Puisi: Puas dan Ragu Pagi Hari

 
Oleh Muhammad Naufaldi

Semua syairku
Kutekankan pada rindu
Rindu yang menjelma dalam pagi dingin
Setengah sadar, dalam rasa kehilangan yang kumimpikan

Taman yang berbunga
Menciptakan rasa yang dinamakan cinta
Tak terlanjur untuk merindu kasih
Pada harapan yang t'lah jadi lungkrah

Semua batin ini
Kerinduan dalam melodia
Tlah memaksa rasa muncul dalam pagi
Tersasar lagi dalam ruang ragu yang hampa
 
Sejenak langkah mendendamku
Sang laut tlah melabuhkanku
Dalam pelukan sang semesta
Rasa puas dalam kebahagian yang penantian bersama


spacer

Bulan Juli Dan D/MI Café


Oleh Muhammad Naufaldi

Sebentar lagi Juli telah habis, mereka yang masih saja keras kepala terhadap dirinya adalah selalu benar. Yah begitulah singkat ceritanya. Selama masa new normal aku merasa kekosongan dalam hati dan pikiranku tentang asmara yang tersingkir oleh banyak percobaan dalam langkah yang tak berarah namun dalam tujuan yang sama.

Senyap malam itu dan riuhnya kota menjadi sebuah komposisi energis yang tak terlihat dalam sayap emas sang malaikat yang membantu mencari keadilan dan ikut andil dalam renung kami sang hamba yang ingin mencari kebenaran. Semua tak segan untuk menyapa berkenalan hingga menjadi kawan, sajak-sajak yang dilantunkan bait yang disebarkan dan dibacanya menjadi saksi malam yang tak terlewatkan. Hebat memang!

Malam itu dalam renung aku sedang memikirkan betapa hebat sang penulis pram yang menorehkan catatan prestasi berekor dunia dalam sekedar tulisan penuh makna. Bayangkan saja betapa indah hati ini jika saja tulisan membuatku menjadi sebuah sejarah dalam dunia dan abadi tiada henti. Gumamku saja yang merasa ingin tetap menaruh hati kepada tulisan bukan kepada hati seorang.

Perjalananku ini dimulai dalam gelap malam yang tidak terlalu pekat namun berada dipertengahan senja yang semakin menyenangkan. Persekutuan mendekati sebuah kafe yang tidak terlalu besar namun penuh makna dan kenangan yang semerbak harum mawar perjuangan mencari keadilan yang tak pudar sekalipun. Merapatkan kuda besiku yang cukup mencerna setiap amarahku, hati ini dalam keadaan gundah. perkumpulan itu menjadi tempat kenyamanan baru diluar rumah dan penawar rindu selama ini.

"Ruang Tanpa Sekat, Hmmm sebuah nama yang bagus juga untuk dijadikan nama belakang menarik seorang." Seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan kuliah dan KKN saat ini

"Iya begitulah mbak, insyallah tahun ini bukuku akan ku terbitkan dengan salam hangat dan kasih sayang" kataku menjawab

"Semoga berhasil mas dalam kepenulisan ini." singkat saja pesan whatsapp yang ditutup karena aku sendiri sedang berada diluar

Semua saja berjalan dengan nyaman dan aman, hingga terlihatlah fajar jumat waktu itu aku masih saja memikirkan setiap langkah yang positif dan ingin kulakukan untuk bisa dirayakan bersama orang-orang yang kukenal dan yang membutuh sebuah mood positif. Kubuatkan sedikit puisi dalam rasa kekecewaan terhadap rindu yang sebenarnya adalah bukan tentang kebutaan atau keterbudakan cinta. Sering sekali seorang menganggap bucin adalah hal yang menjengkelkan dan membuat iri. padahal kita bisa membuat bucin itu ada dihadapan kita dan mencerna setiap rasa itu dan serta mertalah menjadi bucin. Aku tidak terlalu Naif untuk menjadi seorang pecinta yang saat ini belum juga bertuan, tetap menjadi diriku sendiri yang mecinta dalam rahasia tuhan dan entah letak rasa itu dimana tertimbun oleh tulisan asa dan kekhawatiranku.

Sore dan senja menjelanglah malam, pertengkaran batin dimulai dalam rasa yang tak semakin tenang dan khawatir yang tak kunjung mereda. Kusulutkan rokok dengan api yang kecil dan manis namun mematikan jika membakar suatu hal, maka kutatap api itu dan berkata batin didalam raga yang ber-ruh ini atas kehendak-Nya.

"Kenapa api selalu menyulut, membakar dan mematikan ? padahal api adalah abadi jika kita mengenal dewa bernama AGNI yang biasa kita kenal sebagai api abadi." gumamku dalam perjalanan yang tehrenti karena merokok.

