Oleh Muhammad Naufaldi
Setiap laksana langitku pandangi
Rasa itu tak pernah tepat kusinggahi
Sang mata menatap taman bunga yang ramai
Sang mata menatap taman bunga yang ramai
Berwarna-warni menemani hari
Renung pagi, berselimut dingin
Menjadi sebuah asa yang tak tetahan
Setiap rasa dan raga yang mulai mengikuti irama beraturan
Menciptakan rasa yang tak mampu lagi dijelaskan
Setiap rasa dan raga yang mulai mengikuti irama beraturan
Menciptakan rasa yang tak mampu lagi dijelaskan
Secara gamblang bibirku memilih untuk diam
Tanpa ucap dan menikmati setiap relung dan ruang-ruang hati
Seketika waktu yang menjulang dan memutar diatasku
Berhenti sejenak untuk menikmati bersama-ku
Seketika waktu yang menjulang dan memutar diatasku
Berhenti sejenak untuk menikmati bersama-ku
Mengucapkan setiap kata yang tak sekedar diucap
Rasa pengucapan yang tertulis dalam aksara dan dekap
Menjadi pengecoh rasa kantuk
Rasa pengucapan yang tertulis dalam aksara dan dekap
Menjadi pengecoh rasa kantuk
Yang merenungi dirimu penuh pelukan dingin pagi yang menembus raga dan hati terketuk
Magelang, 27 Juli 2020

mantap, lanjutkan. 👍👍👍👍
ReplyDelete