak ada satupun yang mampu mendapatkan itu, tetapi Gustilah yang menepati
Hubungan kesetiaan tiada tara, bukan jarak dan problematika tanpa penyelesaian
spacer

Malaikat Hujan-ku


Oleh Muhammad Naufaldi

Sang peneduh hati, tiap manusia
Tepat harap-harap itu kau terima
Bahkan tak ada lagi tandingannya
Memberikan segelintir kehidupan akan dahaga ditengah sahara, menetes embun yang menyeka
Tetap dingin dan tenang, hangat yang dengan pelukannya yang tenangkan amarah
Bersama angin ia bergerak, sebagai langkah pasrah dalam kendaraan-nya
Malaikat Hujan-ku
Bertahan dalam kuatnya angin topan, yang siap menyerang.
Dalam pelukan gusti kau menangis, memohon agar sembuhkan lara dari kekalahan
Riuh suara hatinya, doa-doa berterbangan keangkasa.
Menuju, kearah-Nya
Lantas, hatinya kuat menyabar diri
Sosok puan yang selalu sejukan pikiran
Yang halus berbisik, bersama riuhnya hujan yang menyeka
Menetes, dan membasahi bumi
Memberikan harapan kehidupan untuk alam
Seakan hatinya kuat tak mampu lagi yang bisa membukanya
Sudahlah puan, kau kuat hingga tiada ada yang bisa menandingi puan
Dalam, tabahnya, tawakal, hingga riuhnya doa
Ijabah dan ijabah doa itu.

Untukmu puan: Kau yang terkuat, selalu memberikan kekuatan, dan percayalah Gusti memuliakanmu.
spacer

Masa Hidup Sang Karang


Oleh: Muhammad Naufaldi

Pasang itu tlah datang lagi 
Menggulung-gulung berganti
Berlomba-lomba ketepi
Dan Kembali ke samudra lagi

Batu karang, menjulang
Makna kuat nan gersang
Kokoh berdiri, walau dihantam oleh gulungan pasang
Keras menahan bantingan yang tak hilang

Inilah rupa dari cinta, kokoh tak bisa disalahkan
Mendewasakan disetiap waktu,  alam memberi dekapan
Orang-orang berlomba membagi kasih
Ada juga yang berakhir sedih, pedih dan letih

Bertahan ditengah badai dan pasang yang mengamuk
Sang karanglah, gambaran manusia yang sabar
Bak langit yang dirindukan selalu memberi kabar
Dalam bahagia yang menanti diujung labuh.
spacer

Relationship Stages: Proses Terjadinya Sebuah Kebucinan

 
Oleh. Muhammad Naufaldi

Oke, ini mungkin sedikit membahas kebucinan-kebucinan lagi. Tetapi, aku akan selalu menyuarakan bahwa" bucin itu tidak semenyedihkan kata orang". Setelah, menyuarakan bahwa bucin merupakan sebuah hak dan pilihan. Maka, sekarang kita membahas bagaimana hubungan itu bisa terjadi ? Dan bagaimana hubungan itu kokoh atau hacur ? 

Jadi disini, aku akan menjelaskan sedikit saja. Pada relationship stages ini merupakan fenomena yang terjadi pada perbucinan saat ini, dan mungkin menggunakan ilmu komunikasi akan menemukan solusinya.

1. Contact


Pada tahap ini biasanya kita kenal "First Impression", atau tahap pertama kali bertatap muka (bertemu/melihat). Pada tahap ini penampilan fisik menjadi penting, Karena dimensi fisik itu mudah sekali ditangkap oleh panca indera. Namun, disini ada penentu tahap ini kepada hubungan yang semakin baik seperti sikap bersahabat, sikap yang "asyik", sikap yang membuat aman ataupun nyaman, serta kehangatan dan keterbukaan disini menjadi keterungkapnya. Jika orang menyukaimu atau kamu menyukai dia dan berujung ingin melanjutkan ke tahap berikutnya. Nah, disini merupakan bisa dikatakan tahap Pra-PDKT bahasa gaulnya.

