Pesan Untuk Penulis Tak Dikenal



Setelah perseteruan yang panjang aku memulai perjalanan dalam sepi yang terkadang menjerumuskanku kedalam ikatan itu. Semua tlah atau akan berlalu mungkin. Tetapi entah mengapa tak ada sejengkal rasa yang menghibur hanya sebuah rasa yang muram dan tegang, bahkan ketika pesan ini ditulis untuk seorang tak dikenalnya untuk penulis. Sekian lama tidak lupa dengan yang terjadi perjalanan hari menjadi sedikit mengikuti suasana hati yaitu muram  padahal sang penulis ingin merasa "Unjuk Gigi" supaya tidak bosan berada dirumah tetapi malah terjebak oleh "Kebosanan Yang Memburu"... batinku bergumam.


Sore itu masih datang dengan sedikit mendung setengah matahari muncul dan menepuk kerongkongan jam dinding klasik yang tersedak mengeluarkan suara "teng-teng-teng" selama lima kali. Tak terbujuk apapun tatapanku hanya membaca-baca beberapa berita dan artikel ringan lantunan puisi Alfin Rizal yang tlah lama usang didalam sebuah website itu. Kubaca-baca dan seterusnya hingga menemukan penulis yang tak dikenal itu dalam diri setiap penulis dan terkadang lupa akan siapa diri. Kesadaran yang membuatku tersedak sedikit karena terkejut akan otak yang bekerja 2x lebih keras dibanding dengan biasanya. Ketawa dengan lagak akan genius padahal juga tidak hanya pemula dalam kehidupan menulis.

Sejenak menanti, terlalui banyak sekali hal. Begitu indah memang menikmati sore yang setengah menjingga. Tidak perlu menjadi seorang yang keren untuk menjadi penulis karena semua dilalui dengan proses berkembang. Sungguh waktu seperti itu aku merasa cukup banyak inspirasi yang tak sungkan aku munculkan. Selain itu aku selalu merasa menyesal karena tidak menulis. Bahkan sedihnya lagi aku merasa kehilangan jika tidak menulis.

"Ibarat langit dan bumi udara menjadi sebuah keperluan yang sangat penting. Bahkan hingga mentari kembali ditemani oleh gelap dan berpindah disisi lain aku merasa nikmat itu datang dari Tuhan."

Begitu melawannya hari hingga rasa itu menjadi kehilangan. Menulis itu tentang hidup yang memiliki banyak aspek. Kurasa cinta dan tulisan adalah sebuah yang benar-benar tlah hidup abadi menciptakan romansa yang tak pernah hilang dari muka bumi.

Pesan itu menjadi raungan harimau bagi penulis tak dikenal bahkan tak mengenal secara utuh. Aku malu begitu mengakui seorang pecinta namun aku melupakan cinta akan menulis. Si Mang Kribo pasti sama tak mau kalah dalam menulis sebuah sajak-sajak yang melukiskan harinya, atau mungkin Alfin Rizal dengan kata-kata yang menyentuh prosa dan kata yang tinggi. Sebuah pencapaian adalah perkembangan itu katanya, tapi bagaimana dengan sebuah hasil ? Lupakan! kita tak pernah akan tahu soal hasil namun menulis itu seperti mencintai dalam diam dan tak kenal lelah. 

Untuk blog ini pesan disampaikan kepada penulis tak dikenal yang sering memunculkan inspirasi dan giginya yang terkadang membuat luluh. Suara-suara itu tlah tersampaikan dalam sejarah yang abadi. Akankah pesan ini masuk kedalam hati penulis tak dikenal atau hanya akan dibaca saja (Aku merasa sedih jika tak dihayati). karena pesan ini aku berharap penulis tak dikenal akan menjadi dikenang hingga akhir hayat dan tetap abadi didalam aksara sastra penulisan.

spacer

Selusin Rindu

Oleh Muhammad Naufaldi

Genggaman itu, membekas akan telapak ini
Sungguh heran, malam terasa semakin sunyi
Selusin rindu, menghantam melalui dingin malam
Menutup hari, kunjung dalam ruang yang muram

Manisku, sedikit gula kutambahkan diantara kopi dan susu
Setertarik hati, diamku riuh dalam doa untukmu
Begitu rindu aku, dalam lusinan rindu
Menumpuk kuat dalam dingin malamku

Sejenak susah hati, bahagia hadir
Ketika kuingat, benak senyummu manis membuatku berdebar
Diantara doa untukmu dan panjatan kepada Tuhan
Segala rasa, meresap dalam hati dan alam kesadaran

Manisku, jangan bersedih akan rindu
Sungguh tatkala pagi datang, menjelmalah riuh doaku menjadi bahagiamu
Iringi langkahmu, dalam raga yang berjuang
Mengarungi setiap aksara rindu yang teguh seperti karang.

Magelang, 21 September 2020
spacer

Komunikasi dan Seni: Sebuah Peragaan Tajam akan Kritikan


oleh. Muhammad Naufaldi

Menurutku Komunikasi merupakan salah satu peragaan seni yang sangat banyak digunakan dimedia maupun platform-platform yang naik daun saat ini. Semakin banyak menggunakan sosial media atau platform ini menciptakan banyak sekali analisis baru yang juga sama bermunculan pada artikel-artikel penelitian. Namun bagaimana seorang meragakan berkomunikasi peka akan menjadi seorang kritis itu sangat rendah sekali saat ini. Hidup di Negara yang memiliki rasa Demokrasi atau kebebasan berpendapat dan bersikap kritis malah kurang diperhatikan oleh seorang ataupun beberapa orang bahwa hal tersebut merupakan seni dalam berkomunikasi juga.

pernah membayangkan film the king speach jika diperagakan oleh semua masyarakat untuk mengkritisi keadaan saat ini menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan. Tidak kalah menyenangkan dibanding melukis, menulis dan sebagainya.

