November, Hujan Datang




Oleh. Muhammad Naufaldi

Jika hujan, tidak datang pada november
Mungkin rasa ini tetap diujung takdir
Yang menyakitkan dan tak kunjung henti
Kini, waktunya aku menyaksikan hati


Yang telah lama letih
Dan berujung pada perih
Kini, novemberku penuh hujan
Yang membasahi hati kejiwaan

Tuas hati yang kini terbuka
Namun, menolak siapapun hadir
Sedangkan, hujan masih tetap berada di tempat yang sama
Waktupun mengusir dan mengusikku pada asa

Kini, november
Memberi banyak pelajaran kembali titik nadir
Mendekamkan hati
Memberikan peringatan pada pagi

"Agar pagi, menasehati lagi"

Selamat untuk kebahagiaan hati, lagi-lagi jangan terluka di kamu. Terimakasih

spacer

Sustainable Development: "Meminta Seutuhnya Turunkan Dana Pengembangan Desa"

 


Oleh. Muhammad Naufaldi

Sudah hampir setahun Indonesia terdampak oleh pandemi COVID-19 yang mana disini dapat terlihat semua aspek, semua sektor terhantam berhenti dan menjadi mangkrak diantara beberapa yang sudah berjalan. Keadaan ini menciptakan daya tarik penulis untuk melakukan kajian dan beropini mengenai keadaan yang mana nantinya bisa menjadi inovasi baru juga. Melihat dari teori Rogers yang beberapa kali sering saya kutip dibeberapa artikel merupakan salah satu bentuk pengendalian akan kesadaran yang diharapkan oleh inovator agar pembangunan desa bisa berjalan dan berkembang. Kembali lagi ketika pemerintah memberikan sebuah stimulus inovasi kepada masyarakat seharusnya tidak bisa seluruhnya disalahkan kearah pemerintah. Hal terbaik dari sustainable development yang baik seharusnya bisa menciptakan banyak keuntungan dan perkembangan akan kondisi di desa yang merupakan salah jantung milik kota, atau menjadi sebuah tempat paling vital sesuai dengan slogan yang disampaikan dari 2015 oleh Bapak Presiden Joko Widodo. Terbentuknya, Kementerian desa dan penciptaan Indeks Desa Membangun sebagai transparansi data akan keberhasilan pembangunan desa kini terhenti oleh pandemi COVID-19. Berdasarkan Data Indek Desa Membangun, Jawa tengah memiliki beberapa desa yang dapat dikatakan atau sudah lolos dimana  sebelumnya berhenti menjadi berkembang serta yang berkembang menjadi maju. 

Segala aspek yang meliputi keadaan saat ini menjadi rintangan yang berat bagi  pembangunan di desa. penulis meyakini terdapat pemberhentian dalam pengembangan desa ini. Bahkan, kurang maksimalnya penggunaan inovasi saat ini malah menjadi penghambat pada pengembangan desa. Kesadaran ini seharusnya lebih cepat oleh masyarakat desa, karena pemerintah hanya sebagai inovator memberikan sebuah fasilitas.

