Untitled: To Be Come A Cloud

Semakin malam, hening datang
Merobek-robek setengah hatiku
Dalam diam, keresahan ini
Menghukumku dalam larut malam

Menginjak akan pagi
Namun, tak ku sangka
Tusuk belati itu belum juga usai
Tak mampu mematikan rasa

Buat apa puisi ini
Penghibur laraku atau laramu?
Tak perlu khawatir tentangku
Karena aku masih saja disini

Merambahkan kabut hadir
Dingin menyiksa seperti luka bertabur garam
Air mata, sudah tidak mampu menetes dalam wajah
Hanya diam, melihatmu sebelum matiku

Mungkin tak perlu berandai-andai
Agar waktu berhenti maupun berputar kembali
Bahkan, tuhan menciptakan dan mengatur segalanya
Hal yang tidak pernah kita ketahui

Bebaringan Lelah, 2019

spacer

Kicau Kerinduan Hati

Cipt: Muhammad Naufaldi

Potret pagi dingin
Memberi sebuah keinginan
Dalam peristirahat yang lama
Akan Kesepian

Hujan sampaikan pesan
Akan kerinduan kepada angin
Menghilangkan resah
Dalam pertemuan

Tulisan puisiku
Yang terbisikan dalam diam
Sudahkah kau membacanya
Dibalik awan-awan itu

Sebuah rindu
Yang tidak menghilang
Lekat seperti awan putih yang tertempel di langit biru
Halus seperti diam tak berkata sepatah pun

Sudah mengijak tahun ke-5
Dalam aksara menemaniku
Hingga akhirnya waktu menyimpanku
Mempertemukanku dengan seseorang
Agar kicau rindu segera terobati
spacer

Sebuah Harapan

Cipt: Muhammad Naufaldi

Puisiku adalah puisimu
Tentangmu juga tentangku
Menunggu dalam harap
Setelah hampir 1200 hari

Ku tunggu harap
Menjadi keberuntungan
Selama perjalanan ini
Sepi, sendiri, dan terpuruk

Tak mendengarkan kata hati
Terluka yang hadir
Mendengarkan kata hati
Konsekuensi hati adalah luka

Tidak masalah aku menunggumu
Dalam lembar baru
Yang ingin kutulis dengan aksara
Dalam genggaman pena ini

Aku telah lama bersama harap
Labuhan yang telah lama tidak jumpa
Terombang ambingkan ombak
Dalam aksara-aksara puisi yang hilang

Tak pernah marah padamu
Harapan muncul, namun kadang hilang
Terkadang yang hilang
Menjadikan arti

Berapa banyak badai yang kutempuh
Jiwa yang hampir membeku
Mati lemas, tak berdaya dalam keras
Dingin, tak beradab.

Hati yang lama sendiri
Juga butuh tempat berlabuh
Biarkan saja
Entah kapan waktu akan menjawab
Dimana akan berhenti
Atau mungkin akan hilang lagi

spacer

Aku, Kamu, Jogja dan Senja.


Mulai dari malam perjalananku terhenti untuk kembali pulang, dimana aku sedang duduk bersama dengan secangkir iced coffee  yang ku nikmati dengan malam yang segera menjelang. Keseharian yang telah berlalu banyak hal yang didapatkan, momen yang singkat membuatku merindukannya lagi tetapi membuatku agak kesal sebenarnya. Tak kusangka hari yang selalu tidak direncanakan bisa menjadi hari yang paling special dan menyenangkan rasa hati bertemu dengan seorang “pujaan hati”. Hari yang hanya sebenarnya biasa saja menjadi luar biasa dan berarti akan hal yang tak pernah kita duga, seketika bisa langsung terjadi. Sedikit, malu bertemunya untuk kesekian kali namun rasa yang tak pernah berubah seakan menjadi pondasi dalam menjalin sebuah hubungan yang semakin erat. 