2. Involvement (Keterlibatan)


Dalam tahap ini hubungan mulai semakin mengembang, semakin mengetahui jauh tentang teman kita ataupun tentang kekasih kita. Disini orang yang berhubungan dan memasuki tahap ini bisa saja kalian tes, misalnya saja dalam keadaan bucin dimana ketika PDKT kalian pasti akan mengajak kencan mungkin atau jalan bersama, karena saat ini Covid-19 sedang merajalela mungkin contohnya kita bisa video call dengan doi. Nah, pada tahp ini hubungan kalian sudah mulai saling ingin kenal "siapa sih kamu sebenarnya?" ini bisa dikatakan hampir mirip dengan stalker, siapa sih yang enggak pernah stalker? Maka, setelah terjalin hubungan ini akan meningkat ke tahap berikutnya.

3. Intimacy (Keakraban)


Disini, mulailah terjadi yang namanya keterikatan dan "komitmen" dengan diri sendiri dan orang lain untuk menjalin hubungan menjadi teman dekat, sahabat maupun, pacar (kekasih).  Disini peran individu misalnya aku dengan kekasihku (padahal, aku masih jomblo berjangka panjang) sudah mulai intim dalam berkomunikasi. Nah, ditahap ini-nih kebucinan-kebucinan yang terkadang logis dan tidak logis atau sehat dan tidak sehat muncul disini. Mengapa demikian kita bisa melihat tahap keakraban ini mulai menjalin hubungan menjadi seorang pacar (kekasih) itu, Komitmen sudah mengikat pada hubungan kebucinan yaitu pacaran (untuk pemuda dan pemudi saat ini). 

4. Deterioration (Kerusakan)

Kemudian tahap ini seperti "Negara api yang menyerang" sebut saja ini disini muncul sebuah permasalahan yang menimbulkan kerusakan hubungan.. Mulai dari permasalahan seperti cemburu, berbohong dsb, yang menciptakan hubungan ini kurang puas diantara kamu dengan doi. Bahkan, disini mulai ada seperti ingin menjauh dari doi dan mulai merasa hubungan ini seakan mulai  tidak penting lagi bagi kalian begitu wahai yang memiliki kekasih.

5. Repair (Perbaikan)

Disini hubungan yang diserang oleh "Negara api" sudah mulai renggang sangat renggang, bahkan dikabarin cuma di-read doang begitu. hehe!

Pada tahap ini terdapat dua solusi yang mana akan menemukan perbaikan hubungan, lebih tepatnya ni seperti "aku punya pacar kemudian kita lagi ada masalah serta masalah itu belum terpecahkan" maka ini yang pertama  Baikan lagi atas intropeksi diri masing-masing.

6. Dissolution (Pemutusan)

Jadi tahap ini merupakan keputusan yang akan menimbulkan kehancuran hubungan atau akan kembali lagi ke tahap awal. Disini bisa kita misalkan seperti "aku punya pacar kemudian kita lagi ada masalah serta masalah itu belum terpecahkan" maka bisa dilambangkan ini seperti putus (Kandas ditengah jalan). Lebih tepatnya itu disini sudah benar-benar tidak ada hubungan lagi alias sudah "bubar" namun terkadang hubungan ini adakalanya ada rasa penyesalan. Tetapi disini pula bagi yang membina hubungan ini harus pergi dan tidak bisa kembali lagi.
spacer

Puisi Dini Hari: Ramai, Sekerumunan Sepi

Oleh Muhammad Naufaldi

Secarik larik tak purna
Menyisakan hening akan ada
Menjelma, penghebusan halus udara
Lembut, merasuk kesukma

Sepi
Hingga raga membangkitkan diri
Meringankan pikiran ini
Ditengah muramnya hari

Belum juga terbit surya
Rasa, ini sesakan semua raga
Menjulur hingga paru-paru
Yang tak lagi menjelma, bersahabat dengan rasaku

Sepi
Selagi, aku masih dalam riuh kota ini
Akankah, bertemu ditengah lamunan ini
Ringan, tak berbatas ditengah sekerumunan rasa sepi
spacer

Ada Yang Melengkung Namun Bukan Bulan itu #1

 
Oleh. Muhammad Naufaldi

Terakhir hari menjadi sangat muram, tak aku sangka juga akan menjadi seperti ini. Mawas diri atas raga yang tak ingin tersakiti (lagi). Begitu, banyak peristiwa dan kenangan masa lalu yang tak sanggup aku bendung menciptakan rasa perlindungan diri-sendiri yang tatkala ini mungkin untuk diri dan orang lain. Menjelang petang Whatsapp tak ada satu kalipun Notifikasi yang menunjukan tentang segala hal yang ingin dirasakan, "Ya sudah bagus berarti" pikirku dalam benak. 

