Aku, Kamu, Jogja dan Senja.


Mulai dari malam perjalananku terhenti untuk kembali pulang, dimana aku sedang duduk bersama dengan secangkir iced coffee  yang ku nikmati dengan malam yang segera menjelang. Keseharian yang telah berlalu banyak hal yang didapatkan, momen yang singkat membuatku merindukannya lagi tetapi membuatku agak kesal sebenarnya. Tak kusangka hari yang selalu tidak direncanakan bisa menjadi hari yang paling special dan menyenangkan rasa hati bertemu dengan seorang “pujaan hati”. Hari yang hanya sebenarnya biasa saja menjadi luar biasa dan berarti akan hal yang tak pernah kita duga, seketika bisa langsung terjadi. Sedikit, malu bertemunya untuk kesekian kali namun rasa yang tak pernah berubah seakan menjadi pondasi dalam menjalin sebuah hubungan yang semakin erat. 

“Halo, pal” kata tutur yang halus
“hehe, hei” jawabku dengan sedikit ketawa karena melihat dari spion yang telah lama memandanginya.
“jadi, kita akan kemana pal ??” katanya
“aku ikut saja, mau kemana yang penting bisa foto” jawabku

Percakapan yang singkat tetapi membuat waktuku yang terbatas bersamanya, menjadi sangat berarti dan bermakna. Tak pernah ku bayangkan ini menjadi salah satu langkah besar dimana 4 tahun lalu aku memang tak berpikir untuk memiliki seorang perempuan lagi, tersakiti hatinya lantaran di khianati. Sore yang menjadi malam tak pernah menghianatiku hari ini, dia yang memberiku sebuah harapan itu menjadikanku seorang yang berani keluar dari zona nyamanku selama 4 tahun terakhir ini. 

Masih kurasakan tatapan matanya yang membuatku tak bisa melupakannya serta membuatku memikirkannya terus menerus.  Duduk merasakan letihnya hari dengan sedikit campuran “café latte” yang memikat untuk dirasakan seakan memanggil untuk dirasakan bersama hari yang menjelang malam. Tidak bisa, melepasnya demikian karena sangat rindu atau juga dia merasakan rasa yang sama menggetarkan hati yang pernah keras hingga benar-benar ku dibuat meleleh hatinya. Terkadang aku berpikir “apakah ini akan menjadi sebuah kisah yang akan panjang?” kata hati. Ingin rasanya aku merasakan hal yang memang dirasakan orang lain, berbagi sebuah kehangatan canda gurau dengan seorang lagi untuk melengkapi hati ini. Bukan, sekedar kata apabila kamu membaca sebuah ini tapi aku saja tak berubah pikirannya dengan rasa ini serta akan sesama menunggumu melihatmu menjagamu. Namun, ku percaya luka yang pernah membekas bisa hilang kembali dan luka itu bisa menjadi pembelajaran untukku. 

Suasana jogja sore itu, matahari akan segera terbenam ditengah ramainya kota itu tidak menghilangkan khasnya dengan julukan kota pendidikan. Ramainya jalan-jalan orang pada bergelut dengan macet lantaran ingin segera kembali ke tempat masing-masing. Kebahagiaan, sedih, sakit dsb bercampur pada hari itu tidak hanya satu orang namun semua orang. Lantaran kedapatan diriku hanya memiliki waktu yang sangat-sangat terbatas, dalam kerinduan yang hening dan diam, aku hanya mampu mensyukurii yang telah terjadi sore menjelang malam. Tak kusangka, hati yang selama ini benar-benar beku dalam waktu yang cepat mampu leleh olehnya.

Setelah lama mencari jawaban dunia, kehilangan yang sangat dalam dan terpapar oleh pasang surut zona nyaman yang tak mengizinkanku keluar. Setelah enggan rasanya, sore menjelang malam langit-langit mulai menjingga hingga kemerahan tua ditemanimu sore itu, aku senang terlebih jika kamu duduk bersamaku. Hingga perbincangan ngaco, ketawa-ketiwi, serta menciptakaan sebuah keirian oleh senja itu yang memang telah menua. Namun, kunjung saja kota itu tak pernah membohongi hatiku, hingga habis waktu menuju detik terakhir waktu. 

Cinta?
Cinta itu sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. itu adalah pengertian secara umum. Namun, menurutku cinta adalah sebuah proses kehilangan dimana semua akan terobati dan kemudian akan pulih seperti semula bahkan tidak ada kata harus memiliki saja kita bisa menganggapnya itu "cinta". Namun, paling penting adalah cinta yang benar-benar itu tidak pernah mendua dan pasti hingga akhir hayat.
Share:
spacer