Aquarius: In Love With You

Cipt: Muhammad Naufaldi

Setelah surya naik keatas
Masih kuingat
Saat itu bertanya
Dan inginku mendengarkan jawabannya

Langit terbentang biru
Sebiru rasa ini, bahagia
Bahkan, lautpun juga biru
Sebiru rasa tenangku

Keteduhan dihangatkan
Fajar yang hadir lebih pagi
Menjingga dan keemasan
Membuat malu rasa ini

Menelaah pagi
Dengan kesejukannya
Kabut tipis
Dengan kata maaf

Bahwa, Air tidak pernah berbohong
Bahkan tidak pernah menyakiti
Namun, selalu disakiti
Tetap saja memaafkan

Tidak mendendam
Bahkan, tidak pernah marah
Tenang seperti halnya
Mengalir hingga bertemu
spacer

Untitled: To Be Come A Cloud

Semakin malam, hening datang
Merobek-robek setengah hatiku
Dalam diam, keresahan ini
Menghukumku dalam larut malam

Menginjak akan pagi
Namun, tak ku sangka
Tusuk belati itu belum juga usai
Tak mampu mematikan rasa

Buat apa puisi ini
Penghibur laraku atau laramu?
Tak perlu khawatir tentangku
Karena aku masih saja disini

Merambahkan kabut hadir
Dingin menyiksa seperti luka bertabur garam
Air mata, sudah tidak mampu menetes dalam wajah
Hanya diam, melihatmu sebelum matiku

Mungkin tak perlu berandai-andai
Agar waktu berhenti maupun berputar kembali
Bahkan, tuhan menciptakan dan mengatur segalanya
Hal yang tidak pernah kita ketahui

Bebaringan Lelah, 2019

spacer

Kicau Kerinduan Hati

Cipt: Muhammad Naufaldi

Potret pagi dingin
Memberi sebuah keinginan
Dalam peristirahat yang lama
Akan Kesepian

Hujan sampaikan pesan
Akan kerinduan kepada angin
Menghilangkan resah
Dalam pertemuan

Tulisan puisiku
Yang terbisikan dalam diam
Sudahkah kau membacanya
Dibalik awan-awan itu

Sebuah rindu
Yang tidak menghilang
Lekat seperti awan putih yang tertempel di langit biru
Halus seperti diam tak berkata sepatah pun

Sudah mengijak tahun ke-5
Dalam aksara menemaniku
Hingga akhirnya waktu menyimpanku
Mempertemukanku dengan seseorang
Agar kicau rindu segera terobati
spacer

Sebuah Harapan

Cipt: Muhammad Naufaldi

Puisiku adalah puisimu
Tentangmu juga tentangku
Menunggu dalam harap
Setelah hampir 1200 hari

Ku tunggu harap
Menjadi keberuntungan
Selama perjalanan ini
Sepi, sendiri, dan terpuruk

Tak mendengarkan kata hati
Terluka yang hadir
Mendengarkan kata hati
Konsekuensi hati adalah luka

Tidak masalah aku menunggumu
Dalam lembar baru
Yang ingin kutulis dengan aksara
Dalam genggaman pena ini

Aku telah lama bersama harap
Labuhan yang telah lama tidak jumpa
Terombang ambingkan ombak
Dalam aksara-aksara puisi yang hilang

Tak pernah marah padamu
Harapan muncul, namun kadang hilang
Terkadang yang hilang
Menjadikan arti

Berapa banyak badai yang kutempuh
Jiwa yang hampir membeku
Mati lemas, tak berdaya dalam keras
Dingin, tak beradab.

Hati yang lama sendiri
Juga butuh tempat berlabuh
Biarkan saja
Entah kapan waktu akan menjawab
Dimana akan berhenti
Atau mungkin akan hilang lagi

spacer

Aku, Kamu, Jogja dan Senja.


