Malaikat Hujan-ku


Oleh Muhammad Naufaldi

Sang peneduh hati, tiap manusia
Tepat harap-harap itu kau terima
Bahkan tak ada lagi tandingannya
Memberikan segelintir kehidupan akan dahaga ditengah sahara, menetes embun yang menyeka
Tetap dingin dan tenang, hangat yang dengan pelukannya yang tenangkan amarah
Bersama angin ia bergerak, sebagai langkah pasrah dalam kendaraan-nya
Malaikat Hujan-ku
Bertahan dalam kuatnya angin topan, yang siap menyerang.
Dalam pelukan gusti kau menangis, memohon agar sembuhkan lara dari kekalahan
Riuh suara hatinya, doa-doa berterbangan keangkasa.
Menuju, kearah-Nya
Lantas, hatinya kuat menyabar diri
Sosok puan yang selalu sejukan pikiran
Yang halus berbisik, bersama riuhnya hujan yang menyeka
Menetes, dan membasahi bumi
Memberikan harapan kehidupan untuk alam
Seakan hatinya kuat tak mampu lagi yang bisa membukanya
Sudahlah puan, kau kuat hingga tiada ada yang bisa menandingi puan
Dalam, tabahnya, tawakal, hingga riuhnya doa
Ijabah dan ijabah doa itu.

Untukmu puan: Kau yang terkuat, selalu memberikan kekuatan, dan percayalah Gusti memuliakanmu.
spacer

Masa Hidup Sang Karang


Oleh: Muhammad Naufaldi

Pasang itu tlah datang lagi 
Menggulung-gulung berganti
Berlomba-lomba ketepi
Dan Kembali ke samudra lagi

Batu karang, menjulang
Makna kuat nan gersang
Kokoh berdiri, walau dihantam oleh gulungan pasang
Keras menahan bantingan yang tak hilang

Inilah rupa dari cinta, kokoh tak bisa disalahkan
Mendewasakan disetiap waktu,  alam memberi dekapan
Orang-orang berlomba membagi kasih
Ada juga yang berakhir sedih, pedih dan letih

Bertahan ditengah badai dan pasang yang mengamuk
Sang karanglah, gambaran manusia yang sabar
Bak langit yang dirindukan selalu memberi kabar
Dalam bahagia yang menanti diujung labuh.
spacer

Hey Jo!

 

 Oleh Muhammad Naufaldi

"Menghindar bukanlah sebuah pilihan yang tepat dalam kejenuhan ini. Seperti saja mencintai seorang yang tak pernah sadar akan ada cinta yang menanti di tengah terik siang memberikan perlawanan sengit." -Sebuah tulisan bait Bertuhan Pada Aksara, telah dibaca oleh Jo...

Joana atau Jo yang sering dikenal dikalangan teman-temannya dengan lincah membacakan puisi dari seorang penulis pemula yang ia sering baca buku-bukunya. Entah kenapa hari ini Jo merasa sedikit gundah hati lantaran ada yang hilang dari sebuah part dalam dirinya. 

"Apakah yang hilang dari diriku? Apakah ini bentuk yang telah hilang?" -Membatin membeku dengan buku Analogi Puisi Bertuhan Pada Aksara terbuka habis terbacar olehnya.

"Atau ada sebuah rasa yang telah lama tertinggal dari masalalu ? Sebuah tanda keinginan sebuah cinta ?" -tuturnya dengan membaca buku Analogi Puisi tersebut dengan hati gundah dan seksama

Jo merupakan seorang yang menyukai bentuk-bentuk sastra dan gemar membaca sebagai pelampiasan rasa ia ketika bosan, sambil menatap kearah jendela. Kebiasaan Jo ketika memang ia telah benar-benar bosan dan jenuh dengan dipangku buku itu.

Sengitnya langit berkolaborasi dengan surya yang gagah memancarkan sinarnya. Telah menciptakan kenyamanan dan kehangatan selimut hati Jo yang telah lama ia balut penawar patah hatinya dan lupa akan rasa itu. Untuk pertama kalinya Jo merasakan sakit hati dan tak mampu melupakannya selama 4 tahun, melalui banyak hal yang membuatnya semakin gemar mendekati sastra untuk melupakan rasa itu.

