Cipt. Muhammad Naufaldi
Pagi ini, masih saja ku terbaring asyik bersama kasur kesayanganku. Tak segera beranjak dari situ aku masih saja menyamankan seluruh badan, padahal tugas sudah mulai memanggil untuk dikerjakan. Ku dengar kicaunya burung burung kecil terbang dan ada yang bertengger seru seakan memanggil "bangunlah, sudah siang", namun ku tak melihat sang fajar yang berada di ufuk timur sana menunjukan salam paginya. Sehingga ku khawatir dia tak hadir menemaniku lagi, membuatku tergugah mencari sang cahaya baru.
Tak bernafsu untuk sarapan pagi ini membuatku bangkit dari persinggahan sementara itu menuju ke dapur. Seperti biasa di temani lagu-lagu pop seperti MLTR dan beberapa yang lainnya, masih saja ku perlahan menunggu suara bunyi air mendidih dan menyiapkan amunisi yang pasti itu tidak jauh dari kopi.
Mengapa kopi ?
Terkadang kopi mengajarkan kita betapa sabar hidup kita ini sebenarnya, tidak memandang kelas maupun kelompok tertentu. Tetapi, kopi juga salah satu cara pelampiasan terbaik untuk menjadi manusia yang lebih berakal dan menjadi semakin baik. Selain itu, kopi menjadi salah satu penawar kerinduan dan kesakitan rasa dalam perasaan.
Kusiapkan segala amunisi yang akan menemani pagi, sambil ku menyimak segala hiruk-pikuk keadaan sekitar maupun negara melalui berita-berita yang ada di televisi pagi ini. Sebelum ku seruput kopi panas itu, aku menyiapkan sebuah buku dimana didalamnya tertulis sebuah nama yang membuatku tidak bisa menolak kehadirannya walaupun sebenarnya aku sedang menanti dia dalam perjuangan.
"Tak kusangka….." dalam benakku
"Masih, kusimpan handwritting ini…" lanjutku tergumam
"Masih, kusimpan handwritting ini…" lanjutku tergumam
Masih, saja ku ingat bagaimana pertemuan itu terjadi dan kau memberikan selembar kertas berisikan namaku. Pembelaan yang sangat-sangat berdosa, hingga melakukan perjalanan yang panjang agar bisa bertemunya. Perjalanan Magelang-Jogja yang telah menjadi tempat peraduan dan peperangan itu pecah, hingga kerinduan ini berbentuk dendam. Pertengahan jalan terdapat pertikaian batin yang tidak dapat terhindarkan.
"Apakah ini pantas untuk ku perjuangkan ??" aku hanya diam termenung dan tetap ku yakinkan teguh semua ini.
Dan akhirnya, ku teguh dengan semua ini. Kusiapkan semua yang akan menjadi konsekuensi, walau tetap saja namanya yang berhubungan dengan "cinta" semuanya tetap sama itu adalah proses.
Konsekuensi ?
Cinta adalah sebuah kata bermakna majemuk yang sangat banyak sehingga bisa diartikan melalui kalimat yang dirujuknya. Sedangkan, konsekuensi itu adalah hal yang terjadi adanya sebab-akibat, dan cinta memiliki konsekuensi yang beragam tak tahu seberapa dalamnya itu.
Hingga membuat aku, mereka dan siapapun itu merasa seperti bermain dalam lingkaran yang dilarang.
Kulanjutkan di beranda rumah, kunikmati awan mendung hari ini walaupun cahaya surya muncul dari timur tetap saja aku merasa hampa untuk saat ini. Duduk termenung, memikirkanmu yang memang selalu saja hadir dalam otak dan hati ini tak terhitung bahkan ku juga tak mampu hitung.
Namun, aku bersyukur kamu hadir di tengah kegelisahan diriku yang mencari sebuah cahaya yang telah lama membuatku menutup hati kepada siapapun itu. Hingga pesan dalam artinya saja aku maknai tidak pandang bulu, kata seorang teman "bucin, ambyar, bucin, ambyar" namun sebenarnya aku paham dengan makna itu. Itu adalah makna dimana aku sedang mencari identitas diri tentang sebuah cinta yang memang harus digali agar menemukan seorang yang memang pantas, aku berusaha dan berdoa, Allah yang memberi dan mengatur semuanya.

No comments:
Post a Comment