Mulai dari malam perjalananku terhenti untuk kembali pulang, dimana aku sedang duduk bersama dengan secangkir iced coffee  yang ku nikmati dengan malam yang segera menjelang. Keseharian yang telah berlalu banyak hal yang didapatkan, momen yang singkat membuatku merindukannya lagi tetapi membuatku agak kesal sebenarnya. Tak kusangka hari yang selalu tidak direncanakan bisa menjadi hari yang paling special dan menyenangkan rasa hati bertemu dengan seorang “pujaan hati”. Hari yang hanya sebenarnya biasa saja menjadi luar biasa dan berarti akan hal yang tak pernah kita duga, seketika bisa langsung terjadi. Sedikit, malu bertemunya untuk kesekian kali namun rasa yang tak pernah berubah seakan menjadi pondasi dalam menjalin sebuah hubungan yang semakin erat. 

“Halo, pal” kata tutur yang halus
“hehe, hei” jawabku dengan sedikit ketawa karena melihat dari spion yang telah lama memandanginya.
“jadi, kita akan kemana pal ??” katanya
“aku ikut saja, mau kemana yang penting bisa foto” jawabku

Percakapan yang singkat tetapi membuat waktuku yang terbatas bersamanya, menjadi sangat berarti dan bermakna. Tak pernah ku bayangkan ini menjadi salah satu langkah besar dimana 4 tahun lalu aku memang tak berpikir untuk memiliki seorang perempuan lagi, tersakiti hatinya lantaran di khianati. Sore yang menjadi malam tak pernah menghianatiku hari ini, dia yang memberiku sebuah harapan itu menjadikanku seorang yang berani keluar dari zona nyamanku selama 4 tahun terakhir ini. 

Masih kurasakan tatapan matanya yang membuatku tak bisa melupakannya serta membuatku memikirkannya terus menerus.  Duduk merasakan letihnya hari dengan sedikit campuran “café latte” yang memikat untuk dirasakan seakan memanggil untuk dirasakan bersama hari yang menjelang malam. Tidak bisa, melepasnya demikian karena sangat rindu atau juga dia merasakan rasa yang sama menggetarkan hati yang pernah keras hingga benar-benar ku dibuat meleleh hatinya. Terkadang aku berpikir “apakah ini akan menjadi sebuah kisah yang akan panjang?” kata hati. Ingin rasanya aku merasakan hal yang memang dirasakan orang lain, berbagi sebuah kehangatan canda gurau dengan seorang lagi untuk melengkapi hati ini. Bukan, sekedar kata apabila kamu membaca sebuah ini tapi aku saja tak berubah pikirannya dengan rasa ini serta akan sesama menunggumu melihatmu menjagamu. Namun, ku percaya luka yang pernah membekas bisa hilang kembali dan luka itu bisa menjadi pembelajaran untukku. 

Suasana jogja sore itu, matahari akan segera terbenam ditengah ramainya kota itu tidak menghilangkan khasnya dengan julukan kota pendidikan. Ramainya jalan-jalan orang pada bergelut dengan macet lantaran ingin segera kembali ke tempat masing-masing. Kebahagiaan, sedih, sakit dsb bercampur pada hari itu tidak hanya satu orang namun semua orang. Lantaran kedapatan diriku hanya memiliki waktu yang sangat-sangat terbatas, dalam kerinduan yang hening dan diam, aku hanya mampu mensyukurii yang telah terjadi sore menjelang malam. Tak kusangka, hati yang selama ini benar-benar beku dalam waktu yang cepat mampu leleh olehnya.

Setelah lama mencari jawaban dunia, kehilangan yang sangat dalam dan terpapar oleh pasang surut zona nyaman yang tak mengizinkanku keluar. Setelah enggan rasanya, sore menjelang malam langit-langit mulai menjingga hingga kemerahan tua ditemanimu sore itu, aku senang terlebih jika kamu duduk bersamaku. Hingga perbincangan ngaco, ketawa-ketiwi, serta menciptakaan sebuah keirian oleh senja itu yang memang telah menua. Namun, kunjung saja kota itu tak pernah membohongi hatiku, hingga habis waktu menuju detik terakhir waktu. 