Sesaat terdengar bunyi notifikasi whatsapp dari ponselnya, yang menggugah rasa ingin membuka ponselnya.. Terdapat empat pesan dari seseorang dengan nomor yang tak dikenal dan belum ia simpan. sedikit ia terkejut isi pesan yang tak pernah ia duga, "Sang Dewi Merak" dalam isi pesannya.

"Tak pernah kusangka kembali bisa menemukan, sepucuk angka-angka untuk menyapamu lagi dalam pergerakan angin dan hujan, ditengah panas dan sengitnya matahari kau masih tetap saja berterbangan dengan berjuta diksi yang telah diciptakan itu. apa kau tak bosan harus berlari mencari sebuah tempat bersarang dan sejenak istirahat diri untuk tetap tenang."
Jo, kaget dengan pesan itu tersurat dan tersirat yang membuat kagum dengan pengirim pesan itu. Tak kenal waktu sebuah keadaan yang tak bisa dijelaskan oleh perasaannya, ditengah rasa ingin tahu siapa pengirimnya, senang, dan takut. Namun, ia yakin mengenalnya lantaran tulisan itu tidak asing pernah karena hampir mirip sebuah kutipan buku yang pernah ia baca, benar-benar tak asing dan hanya saja diksinya diganti oleh sang pengirim tanpa mengubah makna. 

Mulai, bingung ditengah sang surya mulai meredup untuk berganti berjaga, Jo masih tetap belum membalas pesan tersebut karena ia memang Jo merupakan seorang yang memiliki kesibukan untuk menunjang kebiasaan menulisnya juga.

"Jo, ayo kita makan malam bersama dulu?" -kata sang ibunda panggil halus dan mengetuk pintu kamar Jo.
"Oke bun, sebentar lagi mau selesaikan tulisanku... aku akan segera menyusul bun."
"Baik, jangan lama-lama kasihan pada nungguin kamu"
"Iya, bunda iya"

Sedikit kesal, namun ia tetap cepat-cepat menyelesaikan tulisan itu dengan rapi sebelum ia lupa apa yang harus ditulis kembali. kemudian setelah ia selesai, menujulah ia keruang makan dan berkumpul dengan keluarga kecilnya yang selalu menyenangkan. Ia masih kalut dalam pikirannya, hatinya begitu penasaran dan ia tuliskan dalam sebuah blog pribadinya;

"Hidup telah menjadi perjalanan tentang menua, pengalaman dan kedewasaan. Jika cinta berakhir kembali, atau menghianati itu bukanlah cinta yang sebenarnya. Lantaran cinta tak mampu kau salahkan, cinta itu suci bak air yang mengalir terus menerus bergantian mengalir hingga bermuara diakhir perjalanan. 4 tahun berlalu, rasa sakit itu masih ada walau aku telah memaafkan masalalu itu. Mengingatku telah mencapai keinginan untuk saling memiliki namun belum jua aku temukan hal itu"

Selesai makan malam bersama dengan keluarga, hujan mengguyur tak henti-henti dengan rasa kalut Jo yang belum juga menemukan sebuah hal  yang hilang. Akhirnya ia, memberanikan untuk membalas pesan itu dengan ragu namun tetap ia meyakinkan hatinya untuk membalas chat itu.

"Mohon, maaf sebelumnya ini dengan siapa ?" balasan Jo yang terlalu kaku dan gugup

Jo hanya menunggu dengan jantung yang berdetak kencang tak berarturan, begitu kakunya ia membalas. Setelah menunggu lama, tiba-tiba handphonenya berbunyi nada dering, dan memunculkan notifikasi.

"Ini aku bimo, mungkin akan kau lupa setelah pertengkaran kecil itu karena mantanmu yang menyakitimu 4 tahun lalu. Kemudian, aku telah lama mencari nomor-nomormu Jo, dan sedikit menelisik tempat tinggalmu serta aku telah mendapatkan informasi tersebut." Balas Bimo.

