Puisi Dini Hari: "Doaku Riuh"


Cipt. Muhammad Naufaldi

Dikala pagi, matahari ingin cepat-cepat terbit
Namun, dalam hening mata masih saja belum menghipit
Memikirkan bayang-banya yang tak pernah mampu kucapai
Rasa yang ingin terucap, namun tak mampu sampai

Ah, cinta lagi
Puisi dini hari, cerita dan rangkaian ini
Bak, Tak kunjung usai penantian-mu
Jika aku meminta ijin untuk menanti-mu

Mungkin, Gusti mempertemukan-mu
Adalah salah satu cara agar tercipta rasa dihidupku
Menjelma sedikit kebahagian yang perlahan masuk kebenakku
Menjadi sebuah nada yang selalu ada dialam pikirku

Puisi dini hari
Tidak akan pernah berakhir
Dalam rasa yang meyakinkan
Aku akan medoakanmu riuh disini dalam pelukan alam


spacer

Persepsiku Terhadap Ruang Publik Virtual


Cipt. Muhammad Naufaldi

Social media, siapa yang tak mengenal ? berbagai platform diterbitkan dan diluncukan bahkan dengan berbagai fitur dan kelebihannya masing-masing. Yah, mungkin bisa saja dilihat dengan diri sendiri bahwa ketika melakukan sebuah penyebaran informasi atau menerima informasi melalui media komunikasi saat ini memang mudah, cepat, tidak berbatas ruang dan waktu. Hebatnya, kita hanya dengan satu genggaman ditangan saja bisa sampai pada jarak yang tidak ditentukan. Namun, apakah sadar ketika kita ini sedang berada pada titik dimana "bukan mimpi, tetapi juga bukan nyata?".  Berarti kita sudah terkena yang namanya cyberspace yang menciptakan halusinasi yang diproduksi secara teknologis dan berupa citra-citra (gambaran-gambaran).

Hingga, akhirnya merubah dan memengaruhi kehidupan sosial didalam berbagai tingkatannya. Disini cyberspace tidak hanya menciptakan perubahan sosial yang sangat mendasar, malahan oleh berbagai pemikir dikatakan telah menggiring pada kondisi  ekstrim "kematian sosial. Bahkan, didalam cyberspace ini sendiri setiap orang memiliki kebebasan yang tak berbatas yang menciptakan demokrasi radikal yang di dalamnya segala tinda  kan sosial (social action) tidak ada yang mengatur, mengontrol dan memberi penilaian. Di dalamnya seakan-akan “apapun boleh  (anything goes).

Dari hal diatas, memang kebebasan itu benar adanya. Namun, sedikit menggeser guna arti hak manusia itu terkadang juga tidak baik. Sebanyak apapun itu, persepsi memang akan mempengaruhi setiap hal dalam kehidupan didalam sosial media. Menciptakan persepsi yang sangat tidak baik mungkin, atau menciptakan persepsi yang ya sudah itu milik mereka dan aku lebih baik mengingatnya. Memang benar, di Indonesia sendiri regulasi-regulasi ini belum muncul dan ketat. Inilah yang terjadi saat ini, tanpa kita sadari dengan opini publik seakan-akan tanpa norma, realitas dapat dimanipulasi, kejahatan dapat dilakukan secara tersembunyi. sehingga meskipun tampaknya tidak ada pemaksaan dan kekerasan dalamnya. 

Kita, manusia adalah makhluk sosial yang mana kehidupan kita selalu bergantung oleh orang lain. Bahkan ketika kita sakitpun pasti kita membutuhkan orang lain. Atau ketika kita meminta saran kepada teman, sahabat maupun kerabat. Disinilah, bentuk hal yang harus diperhatikan banyak orang termasuk aku sendiri bahwa yang namanya kritik dan saran itu boleh. Namun, apapun itu gunakan cara yang tepat dan benar, dengan mengkomunikasikan dengan baik kita bisa menjadi salah satu orang yang memang berusaha untuk menciptakan lingkungan yang baik. Terkadang sebuah "Frame" itu bukan diri sendiri yang membuat namun orang-orang yang bisa menciptakan citra buruk terhadap orang lain. Disinilah, kenyataannya mengapa kita lebih suka menjudge orang secara langsung bahkan kenal saja tidak, tahu juga tidak secara realnya karena realitas ini sudah dapat dimanipulasi. Kejahatan-kejahatan juga bisa terjadi tanpa diketahui. semua hal ini mungkin sangat tipis untuk diketahui mana realita dan halusinasi, dan yah kita memang benar-benar berada di era yang mudah ini. 

spacer

Rindu, Kenangan dan Google Drive!


 
Cipt. Muhammad Naufaldi

Apa yang kalian pikirkan sih tentang perjalanan?? Ini sebuah cerita yang tidak terlalu istimewa untuk orang-orang saat ini, tetapi bagiku sangan berkesan pada umur yang sangat belia bersama keluarga melakukan perjalanan yang sangat rutin, hingga disusuri semua pantai dan beberapa gunung.  Sebenarnya yang kutulis ini adalah rasa rindu yang sempat hilang dari ingatan. Sempat beberapa kali melihat “Google Drive” penyimpanan yang penuh, hinggaku berniat menghapus dan melihat file-file lama yang tak pernah kubuka ternyata masih ada didalam itu. Sebelumnya terimakasih Google! Hehehe.
 