“Halo, pal” kata tutur yang halus
“hehe, hei” jawabku dengan sedikit ketawa karena melihat dari spion yang telah lama memandanginya.
“jadi, kita akan kemana pal ??” katanya
“aku ikut saja, mau kemana yang penting bisa foto” jawabku

Percakapan yang singkat tetapi membuat waktuku yang terbatas bersamanya, menjadi sangat berarti dan bermakna. Tak pernah ku bayangkan ini menjadi salah satu langkah besar dimana 4 tahun lalu aku memang tak berpikir untuk memiliki seorang perempuan lagi, tersakiti hatinya lantaran di khianati. Sore yang menjadi malam tak pernah menghianatiku hari ini, dia yang memberiku sebuah harapan itu menjadikanku seorang yang berani keluar dari zona nyamanku selama 4 tahun terakhir ini. 

Masih kurasakan tatapan matanya yang membuatku tak bisa melupakannya serta membuatku memikirkannya terus menerus.  Duduk merasakan letihnya hari dengan sedikit campuran “café latte” yang memikat untuk dirasakan seakan memanggil untuk dirasakan bersama hari yang menjelang malam. Tidak bisa, melepasnya demikian karena sangat rindu atau juga dia merasakan rasa yang sama menggetarkan hati yang pernah keras hingga benar-benar ku dibuat meleleh hatinya. Terkadang aku berpikir “apakah ini akan menjadi sebuah kisah yang akan panjang?” kata hati. Ingin rasanya aku merasakan hal yang memang dirasakan orang lain, berbagi sebuah kehangatan canda gurau dengan seorang lagi untuk melengkapi hati ini. Bukan, sekedar kata apabila kamu membaca sebuah ini tapi aku saja tak berubah pikirannya dengan rasa ini serta akan sesama menunggumu melihatmu menjagamu. Namun, ku percaya luka yang pernah membekas bisa hilang kembali dan luka itu bisa menjadi pembelajaran untukku. 

Suasana jogja sore itu, matahari akan segera terbenam ditengah ramainya kota itu tidak menghilangkan khasnya dengan julukan kota pendidikan. Ramainya jalan-jalan orang pada bergelut dengan macet lantaran ingin segera kembali ke tempat masing-masing. Kebahagiaan, sedih, sakit dsb bercampur pada hari itu tidak hanya satu orang namun semua orang. Lantaran kedapatan diriku hanya memiliki waktu yang sangat-sangat terbatas, dalam kerinduan yang hening dan diam, aku hanya mampu mensyukurii yang telah terjadi sore menjelang malam. Tak kusangka, hati yang selama ini benar-benar beku dalam waktu yang cepat mampu leleh olehnya.

Setelah lama mencari jawaban dunia, kehilangan yang sangat dalam dan terpapar oleh pasang surut zona nyaman yang tak mengizinkanku keluar. Setelah enggan rasanya, sore menjelang malam langit-langit mulai menjingga hingga kemerahan tua ditemanimu sore itu, aku senang terlebih jika kamu duduk bersamaku. Hingga perbincangan ngaco, ketawa-ketiwi, serta menciptakaan sebuah keirian oleh senja itu yang memang telah menua. Namun, kunjung saja kota itu tak pernah membohongi hatiku, hingga habis waktu menuju detik terakhir waktu. 

Cinta?
Cinta itu sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. itu adalah pengertian secara umum. Namun, menurutku cinta adalah sebuah proses kehilangan dimana semua akan terobati dan kemudian akan pulih seperti semula bahkan tidak ada kata harus memiliki saja kita bisa menganggapnya itu "cinta". Namun, paling penting adalah cinta yang benar-benar itu tidak pernah mendua dan pasti hingga akhir hayat.
spacer

Jalan dan Merindu

Cipt: Muhammad Naufaldi


Merindu,
Senja telah datang
Menjingga tua
Menutup sebuah kisah

Telah hadir langit biru,
kupandangi jendela
Dengan waktu yang berhenti
Menutup keinginan yang tak terpenuhi

Dan ternyata
Aku tidak kemana-mana
Semakin larut, gundah hati
Dalam rindu yang beku

Tak kusangka
Satu untukmu
Hitungan dua kuanggap
Adalah fana

Hadir, yang sepi
Refleksi bulan, anggun
Seakan untukmu
Masih tertera kesempatan

Sudah lama
Tak ada cerita
Hilang ditelan malam
Sampai kapan aku akan berlari ? Dan menanti?

Selamat Malam untukmu.

spacer