Cinta?
Cinta itu sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. itu adalah pengertian secara umum. Namun, menurutku cinta adalah sebuah proses kehilangan dimana semua akan terobati dan kemudian akan pulih seperti semula bahkan tidak ada kata harus memiliki saja kita bisa menganggapnya itu "cinta". Namun, paling penting adalah cinta yang benar-benar itu tidak pernah mendua dan pasti hingga akhir hayat.
spacer

Jalan dan Merindu

Cipt: Muhammad Naufaldi


Merindu,
Senja telah datang
Menjingga tua
Menutup sebuah kisah

Telah hadir langit biru,
kupandangi jendela
Dengan waktu yang berhenti
Menutup keinginan yang tak terpenuhi

Dan ternyata
Aku tidak kemana-mana
Semakin larut, gundah hati
Dalam rindu yang beku

Tak kusangka
Satu untukmu
Hitungan dua kuanggap
Adalah fana

Hadir, yang sepi
Refleksi bulan, anggun
Seakan untukmu
Masih tertera kesempatan

Sudah lama
Tak ada cerita
Hilang ditelan malam
Sampai kapan aku akan berlari ? Dan menanti?

Selamat Malam untukmu.

spacer

Aksara Penyembuh Rindu

Cipt: Muhammad Naufaldi
Perjumpaan yang diperpanjang oleh rindu
Disebabkan oleh cinta
Membuat kita bersatu
Dalam satu ikatan yang suci

Aksara-aksara tertulis
Dalam kesunyian dan kesendirian
Perpisahan sementara ini
Membuatku rindu
Justru rasa ini semakin kuat

Jarak hanyalah bayangan
Takkan menghapus asa rindu ini
Akan ku menunggu hingga kau kembali
Tenang saja.

Masih ada kata kelak
Yang akan membuat kita bertemu
Masih ada waktu
Yang membantu mengobati rasa rindu
spacer

Sekedar Ngopi Ning Dalan

Perjalanan waktu yang menghajarku sore ini, sudah cukup membuatku lelah, bahkan babak belur tak karuan lantaran rinduku yang sekarang menjadi tak bertuan malah menjadikanku resah akan sebuah kehilangan. Masih dengan suasana yang sedikit tidak mengenakan hati, aku mulai duduk di beranda rumah menikmati sore dengan harum kopi hitam yang pekat dengan ampas-ampas seakan membuatku begairah sore itu untuk dinikmati olehku. Sebenarnya, aku ini adalah penggila kopi bahkan bisa dikatakan maniak sekali karena kebiasaan dengan slogan "tidak ngopi, inspirasi belum bisa muncul" seperti itu menjadikan semua hal yang berkaitan dengan perjalanan waktu yang berakhir di sore menuju senja langit senja menemani diri ini yang sedang diam menikmati kopi dan senja.

Tak kusangka ‘’telah lama tak kurasakan, sebuah rasa yang benar-benar membuatku seperti ini. Seakan tidak bisa aku jelaskan bagaimana perasaan itu" dalam batinku yang mulai sedikit hampa dengan harapan tetap sama, mencintai dan menyayangi dia yang tidak pernah merubah perasaanku. Dia yang hadir membukakan buku lembaran baru dengan menuliskan tinta yang ada di pena itu, telah membuatku merasakan seakan "apakah ini akan menjadi sebuah perjalanan yang memilik cerita yang luar biasa atau hanya sebatas formalitas yang akhirnya menimbulkan rasa sakit antara kita." Hanya saja tetap belum tahu kenapa rasa ini tetap bertahan hingga sekarang bahkan benar-benar tak berkurang sepeser-pun.

Apakah keikhlasan itu ?
Kamu telah melaksanakan segala kewajibanmu. Namun, pejuang seperti halnya sebab-akibat dimana semua itu terjadi maka akan ada konsekuensi yang didapat. Dimana kita mampu menyerahkan akan segala jiwa dan raga untuk mengejar hati seorang atau mempertahankan sebuah perasaan tanpa meminta imbalan kembali. Seakan-akan ketulusanlah yang membuat kita memahami tentang arti keikhlasan.