Ketika itu aku berumur 12 tahun, dan yah mungkin itu adalah masa dimana anak-anak sekolah dan bermain sewajarnya mempunyai pengalaman bersama teman-teman dalam lingkungannya. Namun, aku ini merasa beruntuk ketika bisa “travelling” ke tempat-tempat yang mungkin bisa dibilang jarang didatangi anak-anak berumur masih belia dan beruntung pada masa itu. Mungkin dulu aku adalah salah satu “Nek dikon foto kok mesti wegah” , kata ibukku waktu itu dan memang aku adalah anak yang tidak suka sekali difoto namun malah menjadi suka dengan dunia fotografi saat ini. Anehnya, aku waktu itu merasakan exited dengan namanya “Gunung Bromo” itu akhirnya aku mau saja berfoto dan menikmati keindahan alam dan  disitulah aku pertama mengenal alam yang lebih megah ciptaan Gusti dibumi yang menabjubkan. Dengan rasa syukur dengan foto itu dibelakangnya ada Puncak Mahameru (sebutan puncak legenda) yaitu Gunung Semeru yang tertinggi di Pulau Jawa dengan gagah selain Gunung Merapi dan Sumbing yang juga memiliki kegagahan serta megahnya. Aku-akui dan visual gambarnya dua gunung ini (Bromo dan Semeru) membuatku tabjub akan keindahannya, dan mungkin dengan rasa syukur sekali lagi atas kuasa-Nya waktu itu aku bisa melihat dua gunung yang megah nan indah. 

Dengan penuh perjuangan yang saat itu lucu, jadi sebelum naik ke tempat Gardu Pandang lebih tepatnya. Sampailah aku dan keluarga waktu itu sekitar jam 2-3 pagi, dimana waktu itu baru pertama kali namanya aku naik gunung dengan suhu yang lumayan dingin. Menjelang pagi aku masih ingat sekali, aku tertidur di dekat jendela yang itu pastinya dingin dan yang pasti aku merasakan masuk angina kemudian. Hebatnya, aku masih bisa melaksanakan ibadah sholat shubuh dengan air yang sangat dingin, lantai keramik yang luar biasa dingin seperti es. Dan itu adalah pengalaman yang memang lucu dimana matahari mulai muncul dan terbit dengan senyuman-senyuman penduduk yang ramah menyambut kami, aku tak ingin turun dari mobil karena merasakan badan yang sudah tidak membaik alias masuk angin. 

Hingga akhirnya,
“Bangun, mas sarapan dulu” kata, ayah waktu itu
“Badan mas enggak enak yah ini” jawabku
“Lah, liburan malah masuk angin. Yaudah turun dan makan dulu makan sarapan mie rebus itu udah dibelikan dan dimasakin siapa tau enakan badannya?” 

Dan terpaksa turun, karena memang lapar sebenarnya. Aku merasakan keajaiban disini, aku makan tidak sampai 2 sendok makan badanku yang awalnya terasa tidak enak menjadi lebih mendingan dan pulih secara cepat. Bahkan, nafsu makanku tidak berkurang sedikitpun hinggaku makan dan habiskan semuanya mulailah perjalanan menuju gardu pandang. Dan disambut oleh dua gunung megah yang bersih tanpa kabut dan ditemani cahaya hangat dari matahari yang tak mau mengalahnya dengan dua gunung itu. Hanya beberapa jam berada di tempat tersebut pada akhirnya kami melanjutkan perjalan pulang.

Banyak yang kupikirkan waktu dulu hingga saat ini. Jujur aku rindu dengan provinsi-nya. Walaupun kota-nya terkadang sangat panas menyengat aku rindu akan semua hal. Bahkan, semua hal itu masih saja membekas dan aku benar-benar bersyukur bisa merasakan pengalaman yang mungkin bisa saja itu hanya sekali saja. Namun, harapanku adalah tetap alam ini kita jaga bersama dan lindungi bersama selain anak cucu kita yang akan menikmati itu kelak. Mungkin saja kita juga bisa kesana dengan kerinduan yang aku rasakan saat ini. Dan semoga aku dan kalian bisa dapat menyambangi dua gunung ini. Aamiin!

spacer

Alam Semesta, Lebih Tau


Cipt. Muhammad Naufaldi

Riuh doa
Sambutan udara shubuh
Alam melihat tenang
Gunung menatap hangat

Matahari yang baru muncul
Mencium setiap insan yang ada di bumi
Bahkan, awan mendung
Menyambut hangat dengan riuhnya air jatuh

Tak kau tanyakan ?
Mengapa ?
Kita dicintai alam, setia tanpa pamrih
Seperti ibu yang membesarkan kita
Dalam pelukan hangat

Alam lebih tau
Hingga ia harus bersabar
Oleh rakusnya makhluk yang berakal
Bertamasya diatas kebijakan
Hingga ia lupa akan diri sendiri

Mencari sebuah jawaban
Alamlah yang menjawabnya

spacer

Bulan 4 Hari ke-3


Cipt. Muhammad Naufaldi

Yang kuketahui ini akan spesial
Hari yang tak sekedar berlalu melawan diri
Setiap raga itu akan selalu memiliki keindahan
Cerita yang tidak sedikit dalam esok pagi

Ketika usia bertambah
Doaku adalah yang terbaik kepadamu
Yang terbaik, menjadi doaku dalam perjalananmu kelak
Hingga, pagi nanti kau baca puisi ini

Selamat, atas bertambah usiamu
Akankah ini menjadi sebuah puisi yang spesial
Atau hanya sekedar cerita tak arti untuk nanti
Namun, tetap ini menjadikanmu istimewa

Untukmu yang sekarang sedang berbahagia
Tebarkan kebahagiaanmu, kepada orang lain
Sebarkan, setiap senyumu esok hari ini
Maaf, jika puisiku ini tak terlalu istimewa

Kuucapkan selamat ulang tahun kepada-mu.
spacer