Malam, Jogja Dirindukan


Cipt. Muhammad Naufaldi

Aku pernah dibuat oleh istimewa (bukan hanya kotanya). Namun, dia memberikanku kenang-kenangan dengan secarik kertas berisikan "Handwritting" namaku dengan embel-embel penulisan creditnya menggunakan kata "cantik". Aku masih ingat ketika itu malam, disebuah angkringan yang sering dibuat nongki anak UGM. Aku lupa namun tepat itu berada disekitaran jalan kaliurang pokoknya. Ya, semoga aja si doi ini (sahabatku) selalu sehat dan dalam lindungan Gusti. Namun, kota itu masih dalam gelap malam dalam keriuhannya. Ah, berharap saja dia tidak melupakanku.

Kami sering bertemu dan berdiskusi tentang banyak hal, bahkan kisah-kisah Romeo dan Juliet atau apapun itu. Yah, dia memang sangat tangguh gadis rupawan yang tinggal di Kota berplat R-nya. Terkenal dengan gadis-gadis cantik katanya. Dan kamipun tak pernah lupa kenapa bertemu?

Bertemu karena hal sepele dan kenekatan yang waktu itu membuat berhasil bertemu di sebuah kota kecil yang lumayan luas jangkauannya lebih tepatnya Kota Yogyakarta. Kita tahu apabila rencana untuk pergi kadang tidak kesampean jadi, maka kuputuskan nekat pergi. Kota yang riuh, selokan mataram yang panjang mengeliling kota. Ah sudahkah rindu dengan kota itu. Yah aku benar-benar rindu dengan kota-nya yang selalu memberikan kenangan-kenangan membekas dalam hari-hariku, hinggaku mengenalnya dari suatu forum menjadi dekat dengan dia adalah kenangan paling membekas. Mungkin begitu pikirku, benarkan, rah ?

Ini bukan lagi rasa cinta yang kubahas namun rasa kasih sayang sebagai sahabat itu benar adanya. Kami memiliki beberapa hal sama dalam keanehan-keanehan itu, dan aku benar benar bersyukur mengenalnya waktu itu Seorang gadis dri plat R yang tak pernahku lupa senyum dan tawanya. Tak inginku lupa dengan sambutan kota itu, selalu dengan kejutan-kejutan baru tak membosankan hati ini untuk ingi berkunjung kesana. mungkin menemui-mu lagi ? ya, kenapa tidak kuharapkan waktu dan ruang memberikan keleluasaan kepada kita wahai sahabatku.
spacer

Tenang, Daku Rindu


Cipt. Muhammad Naufaldi

Ketenangan?
Banyak celah dalam laluan hari
Renung, dalam bebas jemari
Kulihat lagi hujan bersama puan

Menciptakan, aksara-aksara
Yang belum sempat dikatakan waktu itu
Aku sampaikan tulisan kepadamu
Tenang hadir dalam tatapan lembut mata

Indahnya lautan
Derasnya hujan
Memaknai ketenangan
Alam yang memeluk tak melepas dekapan-nya

Tenang..
Hadir dalam rangkaian sesaji
Yang tak segan memberiku harum semerbak
Secangkir kopi, puisi, dan hadiah alam ini
spacer

Sebuah Aksara Kecil

Cipt. Muhammad Naufaldi

Ada waktu yang tak berhenti
Menuntut mengejar hati yang kembali
Dalam naungan panas mentari menyengat
Memberiku dahaga, namun kau hadir memberi air sedikit

Nanti, akan hadirmu dihatiku
Alangkah mimpimu tak kunjung bertemu
Cari aku yang kau butuhkan
Akanku menanti dalam alam yang berpelukan

Menjaga setiap langkah
Agar tetap sejajar bersamamu nan indah
Lingkar alam yang memeluku dan memelukmu
Itu akan menjadi saksi

Saksi bisu, yang paling diagungkan
Tak pernah berdusta, karena ia takut gusti
Alam yang memohonmu disampingku, sahabat
Agar setiap rindumu, hari tuamu tetap bersamaku
spacer

Kesudahan Waktu

 Cipt Muhammad Naufaldi

Jika ini adalah puisi yang terakhir
Aku harap kamu harus tetap berbahagia
Ringan hati, lapangkan dadamu sayang
Semua akan mengikhlaskan dan kamu harus tetap tabah

Aksara ini bukan sekedar tulisan
Namun, ini sebuah pesan hati yang akan kuberikan kepadamu
Jangan pernah marah, ketikaku tak hadir
Aku hadir dalam malammu dan lelapmu

Aku tak akan pergi begitu saja
Jika aku bersalah, ampuni aku dengan maafmu
Maafpun, Jika janjiku belumku tepati
Kamu harus tetap berbahagia, dengan seseorang

Ampuni gusti, aku menyakiti lagi perempuan
Aku tak bermaksud meninggalkanmu
Biarkan Gusti yang mengatur itu semua
Dalam renung pagi yang tak kunjung bersahabat
spacer

Bukan Buta Cinta, Aku Hanya Cemburu

Cipt: Muhammad Naufaldi

Bertapa dibawah awan
Kutatap mega yang anggun
Biru-membiru dalam haluan
Membujukku cemburu terbawa angin

Masih adakah hati yang suci ?
Seakan rasa cemburu itu hanya permainan kecil
Menyulutkan api kecil, yang membakar kulit
Tiada rasa bosan, ampuni oleh hati

Ketika ramai adalah rumunan sepi
Maka kita berdua adalah jarak yang saling merindu
Mungkin, kita tak sadar atas raga ini
Yang memecahkan karang dalam hati itu

Gusti, mengapa cemburu itu harus ada ?
Apakah ini sebuah ujian hati dalam sebuah permainan laga?
Jikapun diizinkan aku tak ingin merasakan cemburu ada
Mungkin ini adalah sajak-sajak kecilku yang lara dan membara

Menghidupkan api yang telah lama mati
Namun, tak terbiasa dengan batin yang cemburu
Merisau hingga tidak dapat terperikan melalui bibir ini
Yang mungkin tak mampu tersampaikan ke kamu.

spacer