Aku perokok yang aktif bisa dikatakan seperti itu walaupun aku tidak begitu peduli dengan apa yang saat ini kurasa, tetapi aku sangat pro terhadap masyarakat dan rakyat. Banyak, sangat banyak sekali hal yang ingin kuungkapkan dalam rasa perjuanganku dalam berpuisi. Hingga akhirnya gumamku menjadi lirih dan tersadar bahwa sebenarnya ada pesan yang tak kujawab sedari tadi, 10 Menit berlalu oleh gumaman ku yang tak kunjung purna ini.

"Abang! Abang Adi" kubaca dan kutarik task bar smartphoneku
"Bang Balas, ini kami sudah memulai acara sastra yang telah direncakan sebelumnya" lanjutnya

hingga akupun menjawab.

"Baiklah aku akan datang segera ketempat biasa, jangan khawatir sesegara aku akan kesana" jawabku singkat dengan sedikit kesabaran.

Kulanjutkan dalam perjalanan tempat biasa kami kongko atau nongkrong di depan perempatan dan kafe yang sering kami sebut D/MI cafe. Sampailah diriku ditempat tersapalah diriku ini oleh kawan-kawan yang lama tak bertemu. Hingga malam berjalan akhirnya kami berhasil menyelesaikan acara yang telah kita rencankan.

Kusulutkan sebatang rokok dan menikmati setiap malam disudut ruangan itu. Terpinggir bersama dengan malam yang kiat gelap menuju pagi buta, muncul pikiran-pikiran gelisah yang tak segan menutupku dalam ramai dan riuh malam itu. Semua menatapnya dan cukup membuatku selalu tertarik berada disekitar mereka hangat dan selalu siap menerima datangku.

spacer

Gara-Gara Perjuangan Aku Menulis Puisi


 
Kepada semua insan yang berjuang, untukku dan kita semua.
Oleh. Muhammad Naufaldi

Pertarungan raga menjadi pertanda
Pertarungan otak menjadi sengitnya laga
Agni dalam hati tak akan pernah padam
Dan angkara yang lama kian memadam

Tungku, yang berisi bara
Membakar arang yang dimakan habis olehnya
Semua tak bersisa hanya abu yang menandakan
Ruang singgahku ini hanya sementara, kebetulan

Harga martabat, hak dan keadilan menjadi tenar
Menggenggam kami untuk mencari benar
Supaya bicara halus kami keras terdengar
Kepada beliau yang duduk diatas kursi yang mendengkur

Usang, usang dan usang
Kursi yang berganti, hanyalah eksistensi diri. Apakah ini benar ?
Atau salah kami meminta keadilan dan kebenaran ini ?
Semua sama dipandangan tuhan kita manusia
Semoga, segera kerjakan amanah dan tuntaskan keinginan kami
spacer

Renungan Dingin


Oleh Muhammad Naufaldi

Setiap laksana langitku pandangi
Rasa itu tak pernah tepat kusinggahi
Sang mata menatap taman bunga yang ramai
Berwarna-warni menemani hari

Renung pagi, berselimut dingin
Menjadi sebuah asa yang tak tetahan
Setiap rasa dan raga yang mulai mengikuti irama beraturan
Menciptakan rasa yang tak mampu lagi dijelaskan

Secara gamblang bibirku memilih untuk diam
Tanpa ucap dan menikmati setiap relung  dan ruang-ruang hati
Seketika waktu yang menjulang dan memutar diatasku
Berhenti sejenak untuk menikmati bersama-ku

Mengucapkan setiap kata yang tak sekedar diucap
Rasa pengucapan yang tertulis dalam aksara dan dekap
Menjadi pengecoh rasa kantuk
Yang merenungi dirimu penuh pelukan dingin pagi yang menembus raga dan hati terketuk

Magelang, 27 Juli 2020
spacer

Surat Bahagiaku, Kelak


Oleh Muhammad Naufaldi

Sejarah yang telah berlalu
Ragapun tlah membiru
Semua yang berakhir dengan kata tulusmu
Hanya akan menjadi sebuah janji dikemudian hariku

Tanganku telah kaku
Dingin dalam sebuah rebahku
Yang terakhir dalam wajah tersenyumku
Mengucapkan selamat tinggal diakhir waktumu

Terlewati, aku berjanji akan ada dalam harimu
Berbentuk rasa, dan kehidupan yang abadiku
Secarik kertas-kertas ku bacalah
Rindumu berbalas dan berbahagialah

Tak ada yang mampu bercerita
Selain milikku satu adalah bahagia
Keabadianmu dalam secarik kertas tua
Aku tidak akan pernah melupakanmu
spacer