Sore yang menjingga menjelang senja, telah menemani soreku yang tak merubah segala hal apapun itu. Masih saja ku nikmati kopi hitam yang sudah dihidangkan yang kemudian membuatku berpikir "Seharusnya kita bisa menghargai sebuah perasaan dengan jujur, mencoba untuk mengerti dan memahami setiap insan yang ada", tetap saja aku berpikir bahwa itu benar-benar tidak mudah dalam realisasinya. Tak kusangka hari yang sebenarnya menyenangkan ternyata ada hal yang sedikit tidak mengenakan. 

" mas mikirke nopo kok mung meneng wae ting mriki??"
"Lah, biasa tok dek maskan nek sore senengan e gawe kopi kongko ning kene."
"Tapi biasane moco-moco iki tumben banget ora gowo bacaan sing di gawe wingi"
"Wah, iyo dek lagi ora mood buka buku kuwi pingin leleren dhisik."
"Owalah, ngono mas? Iki meneng ki mikir ke niku opo enten sing liyane?"
"Ah, yo ngono iku"

Disela-sela kopi dan tiba adikku yang dari dalam rumah membuatku sedikit terkejut saja, namun aku masih saja menikmati kopi sembari memikirkan apa yang harus ku lakukan. Aku nikmati kopi hingga benar benar habis dan mulai ku tinggal segala kegiatanku di beranda rumah lantaran waktu maghrib udah memanggil, lantas ku ambil air wuxhu dan segera menuju ke masjid dekat rumah. Ku berjalan kaki, namun hati dan pikiran ku tetap tidak bisa menjadi tenang. Merasakan bahwa khawatir saja dengan apa yang akan terjadi dengan segala hal yang berhubungan dengan hati, hingga saat ini tetap tak mampu saja aku melihat keadaan secara batinku. Banyak terdiam, bahkan tidak berkata  kepada orang lain hanya merenung terus menerus diperjalanan itu dengan harapan dapat tenang setelah sholat maghrib. 

Malam datang dengan cepat, tak diundang bahkan tak menyapaku. Seakan terlihat sombong, dibalik tetap rasa syukur yang selalu ku lantunkan dalam doaku agar mendapat yang terbaik dan selalu meyakini atas keputusanku ini. Sudah lama diam dalam perjuangan yang tak bertumpahkan darah, seakan masih harus menutup luka agar tak terlihat menyedihkan. 

"Apakah, ini menjadi salah satu jalan yang harus aku lakukan dari andil tugas mempertahankan sebuah perkataan hati yang saat ini sedang terluka?" pikirku yang sedang berjalan menuju rumah.
Tak kusangka saja sekian panjang hari yang terlewati hingga tak ada sisa-sisa kepercayaan ini, seakan aku hanya menerima dan mendapat konsekuensi sebagai sisa-sisa yang tak di ikhlaskan.  Masih saja berharap namun sudah tak mampu untuk mengharap lagi, lantaran "untuk apa ?" hanya akan melelahkan diriku. Akhirnya tetap saja bagaimana perjuanganku hingga mampu menemukan seorang yang akhirnya tetap saja, sebagaimana manusia adalah makhluk-Nya yang bisa mencintai dan menyayangi makhluk-Nya yang lain jadi tetap saja bagaimanapun itu tetap saja sebagai makhluk-Nya kita masih diberikan kasih sayang oleh-Nya dengan dibolak balikan hatiku ini. Kunci dari semuanya adalah ikhlas dan ikhlaslah yang memberi kita kekuatan dan ketulusan hati yang bersih sebagai manusia.

spacer

Candu, Yang Merindukan

Sandaranku menatap ruanganku yang telah rapi, kala malam yang mulai mencekam dingin dengan sedikit rasa pahit dari kopi panas yang menggoda lidah. Lantaran asyik dengan kopi, tak sadarku terbayang memberikan hal yang membuatku termotivasi untuk melaksanakan aktifitas hari ini penuh rasa yang menyenangkan tak kusangka saja bisa menjadi salah satu nikmat terindah.

Segarnya angin pagi, harumnya bunga dari taman kecil dekat beranda rumah, serta terpaan sinar matahari yang mulai muncul menghangatkan tubuhku dikala dingin. Rasa syukur, yang sangat besar dalam keadaan yang benar-benar buyar antara kehidupan percintaan serta kehidupan dunia yang secara fisik dan psikis. Masih tersandar "apakah ini perjalananku? Atau perjalanan kita?" batinku, rasa lelah berjuang yang namun sampai saat ini tak berkurang rasanya masih saja setia menanti yang kalau kata orang "tak pasti" tetapi aku tetap bersyukur dengan adanya sekarang.

