Manusiawi Babagan Ambyar, Sayang dan Kesetiaan



Cipt. Muhammad Naufaldi

Pada intinya, kita manusia hidup berdampingan dengan banyak orang bahkan membentuk relasi-relasi serta kelompok kelompok yang banyak. Menciptakan lingkungan-lingkungan baru terhadap diri manusia-manusia lain.
Tuntunan sudah ada, jalan sudah diatur, namun terkadang kita lupa sebagai manusia. Hak yang dimiliki adalah mutlak tak bisa diganggu gugat, bahkan seperti keyakinan saja itu sudah di atur. Apalagi soal percintaan yang rumit, bikin pusing kepala.
Menjelang pagi, dari malam yang gelap masih saja tertunduk lemah aku di balik jendela yang akanku buka untuk segera menikmati fajar pagi itu. Di dendangkan lagu indie pagi itu membuat rasa malas ku bertambah, setibanya malas itu muncul sebuah benak lakukan secara serentak membuatku bangun belingsatan pagi itu.

"Apa-apaan ini? Pagiku masih lusuh dengan muka bantal?"

Tak kusangka pagi ini sudah sangat merepotkan hariku, bahkan tak kusangka sudah di telepon oleh dinda yang sengaja membangunkanku. Dalam pikirku masih halu saja, tak mampu melihat kebenaran. Diujung waktu sebelum berangkatku masih saja ku melihat mataku yang halu ini, mampu mendapatkan dia.

Ah, apakah aku se-egois itu ?
Tidak, sebenarnya egois itu bukan kata yang selalu negatif untuk di maknai. Hanya saja, karena streotipe kata egois selalu negatif maka orang akan memaknai itu negatif. Namun, jika kita berpikir lebih positif maka makana negatif tidak akan muncul. Bahkan memunculkan keseimbangan antara positif dan negatif.
Secara ilmiah egois itu berdampak seolah karena kita sendiri, namun aku tidak berpikir seperti itu karena ketika perilaku manusia lain memperlakukan kita secara tidak sesuai. Mungkin saja itu bisa membuat kita menjadi seorang yang egois.

Ditengah perjalanan itu, rasa curiga, rasa cemburu masih saja terasa bahkan tak hilang. Hingga akhirnya memutuskan untuk mengatakan "iya, ini adalah sebuah konsekuensi" itu membuat diriku bertahan dalam kebimbangan yang dia rasakan. Bahkan tak pernah rasa manusiawi ini menjadi alasan untuk mundur, entah dan mengapa itu bisa terjadi. Tapi waktu akan menjelaskan.
Konsekuensi yang dikerjakan apa ??

Menerawang seakan kita tau, tidak semuanya akan abadi. Ikhlas yang ada saat ini adalah pondasi bagaimana hubungan itu berjalan, bahkan proses yang menjadikan kita ikhlas dan banyak makna arti.

Dipertemuan ini, bersama cerita lembaran baru masih saja ku memandang wajahnya. Yang masih menunggu kepastian seorang laki-laki bahkan tak pernah lelah menunggu untuknya. Sedangkan aku hanya mampu melihat matanya yang berbinar menunggu kepastian seorang laki-laki yang dia selalu ceritakan kepadaku. Menghilang tak memberi kabar dan tak memberikan kepastian itu.

Setelah mencapai titik dimana, rasa ini murni tidak mengada-ada. Malah, laki-laki itulah mempermainkan hati perempuan ini dengan mengatakan semua ini hanya "prank" lucunya lagi dia tak merasa atas tindakannya. Itukah yang menjadikan semua lucu ? Tidak itu menyakitkan yang sebenarnya.

Diujung pertemuan itu, secangkir kopi tubruk ala robusta menemani hari bersama dia. Dimana kopi itu telah menjadi saksi, sepahit apa kisah ini? Salah satu part jenis percintaan yang telah lama hilang rasa seketika muncul dengan tiba-tiba. Bahkan, aku hanya menatap matanya, wajahnya, dengan senyuman yang menandakan aku lega. Namun, hati terasa ambyar. Namun, tetap saja disini ada sebuah pesan dimana pesan itu banyak banyak terselip disetiap kalimat. Apapun itu dahulukan kepentingan orang lain, kemudian jangan memaksakan dia yang kamu cintai untuk mencitaimu (kamu boleh berjuang), terus jangan lupakan jalan dirimu sendiri dan jadi dirimu sendiri.
Share:
spacer

No comments:

Post a Comment