Ditengah cuaca panas, media-media yang saling mencari rating. Seakan-akan egoisme tak terbendung oleh kalangan atas tidak terlihat hingga akhir-akhir ini aku merasakan media tidak bisa kupercayai lagi. Pademi Covid-19 yang mewabah disaat ini menciptakan nuansa baru dalam hidup yang kadang sulit sekali dipercayai, sangat sulit untuk ditebak maupun diprediksikan. Banyaknya, manusia virtual saat ini memiliki bermacam-macam sifat dan sikap seakan-akan menutup dirinya menjadi "Bermuka tebal" dan memilih untuk menjadi orang lain. Orang-orang virtual mulai menitik beratkan dunianya dengan empiris begitu banyak kejadian-kejadian yang tak disadari oleh manusia-manusia itu. Hingga percintaan dan perbucinan dibawa kedalam virtual "dunia memang begitu saja" lamunanku.

Ada yang indah, ketika senja akan datang nanti atau akankah mendung yang akan menemaniku. Seakan-akan rasa kesepian ini menjadi sebuah daya tarik sendiri untuk menjawab pertanyaan yang ada direlung batinku terdalam, siapa pemilik hati ini Gusti ? 

Tengah berpikir menjadi seorang yang realistis dalam berpikir, senyuman-senyuman yang muncul merupakan sebuah bentuk kebahagiaan yang lalu dalam setiap waktu yang ada. Berharap jika waktu itu bisa kembali dalam sejam saja ingin rasanya bisa menatapi seseorang itu dan ketika ku mengenalnya mungkin aku tak akan sia-siakan hal itu. tatkala akhirnya kita menjadi canggung dan mulailah dari raga yang menjauh diikuti oleh sang raja hati yaitu manusia. Seakan cepat berubah, berdiri disini akhirnya sendiri dan tak ada seorangpun yang lagi menberiku cerita-cerita baru soal kisah yang telah lama hilang rasa.

Hingga, tak ada yang sama sekali kurasakan penyesalan mengapa aku seperti ini. "Melihat seseorang bahagia adalah bentuk bahwa penderitaan yang sedang kau rasakan akan kembali ke gembiraan itu". Bukan berarti aku ingin menderita, namun disini adalah tentang bagaimana kita berusaha mengikhlaskan seseorang untuk menjadi yang lebih dewasa. Toh, soal cinta itu sebatas kawan dekat yang tak tau mau bermuara dimana bahkan bahtera yang ditumpangi bisa saja rusak tertabrak karang karena Gusti Maha Penyayang kepadan Hamba-Nya. Hinggaku menemukan pemikiran "Menjaga hati seseorang, sama saja dengan menjaga anak orang" benar bukan ? dimana yang dijaga hati pasti orangnya juga.

Sedikit, yang kualami senyumanku yang tak segan diiringi rasa iri, cemburu, sakit hati, dan sebagainya mencampur jadi satu. Tetap, saja berdamai dengan masalalu merupakan cara terbaik saling memaafkan dan memberikan senyuman kepada kenangan itu ditambah dengan sedikit kopi hitam dan secari kertas dengan aksara-aksara indah. Yang memulai, bukan soal aku atau kamu namun kita karena itu penentuan tetapi ketika itu sudah mulai memudar bukan berarti kamu bisa menyalahkanku atau aku menyalahkanmu, tapi ini tentang kesadaran masing-masing.