Suara-suara berkicau burung berterbangan dengan asyik, memperlihatkan pagi itu akan menemaniku dengan yang sangat indah dan membahagiakan. "Untukmu yang membaca ini, aku harap kamu sadar aku menunggumu" sebuah bait yang ada di puisiku telah menjadi sebuah keusangan lantaran terdiam beberapa hari lalu. Sekarang, tak ada lagi pagi yang menekan diriku karena perasaan yang telah di peras dan ditekan membuat menjadi ikhlas dan mempelajari segala hal yang memungkinkan untuk mengikhlaskan untuk dirinya. Jika, Allah tak memberiku kehadiran dia mungkin sekarang aku tak seperti sekarang ini, kekurangan yang sangat membuat hati dehidrasi dalam pencarianku.

Ikhlash?
Sebuah perasaan yang mewakili hati untuk menyampaikan sebuah rasa yang tak terlihat, tak tersentuh, tak terdengar dan mungkin bisa mustahil untuk dipahami oleh setiap manusia.

Pencarian ini ingin segera aku tuntaskan, segera usai dan berlabuh. Namun, aku yakin tak selamanya ini mudah pasti akan ada rintangan yang telah menanti didepan menunggu sangat lantang berteriak "mari lawan aku!". Masih saja aku terdiam dengan rasa lelahku bergelut dengan perasaan dan otak yang tidak mau sinkron dan bersama jalan sejajar. Bahkan, tak ku sangka bisa memikirkanmu seorang perempuan yang ku nanti dalam penantian yang tak main-main. Sekedar ku ngopi dipagi hari, ada pertengkaran kecil yang membuatku tertawa kecil atas kejadian pagi itu sebelum matahari mengintip muncul malu malu sebenarnya.

Sebuah smartphone yang aku telpon berdering dari seorang yang aku kenal, langsung saja kuangkat.

" Assalamualaikum, gimana mas ?" selalu halus membuatku rindu.
"Sebenarnya tidak ada apa-apa, hanya saja ingin ku menelpon lebih dulu karena beberapa hari lalu kamu chat enggakku bales" dalam keadaan gelap dipagi itu
"Yakin, tidak ada apa-apa ? Jawabnya
"Yakin, tidak ada apa-apa cuma ingin saja kita ngobrol"

Semakin menuju pagi, aku merasa rindu lantaran pertemuan waktu itu hanya sebentar. Bahkan, aku hanya mampu memikirkannya untuk saat ini, hanya dalam doa yang ku layangkan ke langit. Tak ada pertarungan lagi saat menuju pagi, sebab rasa itu hanya aku yang memiliki sebuah optimisme yang ada saat ini. Kugarap semua pekerjaanku dan aktivitasku yang sangat-sangat padat pada pagi yang menjelang siang dengan beribu keinginan seperti manusia pada umumnya. Ingin rasanya berbagi sebuah hal yang menurutku tabu untuk mempertahankan sebuah hubungan yang telah lama ku lupakan hingga akhirnya dia datang merubah segala halnya, hanya berucap dalam hatiku "selamat datang! Terimakasih kehadiranmu merubahku" hingga tak ada yang tersisa dalam hati ini. Semoga yang tersemogakan menjadi salah satu perjuangan tak sia sia.

spacer

Ora Pinter, Tapi Gelem Nyinau

Menjelang malam hari berada tempat aku berhenti  sebuah kota yang istimewa dengan budaya, keraton, dan suasana kota yang  berbeda,aku masih menunggu setiap detiknya menikmati senja yang semakin tua untuk terbenam di ufuk barat Kota Yogyakarta, dengan sejuta harapan yang masih ada dan aku merasa letih sore ini dengan ditemani kopi yang menjadi salah satu daya kekuatan terbesar selain dia. Entah mengapa kota ini menjadi sebuah tempat yang selalu aku rindukan, bahkan sebuah tempat pelarian yang tak pernah marah jika aku sedang mengeluh “sambat” atas semuanya.