Melihat pada Indeks Membangun Desa (IDM) peringkat di kabupaten magelang kecamatan secang hanyalah 0,6674 dimana dari indikator ini dapat disebutkan bahwa desa-desa yang ada pada kecamatan secang merupakan desa yang masih berkembang. Ketika pandemi datang seharusnya menjadi sebuah upaya inovasi yang tlah dijelaskan oleh Everett M. Rogers terkait Adopsi Inobasi. Mengapa hal ini penting ?  penggadopsian inovasi yang cepat maka menciptakan kecepatan dalam menerima informasi yang masuk ke desa. Dengan hal itu maka pendorong SDM yang berkemajuan adalah mereka yang mampu menggunakan inovasi secara baik dan kreatif. Tidak hanya sekedar bentuk sosial media yang setelah itu didiamkan, begitu banyak hal yang bisa ditingkatkan dalam penggunaan aplikasi ini. Maka, dari itu perkembangan desa yang baik memang harus didorong oleh masyarakat dan kaum milenial yang mana memiliki peran cukup banyak untuk desanya masing-masing. Penulis berpendapat di desa saya sendiri masih sangat asing dengan inovasi baru, walaupun dalam kenyataan fasilitas-fasilitasnya sudah memadai tetapi jika masyarakat kurang peka dalam penggunaan inovasi baru ataupun menjadi penolak inovasi tersebut mungkin saja menjadi tertinggal. Keterpekaan terhadap inovasi adalah terwujudnya kemajuan desa di tengah pandemi COVID-19 ini. Sebelum itu, Everett M. Rogers sudah membagi lima kelompok adopter: 1. Inovator; 2. Early adopter;3. Early Majority;4. Late Majority; 5 Leggard. Pertama adalah Inovator, mereka yang pada dasarnya sudah menyenangi hal-hal baru dan sering melakukan percobaan. Kedua, Early Adopter orang-orang yang menerima hal-hal baru dan menjadi seorang yang mencoba. Ketiga, Early Majority mereka adalah orang-orang yang menggunakan sebuah inovasi dan belum ingin menjadi orang yang pertama melakukan pecobaan pertama. keempat, late majority mereka adalah orang-orang yang baru saja menerima inovasi. kelima, leggard merupakan mereka yang tidak menerima inovasi itu.

Ikut sertanya kaum milenial dan karang taruna adalah salah satu wadah dalam membuka lockdown dengan inovasi yang baru. Seperti halnya, saat ini dari pengamatan penulis belum ada pengajian rutin didesa saya yang dilakukan secara online ditengah pandemi ini. Padahal ini merupakan salah satu inovasi baru yang cukup memudahkan dan mampu mematuhi protokol kesehatan saat ini. Penggunaan media digital dan sosial media menjadi salah satu aspek penting dalam pembangunan desa dan melepaskan belenggu lockdown.

Peran penyuluhan komunikasi pembangunan menjadi salah satu bentuk atau cara yang bisa dilakukan saat ini. Bahkan dengan adanya sosial media,  sebuah inovasi menciptakan pemikiran "kenapa tidak desa berbasis digital" saat ini lebih dimajukan lagi. Jika dalam peran penyuluhan ini terdapat Developmentalis untuk membangun kesadaran masyarakat maka seharusnya ada harapan sosial media mampu menjadi hubungan pengetahuan lokal dengan pengetahuan baru. Contoh diatas mengenai pengajian online, sebenarnya tidak mengurangi rasa kekhusyukan kita dalam menimba ilmu atau mencari ilmu. Disinilah sebenarnya bisa menjadi hal baru ditengah pandemi maupun di masa depan. 

Jika di desa saya penggunaan masjid sudah bisa dikatakan cukup maju, karena fasilitas yang ditingkatkan dan bisa digunakan bersama-sama. Tetapi yang menjadi permasalahan saat ini adalah keadaan pandemi COVID-19 ini yang tidak diketahui kapan usai. Kemudian, pergerakan mahasiswa yang tergabung di karang taruna seharusnya bisa menciptakan inovasi baru seperti halnya media rapat atau pertemuan rutin untuk membahas sebuah project yang tetap mematuhi protokol kesehatan melalui daring.

Selain itu, berdekatan dengan kawasan wisata melihat kesempatan ini kecamatan secang sendiri memiliki pesona-pesona yang tersembunyi dan jarang di explore. Sedikitnya adopter awal menjadi salah satunya hambatan yang sebenarnya mampu memajukan desa. Desa saya berdekatan sekali dengan perbatasan kota yang mana aksesnya masih bisa dikatakan mudah untuk seharusnya menjadi peluang untuk wisata alam disekitarnya.

Dikutip dari, Chliders (Servaes,2008) mengatakan "Jika anda ingin pembangunan berakar pada manusia sebagai agen pembangunan dan juga penerima manfaat, yang akan memutuskan sendiri jenis pengembangan yang dapat mereka pertahankan setelah bantuan luar negeri hilang, maka Anda harus mampu berkomunikasi dengan mereka, Anda harus memberikan kesempatan mereka untuk berkomunikasi satu sama lain dan kembali ke perencanaan ibu kota."

