Tercekik



Cipt: Muhammad Naufaldi

Sedih memang, celah-celah itu
Terbuka oleh orang-orang yang menutup telinga
Menutup mata, 
Tanpa melihat nasib orang lain

Langkah tegap, persiapan investasi lebih baik
Namun, nafsu tatkala sudah menghancurkan akal pikir
Penghancuran alam segera akan terjadi, jika kebijakan itu berlaku 
Hingga tak ada sisa untuk kami bernapas

Menghancurkan setiap kehidupan
Pencemaran dimana-mana
Alam-pun sekarat hingga tak berbicara
Perlahan, menggoncangkan tanah air

Alamku, Alammu, Alam kita semua
Ia sudah seperti ibu kita
Durhaka sekali, orang yang menutup mata dan telinga itu
Kepada ia yang telah melahirkan, menaungi kita
Banyak yang tercekik
Hingga tanah sudah tak sudi untuk diinjak
Alam semesta memandang dingin
Perlahan diam diujung kematian, dan detak yang melambat

Dan semoga mereka tak dikutuk oleh Gusti dan Alam tidak mengutuk kalian.

Dan pesan-pesan ini perlahan kusampaikan. Jangan hancur, bersama kita berjuang
Menghancurkan yang bersalah, memperbaiki yang benar. tatkala mereka.


spacer

Arti Juang dan Perjuangan



Cipt: Muhammad Naufaldi

Lelah, siang ini
Tak kunjungku temukan pencarianku
Keresahan dan kekhawatiranku
Akan sebuah jawaban yang tak kunjung ku temui

Perjuangan
Sebuah kata yang mudah disebut
Tak mudah, namun
Menderita agar bahagia

Kulihat dalam-dalam
Seberapa luka selongsong peluru
Yang menembus tubuhku 
hingga merobek beberapa kulitku

Ada rasa panas, kepedihan yang mendalam, 
atau darah yang tak kunjung behenti
Masih saja aku berjuang, memerdekakan diri
Dalam setiap peperangan

Tatkala aku dengar sebuah riuh peluru melesat
Menghancurkan setiap tembok-tembok kokoh
Tatkala aku melihat hati yang takut
Inilah sebuah perjuangan

Aku bukan manusia sempurna
Aku berusaha menjadi lebih baik
Tetapi, aku tak menemukan jawaban dalam hal ini
Menghancur, menggerogoti setiap saat
Semakin, sekarat tak kunjung tertutup

Magelang, 17 Februari 2020

spacer

Resah, Hancur, dan Mendung



Cipt: Muhammad Naufaldi

Lagi-lagi dan lagi
Sebuah pukulan mendarat tempat dihati
Menghancurkan segala hal yang tak akan kembali lagi
Mungkin, itu adalah arti patah hati

Namun, kembali lagi
Usahapun tak ada hasil
Bahkan, dalam diam "biar tahu" kataku
Memang, arti cemburu itu tidak menentu

Gusti, akankah?
Saya menjadi pemuja yang tidak sehat?
Menjadi seorang yang cemburu dalam hal ini
Ampunilah, segala rasa dan tubuh ini

Tak satupun
Manusia yang diam itu adalah terkuat
Atau dalam langkah yang tidak terdengar
Menembus setiap, rintik hujan

Gusti, Akankah ?
Aku menjadi seorang yang dimata-Mu adalah baik
Aku hamba-Mu yang tak punya rasa ingin kembali
Tetapi tak ada rasa yang bersembunyi 

Awan mendung ?
Itu sudah pertanda baik dalam hati
Untuk apa aku marah ?
Siapa dia yang tak tahu tentangku

Langkah-langkah, kupercayakan
Kepada-Mu Gusti
Rasa percaya, atau hanya sebatas percaya dalam dusta
Aku berserah kepada-Mu

Hati tak segan lagi
Namun, Lara yang datang kembali
Membunuh setiap syaraf akal
Dan memberhentikan waktu lebih lama dan kekal

Tak sering
Tak akan lagi sering
Melibatkan ini tanpa-Mu Gusti
Kututup hasrat dan telinga
Kututup mata dan air mataku
Dikala raga tersenyum
Dikala hati hancur
Yakinkan diriku, aku cukup mampu dengan ini

Maaf, sekali lagi maaf
Aku tak punya hak dalam diamku ini
Namun, ku yakinkan ini rasa sayang bukan untuk permainan belaka
Atau hanya sekali pakai.
spacer

Kadung Cinta: Untuk Dikau Adinda

Cipt: Muhammad Naufaldi

Heningnya pagi ini
Meringkusku dalam kesendirian
Yang merindu pada diri-mu
Dalam sudut kamar ini.

Banyak yang berlalu
Lelah yang berganti dengan harapan
Saling menguatkan
Agar berujung indah

Masih, terlalu pagi
Kalam ini, mungkin salah satu maafku
Menghening dalam keriuhan lalu lalang
Merindukan-mu ciptaan-Nya yang istimewa

Kau tau adinda, Cinta tidak lebih dekat
Rindu tak lebih dari jauh
Segala yang telah melekat
Darimu seutuhnya-utuh

Akupun melantunkan rindu
Memohon kepada Gusti
Sampaikan rasa maaf ini
Semoga ini menjadi obat hatimu
spacer

Terlelap Terbit


Cipt. Muhammad Naufaldi

Kau tahu betapa aku mengaggumimu ?
Mengaggumi sisi indahmu dari sisi gelapku
Bahkan, hanya terpendam dalam diam
Yang tak mampu mengungkapkannya

Ku tahu ini terlalu pagi
Namun, aku selalu merindu ditengah hening
Mengasah kuat, memekarkan sabar
Penantian yang tak kunjung usai

Aku tak ingin berkhayal dengan kekosongan fantasi
Tetapi, ingin nyata yang ada
Aku ingin sebuah rasa
Namun, asa tak bisa terpaksa

Aku tahu, bisa saja aku gila
Kepalang cinta yang tak kunjung bertemu
Atau saja aku terlalu payah
Dalam mengungkapkan rasa hati yang ada

Dik, untukmu aku tak mampu
Tak mampu menahan rasa, bantu aku ungkapkan
Untuk lagi, menutup lara lama
Lara yang tak kunjung kau obati
spacer