Masih saja ku duduk disebuah minimarket, mengatakan “hallo apakabar dirimu ini?”kataku kepada aku. Mengetik segala risau hati, disebuah kertas putih yang tak pernah menghianati semua hal pada hari ini. Aku masih saja mengatakan perjalanan ini sangat-sangat harus disyukuri ketika semua teman tadi agak mengeluh, atas keterlambatan dan tidak dapat mengikuti sebuah sesi kelas fotografi. Membuatku seakan kasihan melihat dalam keadaanku yang sama-sama merasakan capek di tengah terik siang kota Yogyakarta. Banyak yang berlalu lalang didepanku tersenyum ramah dan membuatku malu, tak nampak aktivitas hari ini yang sungguh melelahkan pagi hingga sore tersusulkan oleh malam, tak tau malunya aku dengan matahari dan bulan yang tak mengerti soal waktu. Bahkan saja masih ku disini tak kunjung pulang, berisikan banyak peristiwa dan penyemangatku yang muncul tiba-tiba di tengah waktu luang yang membuatku benar-benar merasakan senang dengan kehadirannya yang lama saling menunggu dalam harap. 

 “Aku kesel e, sayah” kata seorang teman kepadaku
‘’aku yo kesel e sayah, malah ra entuk sesi fotografi” kata seorang teman yang lain

Ya, memang siang itu sangat terik menyengat tubuh membuat tubuh lelah. Namun aku sadar bahwa tak selamanya perjuangan kita itu selalu gagal ditengah, banyak ilmu yang harus kita gali. Tidak memandang apapun itu ilmu mampu menjadi sebuah sarana perjuangan dengan penuh drama dan konflik yang seakan-akan tak kelar pada waktu itu membuatku menjadi salah satu kegelisahan sendiri, apakah ilmu itu akan menjadi sebuah bekal ku esok ? atau malah menjadikan ku sebagai boomerang untukku? Tak ingin aku merasa segalanya salah kepadaku, namun aku masih tetapi memikirkannya sampai detik ini. Berjalannya sore ini, aku masih duduk bersama diriku sendiri tidak ada rasa sepi, tidak ada rasa khawatir. 

Namun kelelahan yang aku rasakan, tak apa ketika ada seorang barista menanyakan dan menyodorkan menu kopi yang ada di situ, ku pesan lagi sebuah kopi untuk menemani malam  yang akan ku lalui diperjalananku setelah ini dari Yogyakarta-Magelang penuh dengan rasa senang dan cinta. Banyak sekali hal yang membuatku terbuka untuk menjadi orang yang baik.

Masih terdiam, sambil ku nikmati setiap seseruput kopi ini, memikirkan untuk mengambil hikmah yang terjadi hari ini mulai dari konflik hingga segala yang terjadi. Namun, ku tak merasakan sama sekali jenuh yang sangat dalam berada disini mendengarkan pembicara-pembicaraan yang selalu berarti bahkan tak kunjung ingin aku usaikan lantaran kunikmati dengan sepenuh hati.  Menciptakan rasa puas yang tak pernah ku rasakan sebelumnya, hingga benar benar termenung. 

Bau “Baking”  yang sangat menggodaku hingga memanggil orang untuk segera membelinya. Hingga selesai ku mengopi di tempat itu, aku merasa bersyukur mampu merasakan hal yang berubah dalam diriku lantaran aku tak mampu mengungkapkan segala rasa hari ini, dari mulai perjalanan yang melelahkan hingga bertemu sang pujaan hati “cieeeee, pujaan hati” yah seperti itu lah pokoknya. Dan tak kusangka mampu menjadi hal yang sangat sangat beruntung, dan merupakan salah satu keputusan yang tak pernah ku lupakan. Karena ku yakin bahwa Allah telah merealisasikan rencana yang bisa membuat kita tercengang hingga berpikir berkali-kali, tak hanya itu manusia belajar untuk berusaha dan meniatkan segela rencana yang telah dipikirkan.
spacer