Maka dari pemahaman saya,  pembangunan desa itu tidak sekedar memberikan inovasi dan kreatifitas namun keberhasilan dalam komunikasi. Melihat dari sudut pandang sistem politik di indonesia adalah sistem perpoltikan yang bebas maka seharusnya pemerintah dan masyarakat adalah setara. Pembangunan dari inovator bukan lagi berbentuk top down komunikasi namun lebih ke suasana setara dan mudah dalam prosesnya. Dilain sisi dengan adanya karang taruna seharusnya mampu menciptakan sebuah wadah atau pikiran inovasi baru seperti desa berbasis digital, lantaran disamping memang desa saya adalah cukup baik namun jika menilik kebelakang yang saat ini adalah adanya tidak ratanya pembangunan berkelanjutan ini. 

Sementara, terdapat data mengejutkan dari wawancara seseorang yang sama serta satu desa. Sebelumnya, kita mengartikan desa melalui UU 14 Tahun 2020. Saya mengutip "Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintah, kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan prakasa masyarakat, hak asal usul, dan atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintah Kesatuan Negara Republik Indonesia."

Dari penjelasan diatas, sudah dijelaskan bahwa kesatuan masyarakat memiliki wewenang mengatur dan mengurus urusan pemerintah. Maka, dapat disimpulkan bahwa kesatuan masyarakat di desa saya seharusnya memiliki kekuatan hak atas hak untuk mendapatkan dana pengembangan desa. Sementara itu keadaan-keadaan saat ini menjadi semakin rumit, penuh alibi, atau alasan. Tidak apa jika itu benar, jika saja tidak benar itu malah menjadi permasalahan baru yang timbul di akhirat dan dunia. Saya sendiri selalu baik sangka karena keadaan pandemi ini mungkin saja ada ketersendatan dana lantaran kebutuhan-kebutuhan yang lebih urgensi. Namun, dalam kemalkuman ini saya merasa resah bahwa sebenarnya tujuan yang seharusnya mampu mensejahterakan rakyat dalam pembangunan berkelanjutan ini dananya tidak turun.

Komunikasi yang seharusnya bisa terjalin secara baik, tercipta secara baik, dan terbentuk untuk kebersamaan membangun indonesia lebih baik adalah dari jantung desa sendiri. Mendengar bahwa terdapat ke tidak sejahteraan masyarakat desa menjadi bukti atau salah satu indikator yang belum bisa dicapai melalui SDGS atau tujuan pembangunan berkelanjutan. Tetap seperti tadi saya sedikit menyayangkan hal ini terjadi, tetapi lantaran keadaan seperti ini sayapun memaklumi. Pasang surut ekonomi karena pandemi ini juga berdampak kepada desa dan otonomi pemerintahan daerah.

Jika komunikasi dalam publik saja saat ini masih menjadi halangan, bagaimana dengan penataan desa berkelanjutan untuk mempersiapkan the golden era of indonesia ? Namun, karena masyarakat desa atau kesatuan masyarakat ini memiliki hak seharusnya tak masalah apabila memprotes untuk meminta dana desa diturunkan. (Opini: Meminta Penurunan Dana Desa)

Sementara itu saya sendiri melihat bahwa desa mempunyai potensi-potensinya sendiri yang bisa membantu dalam pemasukan pemerintah kabupaten. Bahkan, dengan meleknya teknologi saat ini menjadi salah satu bentuk adopsi inovasi yang seharusnya teknologi menjadi alat, menjadi kemajuan, menjadi sebuah kemudahan untuk mengexplore hal baru. Jika kita membahas disini adalah rencana tentang pengajian online ditengah pandemi, rupanya baru-baru ini di surabaya sudah melakukan hal tersebut untuk menanggulang dan mengurangi penyebaran COVID-19 ini. Bahkan karena sudah melek akan informasi teknologi tak selalu menjadi sebuah momok yang mengerikan, serta dapat melibatkan karang taruna atau pemuda yang tlah off dalam kegiatannya selama ini.