Jo, tiba-tiba terbangun dari tempat tidurnya.

Sedikit terkejut dengan seorang yang telah membela dia 4 tahun lalu lantaran mantan Jo sudah terbukti selingkuh dan termasuk over protektif. Bimo yang waktu menjadi teman sebelum pertengkaran yang memisahkan hubungan pertemanan mereka hingga sama-sama hilang kontak setelah kelulusan SMA itu. Bimolah yang menyaksikan perselingkuhan mantan Jo yang bernama Ade, dengan mata kepalanya dan memberikan kesaksian kepada Jo namun ia tak mempercayai.
 
"Maaf, setelah kejadian itu kita lama terputus komunikasi dan silahturahmi. Namun akhirnya aku menemukan juga kontakmu. Sekali lagi aku meminta maaf jika ini mengganggu-mu dengan mengingatkan hal yang telah lalu" lanjut, Bimo.

Jo, masih tidak menyangka pertengkaran 4 tahun yang lalu akan mengembalikan pertemanannya yang telah lama kandas karena "keegoisan hati tidak mau menerima dari asal logika tersebut". Pertengkaran itu telah memecah belah hubungan pertemanan Jo dan Bimo, hingga benar akhirnya hubungan pertemanan itu ada karena memang "kesadaran dari diri masing-masing individu".

Akhirnya, Jo membalas dengan sedikit gugup lantaran telah lama tak bersapa. Dan memang Bimo telah menghilang tanpa jejak. Bahkan, di grup chat angkatanpun dia juga tak ada. Namun, ia mampu nongol dengan membuat Jo gundah hati.

"Bimo, Bimo Satrio ?" Balas Jo
"Maafmu ku terima Bim, kita sudah berada dimasa depan dan akan menuju kedepan. Jangan selalu salahkan dirimu juga soal kejadian yang lalu, telah lama kucari seorang teman yang hilang dari grup chat angkatan. Tanpa, angin dan badai kau terbang dan kirimkan sebuah warta" Lanjut Jo

Dalam batin Jo "Astaga, Dia benar-benar membuatku gundah secara pikiran". Namun, dalam hatinya telah bertemu teman lama itulah yang membuat sedikit senang. Tak, lama kemudian ada balasan dari Bimo.

"Iya ini gue Jo, btw lagi sibuk bikin buku juga ya ? aku telah baca salah satu buku-mu dan itulah yang membuatku tahu bahwa ada yang harus aku kejar dalam diriku ini. Untuk minggu depan aku akan ke Surabaya, lumayan cukup lama untuk melaksanakan pekerjaan dan mungkin saling sapa. Ada yang ingin kuceritakan dan kuberitahu nantinya kepadamu Jo. Aku akan kabari lagi nanti kalau tidak esok, oke ?" Balas Bimo yang tak basa-basi.

Jo, semakin bingung dengan dirinya yang telah dibuat gundah sosok Bimo yang ia kenal sebagai seorang memang tak suka basa-basi. Jo, bisa menyimpulkan itu karena  4 tahun lalu Bimo juga masih sama seperti itu memberikan kesaksian dan bukti tanpa basa-basi untuk mengingatkan Jo. Ditengah pikiran-pikiran gelap malam ia berbicara "Gusti jangan membuatku gundah, tenangkan hati dan pikirku yang tak pernah merasakan ini selama 4 tahun lalu".

Pergulatan batin yang tak kunjung, dengan sedikit penyesalan yang dirasakan Jo bahwa waktu itu tidak mempercayai Bimo sebagai temannya. Bahkan, sempat ia mencaci Bimo dengan kata "Kau tak pernah tahu apa yang aku rasakan saat ini, dan kau jangan sok tahu soal itu apalagi soal hubunganku. lebih baik kau tak usah ganggu aku lagi!" kata-kata saat dulu dan itu membuatnya gundah.

Sang mentari pagi menyinari dan merasuk kedalam sela-sela jedela, hangat pelukannya dari bias matahari itu. Jo, bangun dengan menikmati pagi sambil terduduk di pinggiran tempat tidur. Tiba-tiba notifikasi muncul dari Bimo, dan membuat ia terkejut dan blingsatan.

