Cipt: Muhammad Naufaldi
Puisiku adalah puisimu
Tentangmu juga tentangku
Menunggu dalam harap
Setelah hampir 1200 hari
Tentangmu juga tentangku
Menunggu dalam harap
Setelah hampir 1200 hari
Ku tunggu harap
Menjadi keberuntungan
Selama perjalanan ini
Sepi, sendiri, dan terpuruk
Menjadi keberuntungan
Selama perjalanan ini
Sepi, sendiri, dan terpuruk
Tak mendengarkan kata hati
Terluka yang hadir
Mendengarkan kata hati
Konsekuensi hati adalah luka
Terluka yang hadir
Mendengarkan kata hati
Konsekuensi hati adalah luka
Tidak masalah aku menunggumu
Dalam lembar baru
Yang ingin kutulis dengan aksara
Dalam genggaman pena ini
Dalam lembar baru
Yang ingin kutulis dengan aksara
Dalam genggaman pena ini
Aku telah lama bersama harap
Labuhan yang telah lama tidak jumpa
Terombang ambingkan ombak
Dalam aksara-aksara puisi yang hilang
Labuhan yang telah lama tidak jumpa
Terombang ambingkan ombak
Dalam aksara-aksara puisi yang hilang
Tak pernah marah padamu
Harapan muncul, namun kadang hilang
Terkadang yang hilang
Menjadikan arti
Harapan muncul, namun kadang hilang
Terkadang yang hilang
Menjadikan arti
Berapa banyak badai yang kutempuh
Jiwa yang hampir membeku
Mati lemas, tak berdaya dalam keras
Dingin, tak beradab.
Jiwa yang hampir membeku
Mati lemas, tak berdaya dalam keras
Dingin, tak beradab.
Hati yang lama sendiri
Juga butuh tempat berlabuh
Biarkan saja
Entah kapan waktu akan menjawab
Dimana akan berhenti
Atau mungkin akan hilang lagi
Juga butuh tempat berlabuh
Biarkan saja
Entah kapan waktu akan menjawab
Dimana akan berhenti
Atau mungkin akan hilang lagi
No comments:
Post a Comment