Resah, Hancur, dan Mendung



Cipt: Muhammad Naufaldi

Lagi-lagi dan lagi
Sebuah pukulan mendarat tempat dihati
Menghancurkan segala hal yang tak akan kembali lagi
Mungkin, itu adalah arti patah hati

Namun, kembali lagi
Usahapun tak ada hasil
Bahkan, dalam diam "biar tahu" kataku
Memang, arti cemburu itu tidak menentu

Gusti, akankah?
Saya menjadi pemuja yang tidak sehat?
Menjadi seorang yang cemburu dalam hal ini
Ampunilah, segala rasa dan tubuh ini

Tak satupun
Manusia yang diam itu adalah terkuat
Atau dalam langkah yang tidak terdengar
Menembus setiap, rintik hujan

Gusti, Akankah ?
Aku menjadi seorang yang dimata-Mu adalah baik
Aku hamba-Mu yang tak punya rasa ingin kembali
Tetapi tak ada rasa yang bersembunyi 

Awan mendung ?
Itu sudah pertanda baik dalam hati
Untuk apa aku marah ?
Siapa dia yang tak tahu tentangku

Langkah-langkah, kupercayakan
Kepada-Mu Gusti
Rasa percaya, atau hanya sebatas percaya dalam dusta
Aku berserah kepada-Mu

Hati tak segan lagi
Namun, Lara yang datang kembali
Membunuh setiap syaraf akal
Dan memberhentikan waktu lebih lama dan kekal

Tak sering
Tak akan lagi sering
Melibatkan ini tanpa-Mu Gusti
Kututup hasrat dan telinga
Kututup mata dan air mataku
Dikala raga tersenyum
Dikala hati hancur
Yakinkan diriku, aku cukup mampu dengan ini

Maaf, sekali lagi maaf
Aku tak punya hak dalam diamku ini
Namun, ku yakinkan ini rasa sayang bukan untuk permainan belaka
Atau hanya sekali pakai.
spacer

Kadung Cinta: Untuk Dikau Adinda

Cipt: Muhammad Naufaldi

Heningnya pagi ini
Meringkusku dalam kesendirian
Yang merindu pada diri-mu
Dalam sudut kamar ini.

Banyak yang berlalu
Lelah yang berganti dengan harapan
Saling menguatkan
Agar berujung indah

Masih, terlalu pagi
Kalam ini, mungkin salah satu maafku
Menghening dalam keriuhan lalu lalang
Merindukan-mu ciptaan-Nya yang istimewa

Kau tau adinda, Cinta tidak lebih dekat
Rindu tak lebih dari jauh
Segala yang telah melekat
Darimu seutuhnya-utuh

Akupun melantunkan rindu
Memohon kepada Gusti
Sampaikan rasa maaf ini
Semoga ini menjadi obat hatimu
spacer

Terlelap Terbit


Cipt. Muhammad Naufaldi

Kau tahu betapa aku mengaggumimu ?
Mengaggumi sisi indahmu dari sisi gelapku
Bahkan, hanya terpendam dalam diam
Yang tak mampu mengungkapkannya

Ku tahu ini terlalu pagi
Namun, aku selalu merindu ditengah hening
Mengasah kuat, memekarkan sabar
Penantian yang tak kunjung usai

Aku tak ingin berkhayal dengan kekosongan fantasi
Tetapi, ingin nyata yang ada
Aku ingin sebuah rasa
Namun, asa tak bisa terpaksa

Aku tahu, bisa saja aku gila
Kepalang cinta yang tak kunjung bertemu
Atau saja aku terlalu payah
Dalam mengungkapkan rasa hati yang ada

Dik, untukmu aku tak mampu
Tak mampu menahan rasa, bantu aku ungkapkan
Untuk lagi, menutup lara lama
Lara yang tak kunjung kau obati
spacer

Secarik Rindu


 
Oleh: Muhammad Naufaldi

Pernah kutuliskan sebuah rasa
Ditengah alunan musik merdu
Yang tak pernah menghianati
Secarik rindu

Mengabadikan waktu yang tak henti
Menahan rasa bertemu
Untuk berlabuh dalam genggaman harap
Menanti tangan berjabat hangat

Secarik rindu
Tak pernah hilang, abadi dalam puisi
Sebagai pena yang akan menulis kata
dan kata akan saling melengkapi menjadikan kalimat

Dan waktu akan tertunduk malu
Semburat merah terlihat
Melihat pesan, yang tak akan lekang oleh waktu
Abadi dalam secarik kertas bertuliskan kata-kata rindu

spacer

Seriuh Hujan, Berpatah Hati

Cipt. Muhammad Naufaldi

Rerintikan disiang hari
Menjelma riuh suara-suara itu
Dalam keberdukaan hati
Yang tercipta oleh lara

Untuk apa kita menangisi hujan ?
Padahal, hujan menangis jua
Cinta sejati seperti apa ?
Seperti angin kencang yang menemani hujan

Seberapa deras air mengalir?
Perdebatan antara gemuruh petir dengan awan mendung
Akankah dingin ini setia menemanimu?
Menemanimu hingga hilang lara

Percayalah, pasti akan ada muncul semberut
Lesung pipi, hangat menemani
Dibalik sebuah rasa, yang membungkam
Untuk dibebaskan, dalam rasa keberdukaan oleh lara
Yang menciptakaan kebetulan dalam kebahagiaan
spacer