"Aku sudah sampai Surabaya Jo, apakah kita bisa bertemu hari ini ? Jikalau kamu tidak sibuk ijinkanku bertemu dengan-mu. Aku tak ingin menerima alasan kamu tidak bisa" Tapa basa-basi dan langsung ke inti. Sosok Bimo yang tak pernah bisa ditebak namun selalu pasti.

Ia, sadar selama SMA Bimo merupakan salah satu seorang yang digemari oleh banyak cewe. Namun, karena Bimo merupakan orang yang dikenal Jo dengan kaku, tidak bisa basa-basi, dan langsung ke intinya namun beretika. Batin Jo semakin tak bisa dijelaskan detak jantung yang semula biasa  memberikan kode yang tak biasa, membuat Jo berpikir banyak hal. Tanpa basa-basi Jo langsung beranjak dan segera merapikan semua dan segera pergi, tanpa mengambil lama-lama jo sarapan pagi itu dan segera membalas chat Bimo.

"Hari ini aku tak terlalu sibuk, mengapa begitu mendadak memberikan warta kepadaku? untung saja aku tidak sedang sibuk, kita mau bertemu dimana ? Jam berapa ?" Jawab Jo

"Kita bertemu di cafe biasa saat SMA dulu, jam 10" Jawan Bimo

Masih saja jo merasa geleng-geleng kepala dengan kelakuan Bimo yang tak pernah berubah dan membuatnya kagum saat ini kepadanya. Setelah semua selesai dia langsung menuju tempat bertemunya Bimo, tanpa ia sadar Bimo sudah disitu dengan santai dan menyeruput kopi. "Hey, Jo!" kata bimo, Jo langsung menuju ke meja tempat dimana Bimo duduk. Dengan Interior tak berubah, tempat duduk yang sama dan posisi yang sama tak ada yang berubah.

"Hey, Jo" Sapa Bimo
"Halo, Bim sorry ya kalau gue telat banget mendadak tadi naik taksi jadi sedikit lama. Tahulah kota ini padat seperti apa."
"Ah, tidak apa Jo tenang saja aku juga baru saja sampai kok. Apakabar dengan dirimu ? selalu sehat di Kota inikan ?" Mulailah Bimo Serius tanpa banyak basa-basi lagi.
"Jo, sebenarnya aku datang kesini selain mengucapkan maaf. Aku juga ingin kamu tahu bahwasannya aku ingin mencintaimu jika diijinkan, aku ingin bermuara dan aku ingin beristirahat dari terbang dan berpetualangan pekerjaanku ini" Lanjut Bimo

Jo, yang terdiam semakin gugup dengan itu. Namun, ia kenal Bimo jauh dari orang lain tahu. Tiba-tiba suara cafe menghening tanpa ada suara, dan diluar cafe hujan semakin deras. Jo, yang telah merasakan dan menyingkirkan perasaan itu dari hidupnya sekarang merasakan hangatnya dengan yakin untuk itu Jo menjawab dengan "mengangguk". Dan tanpa basa-basi Bimo duduk didepannya, dan segera mengambil dan membuka kotak kecil dari saku itu. berisi cicin berlian dan keseriusan Bimo membuat Jo, semakin percaya akan niat Bimo.

spacer

Motivasi "Dibalik Bak Truck = Ber 2 1 7-an"

Dibalik Bak Truck Ber 2 1 7-an
Oleh Muhammad Naufaldi

Ini bukan sekedar tulisan yang mungkin berakhir dengan lawakan ketika membaca judul. Tulisan ini tertuju pada kita untuk memberikan kesadaran dan semangat yang kembali terisi lagi, kita sering merasakan kesepian, kesedihan, ataupun hal yang membahagiakan. Bahkan, faktor-faktor cinta, lara, ataupun hilang tujuan.