SDGS dan Adopsi Inovasi menjadi semakin kuat dikalangan masyarakat selama pandemi ini. Bagaimana tidak, semua orang atau masyarakat dan individu diminta untuk melaksankan kerja melalui WFH. Maka dari itu, masyarakat merasa kesal lantaran dana desa yang seharusnya bisa menjadi anggaran dalam pembangunan desa hingga saat ini tidak jua turun.

Maka, untuk itu solusi terbaik adalah memperbaiki komunikasi antara instansi yang terkait dan ciptakan ketransparansi akan informasi. Lantaran, kepercayaan masyarakat dan publik itu sangatlah penting. Selain itu, keadaan saat ini benar-benar dibutuhkan kepastian lantaran covid-19 ini tidak ada kepastian seperti kabar doi yang hilang. Diciptakannya Tim Manajemen Krisis adalah hal penting untuk menyampaikan pesan agar shareholder atau publik tahu.



spacer

Menulis Satu Tahun Terakhir



Oleh. Muhammad Nnaufaldi

Seperti yang aku ketahui keadaan beberapa bulan lalu sudah menciptakan begitu banyak alur-alur cerita dan bahkan kisah-kisah percintaan yang cukup banyak dibaca hingga keadaan mendekati akhir tahun. Mulai Januari lalu aku masih mencoba untuk mempertahankan kecintaan dan kasih sayang kepada sastra dengan belajar menulis. Sudah cukup jauh rupanya perjalanan panjang yang memenuhi lika-liku kehidupan menarik jika dibahas pada artikel yang selanjutnya. Entah berapa orang hadir untuk membaca sedikit mengenai artikle maupun puisi-puisi pendek ini ingin aku ucapkan "Terimakasih sudah mau membaca yang masih banyak kekurangan dari diri ini" lantaran kalian sudah membantu meningkatkan literasi kalian dan mengapresiasinya.

Perjalanan yang panjang ini memang sudah dimulai dari begitu banyak kejadian. Tidak terasa sudah hampir satu tahun dan hampir purna juga tahun ini menemani kita, semoga pandemi ini segera usai dan hilang dari indonesia dan semua negara di bumi ini. 

Menulis satu tahun pada tajuk diatas ini merupakan sebuah program yang aku buat dalam meningkatkan diri mulai dari kualitas menulis hingga membaca buku-buku atau media online lainnya. Awalnya, tidak sengaja tantangan ini aku buat bahkan dikatakan orang iseng karena waktu itu mulai dengan Work From Home maka aku bisa membagi waktu untuk menulis di blog ini. Cukup senang bisa membucin melalui ketikan-ketikan beraksara dan bersenandung melalui keresahan semua orang. Tiada bosan aku mengucapkan terimakasih kepada kawan-kawan dan rekan yang mau menemani, mendukung, serta membuatku semakin semangat dalam berkarya.

Baiklah, aku akan memulai membahas beberapa pertanyaan yang mana sempat menjadi perbincangan orang-orang:

  • "Bang, mau tanya gimana caranya menulis kritis dan apakah bisa meningkatkan kekritisan kita ?"

Oke, aku akan menjawab sedikit mengenai hal ini. Cara menulis kritis itu bisa dibilang sedikit sulit tapi kalau sudah biasa akan mudah. Mengapa ? Lantaran kekritisan itu dimulai dari kepekaan kita terhadap lingkungan disekitar kita dahulu, kemudian mulailah tulis mengenai keadaan dan lingkungan kita. Aku sendiri masih belajar dalam menciptakan tulisan kritis. Kemudian jika menulis kritis apakah akan meningkatkan kekritisan kita ? jawabannya "Bisa" sebagai penulis kita dituntut untuk memperbanyak ensiklopedia dan pengetahuan umum kita. bahkan, kosa kata di KBBI menjadi salah satu dipelajari perbanyak diksi semakin menambah pengetahuan kita juga. 