Harapan, Yang Terlanjur Aku Percaya

Cipt. Muhammad Naufaldi

Pagi ini, masih saja ku terbaring asyik bersama kasur kesayanganku. Tak segera beranjak dari situ aku masih saja menyamankan seluruh badan, padahal tugas sudah mulai memanggil untuk dikerjakan. Ku dengar kicaunya burung burung kecil terbang dan ada yang bertengger seru seakan memanggil "bangunlah, sudah siang", namun ku tak melihat sang fajar yang berada di ufuk timur sana menunjukan salam paginya. Sehingga ku khawatir dia tak hadir menemaniku lagi, membuatku tergugah mencari sang cahaya baru.

Tak bernafsu untuk sarapan pagi ini membuatku bangkit dari persinggahan sementara itu menuju ke dapur. Seperti biasa di temani lagu-lagu pop seperti MLTR dan beberapa yang lainnya, masih saja ku perlahan menunggu suara bunyi air mendidih dan menyiapkan amunisi yang pasti itu tidak jauh dari kopi.

Mengapa kopi ?
Terkadang kopi mengajarkan kita betapa sabar hidup kita ini sebenarnya, tidak memandang kelas maupun kelompok tertentu. Tetapi, kopi juga salah satu cara pelampiasan terbaik untuk menjadi manusia yang lebih berakal dan menjadi semakin baik. Selain itu, kopi menjadi salah satu penawar kerinduan dan kesakitan rasa dalam perasaan.

Kusiapkan segala amunisi yang akan menemani pagi, sambil ku menyimak segala hiruk-pikuk keadaan sekitar maupun negara melalui berita-berita yang ada di televisi pagi ini. Sebelum ku seruput kopi panas itu, aku menyiapkan sebuah buku dimana didalamnya tertulis sebuah nama yang membuatku tidak bisa menolak kehadirannya walaupun sebenarnya aku sedang menanti dia dalam perjuangan.

"Tak kusangka….." dalam benakku
"Masih, kusimpan handwritting ini…" lanjutku tergumam

Masih, saja ku ingat bagaimana pertemuan itu terjadi dan kau memberikan selembar kertas berisikan namaku. Pembelaan yang sangat-sangat berdosa, hingga melakukan perjalanan yang panjang agar bisa bertemunya. Perjalanan Magelang-Jogja yang telah menjadi tempat peraduan dan peperangan itu pecah, hingga kerinduan ini berbentuk dendam. Pertengahan jalan terdapat pertikaian batin yang tidak dapat terhindarkan.

"Apakah ini pantas untuk ku perjuangkan ??" aku hanya diam termenung dan tetap ku yakinkan teguh semua ini.
Dan akhirnya, ku teguh dengan semua ini. Kusiapkan semua yang akan menjadi konsekuensi, walau tetap saja namanya yang berhubungan dengan "cinta" semuanya tetap sama itu adalah proses.

Konsekuensi ?
Cinta adalah sebuah kata bermakna majemuk yang sangat banyak sehingga bisa diartikan melalui kalimat yang dirujuknya. Sedangkan, konsekuensi itu adalah hal yang terjadi adanya sebab-akibat, dan cinta memiliki konsekuensi yang beragam tak tahu seberapa dalamnya itu.
Hingga membuat aku, mereka dan siapapun itu merasa seperti bermain dalam lingkaran yang dilarang.

Kulanjutkan di beranda rumah, kunikmati awan mendung hari ini walaupun cahaya surya muncul dari timur tetap saja aku merasa hampa untuk saat ini. Duduk termenung, memikirkanmu yang memang selalu saja hadir dalam otak dan hati ini tak terhitung bahkan ku juga tak mampu hitung.