Ber 2 1 7-an ? meski orang-orang berpikir ini akan dibilang tulisan "alay" tapi tolong stop dulu untuk berpikir kesitu. Banyak orang menganggap remeh tulisan tersebut, padahal makna ber 2 1 7-an memiliki makna yang cukup dalam apabila kita tahu. Dimana tulisan itu membuktikan bahwa ber 2 1 7-an membuat kita semakin paham akan makna budaya, makna cinta, makna sosial, hingga arti makna kekuatan yang besar dalam peperangan. "Maka, kita harus pahami dulu" bahwa ber 2 1 7-an adalah penting.

Ada apa dengan ber217-an ?
"Dalam ber217-an memiliki sebuah makna yang dalam yaitu bagaimana berdua menciptakan sebuah kekuatan atau kelanggengan yang tertuju pada satu tujuan."
Berdua ? makna yang terlalu luas, mari kita sempitkan dalam lingkup yang lebih kecil. Kita sebagai makhluk sosial tidak mungkin bisa hidup sendiri, dibutuhkan dua orang atau lebih agar kita bisa hidup. Bahkan, kita tidak mungkin cinta atau mencintai hanya sendiri karena prinsip mencintai adalah"dirimu cintai dia dan dia mencintai dirimu" dan begitu banyak artian yang bisa kita dapatkan dari hal Ber217-an.

Begitu besar maknanya, ini juga berbicara tentang banyak hal mulai dari sebuah komitmen, kejujuran, kekuatan, dan seterusnya. Dimanapun kita hidup  pasti kita tidak bisa jauh dari hal itu.
"Cinta, Problematika Makhluk Sosial dan Kekuatan Kita tidak bisa dijalani maupun didapati sendiri. Oleh karena, dibalik sebuah keberhasilan pasti ada campur tangan orang lain seperti keyakinan yang meyakinkanmu, doa-doa dan sebagainya."
Kita tahu tuhan telah "menciptakan kita secara berpasang-pasang" sekarang pahami begitu besar kita hidup ini, jika kita merasa tidak berguna itu merupakan jawaban yang "salah". 

Kita adalah manusia yang berguna dalam hidup, jangan pernah merasa mustahil dalam melakukan suatu hal. Aku dan kau, atau mungkin kita semua mempunyai macam-macam keberagaman. Itu yang menjadikan kita memiliki porsi yang berbeda-beda.

Inilah yang harus kita pertahankan banyak hal akan penting menghargai dan apresiasi karena ber217an merupakan bentuk sebuah sindiran kepada kita yang terkadang lupa akan penting akan kebersatuan, menciptakan kekuatan, mensolidkan diri dengan orang lain, mempertahankan cinta dengan tulus dan sesuai tujuan yaitu kepelaminan. dan itulah banyak sekali hal yang bisa kita dapatkan

Semua akan baik-baik saja.
Jadilah dirimu sendiri dan tetap hargai orang lain!
spacer

Hujan

Oleh. Muhammad Naufaldi

Hujan datang kembali
Mengundang rasa gelisah lagi
Ditengah dikau yang aku rindukan dalam mimpi malam ini
Aku menunggu ruang berbicara untuk membalas isi hati 

Tuan yang sedang menunggu hati bangkit dalam hujan
Bermain seakan hujan adalah kawan yang paling tak sungkan
Tunjukan raga yang telah rapuh hingga menyongsong kuat sang mentari
Namun, mendung kembali datang dalam kerinduanku yang berujung semu akankah pulih kembali ?

Rerumputan di dekat berada rumah yang sekarang lebat tertetes air yang jatuh untuk menaungi
Akhirnya berbahagia cerita itu dalam sebuah aksara akhir yang tak abadi dalam tulisan ini
Apakah rasa ini bisa datang hanya sementara untukku ? Atau kisah ini akan berakhir dengan luka
Rasa rindu yang menahanku akan rasa sakit, menyelamatkanku dari dunia yang berujung lara

Kuatkan aku yang membutuhkanmu dalam rindangnya pohon ini
Menyapaku, dalam udara yang telah lama menunggu dengan dedaunan yang lembut menari
Jatuh perlahan dalam pangkuan dan perlindungan-Nya
Aku tertunduk malu akan asmara yang tak berbalas oleh puan yang saat ini tak sekalipun menyapa
spacer