  • "Bang, kenapa menulis membuat merasakan kebucinan yang cukup bagus pada diri ?"
Aku merasakan dengan menulis tercipta kebucinan-kebucinan yang dibuat oleh diri sendiri. Maksut dari hal tersebut adalah kita lebih paham akan diri kita, menjadi pribadi yang baik dan saling memahami pada diri sendiri dan orang lain. Namun, karena aku merasakan pada diri yang saat ini sedang sendiri aku memahaminya bahwa ini arti dari memahami menyayangi diri sendiri atau selflove kita melalui tulisan.
  •  "Bang, gimana caranya menulis seperti abangnya ini? "

Aku akan berbicara bahwa menulis adalah hal basic bagi setiap orang. Awalnya dulu aku tidak suka dengan menulis, tetapi karena memang suka sekali dan ingin mendalami sastra terutama sajak dan puisi maka mau tidak mau harus tetap berusaha menulis. Intinya adalah Trial and Error seperti kita melakukan penelitian, dari sinilah aku menyukai hal menulis meningkatkan pengetahuan umum dan pengetahuan sastra. Selain itu, jangan bosan membaca-baca entah itu artikel, berita, maupun sastra seperti novel, puisi, cerita dan sebagainya.

Sebagian orang menganggap bahwa menulis adalah hal yang membosankan. Padahal yang sebenarnya ibarat mencintai seseorang menulis adalah mendapingi kita dalam segala hal mulai dari rasa kesedihan hingga kebahagiaan sekalipun. 

Secara hebat, meningkat dari dua tahun lalu yang memulai menulis asal-asalan melalui media yang sangat disukai anak muda bahkan aku sendiri masih sering menggunakan aplikasi tersebut. Aku memiliki harapan yang cukup besar sebenarnya pada tahun ini, tetapi rupanya waktu tidak memihak untuk melaksanakan pada saat ini. Jadi, cukup menahan diri dan menahan naskah yang akan mulai kukerjakan kembali.

Okey, untuk sobat onlineku jangan bosan jika membaca buku. Buku adalah jendela ilmu dunia, bahkan imajinasi seorang bisa mengalahkan sebuah kenyataan bukan. Maka, pada tahun depan nantinya semoga kita bisa menyelesaikan segala tugas kita purna diakhir tahun untuk menjadi lebih baik lagi. Aku berharap juga nanti yang membaca ini entah dari belahan bumi mana itu semoga bisa menciptakan karya-karya yang juga sama akan terbit serta dibaca oleh semua orang. Sekian artikel ini next week kita bertemu lagi! See ya!!

spacer

Belajar Rela Dari Seekor Elang Timur



Oleh. Muhammad Naufaldi

Berdiri diantara gelap malam
Memikirkan setiap rasa yang kini semakin muram
Tidak nampak jelas dan merajam
Hingga nanti tampak mentari muncul dari timur menerkam

Elang yang mengepakan sayapnya
Mengarungi jarak yang tak terhitung olehnya
Hingga ia harus mematahkan paruh tajam
dan menggantikannya yang baru 

Ia telah jauh berkelana
Mencari tempat untuk kembali dan memeluk dia
Jika timur menjadi tujuannya
Harapan akan barat akan kehidupan baru untuk mereka

Kerelaan yang sangat menyakitkan pelajaran dari elang
Paruh yang tajam, bulu yang akan berganti ia cabut sendiri
Kedinginan dan melawan cuaca yang menusuk lebih kejam
Iapun bertahan untuk mencari sang pasangan

spacer

Dua Kata Yang Hampa

Oleh. Muhammad Naufaldi

Sejenak aku memandangi titik-titik kota
Menatap sayu akan lelah perjuangan pujangga
Syair-syair yang sudah tercatat tinta
Mampu mengurangi rasa pedih yang tercipta

Kata-kata hampa
Selagi kau mampu mencinta
Seharusnya aku mampu merindu
Tanpa adanya batasan untuk rindu padamu

Ketika mentari berganti temaram
Kau seakan lupa akan cinta yang berujung muram
Menciptakan beribu bekas lara
Yang menyiksa dalam dekapan panah asmara

Semua kata-kata itu kau buat indah
Seakan langit dan bumi menjadi hiasan kata yang membuahkan perih
Ahh-ha-ha... Sunggu menanti bukanlah hal yang tepat lagi
Malahan siksa batin ini menjadi-jadi dan mematikan diri

Magelang, 15 November 2020

spacer