Kita membuktikan bahwa komunikasi dan seni merupakan sebuah kesatuan yang bisa dibilang berseberangan. Namun, tidak dapat dipungkiri komunikasi dan seni itu satu kesatuan juga yang sengaja diciptakan untuk menanggapi berbagai hal. Bahkan, mengkritisi sebuah pandangan dan menanggapi sebuah kesalahan pemerintahan yang seharusnya bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua.

Tidak jauh dengan yang namanya komunikasi, seni dan kritikan tajam, peningkatan literasi menjadi sebuah iring-iringan yang tidak bisa terlepas begitu saja.

Inilah yang seharusnya dipelajari oleh para remaja milenial saat ini, generasi yang mampu merubah indonesia kedepannya. Tidak ada kata terlambat untuk mempelajarinya karena itu sangat dibutuhkan, tidak ssekedar mengobral janji-janji manis yang menuai pemasalahan baru atau memunculkan permasalahan yang tidak diinginkan.

Peragaan yang tajam akan kritikan ini lebih didominasi untuk seorang agar mempelajari bagaimana melemparkan pertanyaan-pertanyaan logis dan cukup untuk dijelaskan secara eksekusinya. orang-orang yang pandai dan peka akan sebuah kritikan akan mencoba memahami begitu banyak hal dan aspek serta melihat bagaimana cara untuk menemukan solusi jangka panjang dan pendek.

Belajar melemparkan pertanyaan kepada mereka yang lebih jauh diatas kita itu adalah penting. Cukup penting dengan menggunakan bahasa yang tepat dan benar.

Mengapa hal itu penting ?

Sekali lagi dalam penekanan, mengkritisi sebuah hal itu sangat penting sekali. Dibutuhkan banyak jam terbang dan literasi yang banyak agar mampu diselesaikan. Menjadi tidaklah mudah banyak dipertaruhkan untuk mencapai sebuah kepuasan terhadap sendiri. Kepuasan mengkritisi merupakan kepuasan sekunder dan tidak begitu terasa melesat didalam bawah alam sadar, tetapi tertancap di dalam pikiran mereka dan menciptakan kesadaran.

Dalam mengkritisi satu hal juga bisa meningkatkan cara penggunaan diksi dan semakin banyak belajar dalam memperbaiki ejaan bahasa indonesia, Peningkatan ini karena kesadaran sosial dan kesadaran akan pentingnya hidup sosial, bahkan peningkatan ini sangat tidak disadari oleh diri sendiri tapi terdorong oleh alam bawah sadar.

Jadi bagaimana kaum milenial ? Menjadi kritis atau menjadi seorang yang hanya rebahan dikamar ? ini membuatmu sadar betapa penting akar dari namanya kritis dan kritik. Cukup luas tetapi sangat mudah untuk dilakukan jika "terbiasa". Tidak ada yang salah ketika ingin menjadi benar, kecuali hanya orang-orang yang menyepelekan sebuah konsep dari kritik tersebut. Inilah yang kita lawan bersama-sama.

spacer

Malioboro Gemerlap Kota Yogyakarta



Oleh. Muhammad Naufaldi

"teruntuk kamu, yang aku rindukan bersama riuhnya kota-mu yaitu Yogyakarta. Maaf, jika kutahan semua rasa ini."


Lampu kota bersinar cukup terang

Tak redup, menemani rasa senang

Walau hati ini begitu rapuh

Aku berdiri dalam sudut rasa pasrah


Malioboro kala itu, menenangkan

Sesepi dari riuhnya kota pukul 2 pagi

Heningnya yang membuat semua lelap

Dalam pelukan pagi yang buta nan dingin


Semakin gundah rasaku

Aku tlah kembali jatuh cinta dengan-mu

Panah hangat menghujam jantung

bak, mengujam langit malam dengan bintang


Kurasa-rasa kota ini menjelma rindu

Akankah pertemuan berpihak kepada kita

Hari manis nan indah kota-mu dalam bahagia

Esok hari jumpaku kepadamu, aku rindu!


Yogyakarta, 03 September 2020

spacer

Pantai Liang

 


 Oleh. Muhammad Naufaldi

Ada yang aku rindukan dari sebuah pantai
Tempat lahir ibu yang indah dalam pelukan garis pantai
Tak pernah aku merasakan kesejukan biru laut
Yang menjelma dalam gubuk aku terduduk merenung kepulangan yang bersekat

Ruang yang luas, matahari yang menyengat
Segarnya suara air berkejaran menuju sudut
Bertebaran pasir putihnya yang menjelma seperti rasa
Sungguh kehilangan gairah dalam pelukan alam semesta

Kuingat lagi, betapa rindunya memiliki seorang
 Rintihku keras dihadapan Tuhan, dalam doa yang begitu meriuhkan
Takjubku melihat maha karya-Nya dalam rasa hati yang bingung
Anak-anak terlihat gembira bermain air dan bercipratan air seperti permata berkilauan

Ahh, pikirku "Gusti, aku merasa kesepian..."
Ruang hati begitu hampa terdiam lama menikmati pantai di Ambon
Dalam kesepian yang begitu dalam, tak tertahan
Terimakasih, tuhan

spacer