Dengan, sedikit senyumanku "Baiklah ini awal perjalanan baru dengan pemikiran-pemikiran baru tentang percintaan ini. Semoga saja, yang terbaik pilihan itu adalah pilihan Gusti dan tak ada yang menerkaku untuk menjadi ini itu dan lainnya.

spacer

Puisi Dini Hari: Teruntuk Dini



Oleh. Muhammad Naufaldi

Jangankan berpaling menatap langit
Masih saja dalam pijakan bumi dan halusnya rumput
Dini, yang masih berada disana
Dengan senyum manisnya

Mempersiapkan kehangatan
Untuk seseorang yang diinginkan
Mencari dalam renungan doa
Riuh, tak terbatas saja

Lagu-lagu dinyanyikan
Fajar akan jadi saksinya
Lelah dalam pencariannya
Yang tak usai kegelapan

Dini,
Hangat bibirmu, tenang
Menenangkan setenang air mengalir
Hingga, diam-diam penantian terlampaui

Bertemu, dalam keindahan hari
Berulang, dan tak pernah membosankan
Beriku sebuah makna dalam hidup ini
Tak akan pernah, menangis
Dalam tegar yang kuat

Selamat Pagi

Magelang, 11 April 2020

.
spacer

Kala Rindu Menghampiri

 Kala Rindu Menghampiri
 Oleh Muhammad Naufaldi

Pagi, menyambutku
Menghindari selalu kata merindu
Paijo, yang menantang surya paloh
Seakan, dia paling pandai

Petani-petani memanen padi
Hingga merasa tawaku melihat keindahan arti bahagia
Seorang pemuda yang tak kalah bucinnya
Dengan manusia-manusia yang lain-nya

Ku tak tahu, aku bisa merindukan wanita
Tengah, dalam pelukan Gusti yang aman
Hebat cinta menjalinkan
Berjalan tanpa dengan "hadapi bersama"

Keseringan merindu aku ini, dik!
Memikirkan apa yang akan kita lakukan kelak
Canggungkah pertemuan itu nanti
Atau semua begitu mengalir dalam kebahagian
Dan terbaik adalah semoga tuhan memberikanku pelabuhan

Magelang, 10 April 2020

spacer

Puisi Dini Hari: "Doaku Riuh"


Cipt. Muhammad Naufaldi

Dikala pagi, matahari ingin cepat-cepat terbit
Namun, dalam hening mata masih saja belum menghipit
Memikirkan bayang-banya yang tak pernah mampu kucapai
Rasa yang ingin terucap, namun tak mampu sampai

Ah, cinta lagi
Puisi dini hari, cerita dan rangkaian ini
Bak, Tak kunjung usai penantian-mu
Jika aku meminta ijin untuk menanti-mu

Mungkin, Gusti mempertemukan-mu
Adalah salah satu cara agar tercipta rasa dihidupku
Menjelma sedikit kebahagian yang perlahan masuk kebenakku
Menjadi sebuah nada yang selalu ada dialam pikirku

Puisi dini hari
Tidak akan pernah berakhir
Dalam rasa yang meyakinkan
Aku akan medoakanmu riuh disini dalam pelukan alam


spacer

Katakanlah, Walau Hanya Satu Rasa


Cipt. Muhammad Naufaldi

Selamat pagi sambutan hangat
Kicauan burung bersahutan beterbangan
Menciptakan sebuah kebebasan pagi
Tatkala muncul rasa bersyukur

Kembali dalam riuhnya alam mendoa
Mengembalikan tubuhnya
Yang telah lara, kembali
Untuk segera pulih

Katakanlah!
Walau hanya satu rasa
Pemilik hati yang tak henti berjuang
Berjuang, tawakal dan ikhtiar
Untuk dia yang kau cintai

Katakanlah!
Jika itu menyakitkan
Matahari masih sering memberikanmu semangat
Rasa syukur kepada-Nya yang mengobati
Semua rasa lara dan dendam dalam hati

Katakanlah!
Bahwa, cinta perlu dibuktikan
Agar hubungan tidak selamanya dianggap lelucon
Untuk semua insan yang berada 

Walau hanya satu rasa
Cinta tak bisa berdusta
Dalam diam, ditemani pagi yang hangat
Mencintai dalam riuhnya doa
Yang membukakan hati
spacer