Namun, aku bersyukur kamu hadir di tengah kegelisahan diriku yang mencari sebuah cahaya yang telah lama membuatku menutup hati kepada siapapun itu. Hingga pesan dalam artinya saja aku maknai tidak pandang bulu, kata seorang teman "bucin, ambyar, bucin, ambyar" namun sebenarnya aku paham dengan makna itu. Itu adalah makna dimana aku sedang mencari identitas diri tentang sebuah cinta yang memang harus digali agar menemukan seorang yang memang pantas, aku berusaha dan berdoa, Allah yang memberi dan mengatur semuanya.
spacer

Manusiawi Babagan Ambyar, Sayang dan Kesetiaan



Cipt. Muhammad Naufaldi

Pada intinya, kita manusia hidup berdampingan dengan banyak orang bahkan membentuk relasi-relasi serta kelompok kelompok yang banyak. Menciptakan lingkungan-lingkungan baru terhadap diri manusia-manusia lain.
Tuntunan sudah ada, jalan sudah diatur, namun terkadang kita lupa sebagai manusia. Hak yang dimiliki adalah mutlak tak bisa diganggu gugat, bahkan seperti keyakinan saja itu sudah di atur. Apalagi soal percintaan yang rumit, bikin pusing kepala.
Menjelang pagi, dari malam yang gelap masih saja tertunduk lemah aku di balik jendela yang akanku buka untuk segera menikmati fajar pagi itu. Di dendangkan lagu indie pagi itu membuat rasa malas ku bertambah, setibanya malas itu muncul sebuah benak lakukan secara serentak membuatku bangun belingsatan pagi itu.

"Apa-apaan ini? Pagiku masih lusuh dengan muka bantal?"

Tak kusangka pagi ini sudah sangat merepotkan hariku, bahkan tak kusangka sudah di telepon oleh dinda yang sengaja membangunkanku. Dalam pikirku masih halu saja, tak mampu melihat kebenaran. Diujung waktu sebelum berangkatku masih saja ku melihat mataku yang halu ini, mampu mendapatkan dia.

Ah, apakah aku se-egois itu ?
Tidak, sebenarnya egois itu bukan kata yang selalu negatif untuk di maknai. Hanya saja, karena streotipe kata egois selalu negatif maka orang akan memaknai itu negatif. Namun, jika kita berpikir lebih positif maka makana negatif tidak akan muncul. Bahkan memunculkan keseimbangan antara positif dan negatif.
Secara ilmiah egois itu berdampak seolah karena kita sendiri, namun aku tidak berpikir seperti itu karena ketika perilaku manusia lain memperlakukan kita secara tidak sesuai. Mungkin saja itu bisa membuat kita menjadi seorang yang egois.

Ditengah perjalanan itu, rasa curiga, rasa cemburu masih saja terasa bahkan tak hilang. Hingga akhirnya memutuskan untuk mengatakan "iya, ini adalah sebuah konsekuensi" itu membuat diriku bertahan dalam kebimbangan yang dia rasakan. Bahkan tak pernah rasa manusiawi ini menjadi alasan untuk mundur, entah dan mengapa itu bisa terjadi. Tapi waktu akan menjelaskan.
Konsekuensi yang dikerjakan apa ??

Menerawang seakan kita tau, tidak semuanya akan abadi. Ikhlas yang ada saat ini adalah pondasi bagaimana hubungan itu berjalan, bahkan proses yang menjadikan kita ikhlas dan banyak makna arti.

Dipertemuan ini, bersama cerita lembaran baru masih saja ku memandang wajahnya. Yang masih menunggu kepastian seorang laki-laki bahkan tak pernah lelah menunggu untuknya. Sedangkan aku hanya mampu melihat matanya yang berbinar menunggu kepastian seorang laki-laki yang dia selalu ceritakan kepadaku. Menghilang tak memberi kabar dan tak memberikan kepastian itu.

Setelah mencapai titik dimana, rasa ini murni tidak mengada-ada. Malah, laki-laki itulah mempermainkan hati perempuan ini dengan mengatakan semua ini hanya "prank" lucunya lagi dia tak merasa atas tindakannya. Itukah yang menjadikan semua lucu ? Tidak itu menyakitkan yang sebenarnya.

Diujung pertemuan itu, secangkir kopi tubruk ala robusta menemani hari bersama dia. Dimana kopi itu telah menjadi saksi, sepahit apa kisah ini? Salah satu part jenis percintaan yang telah lama hilang rasa seketika muncul dengan tiba-tiba. Bahkan, aku hanya menatap matanya, wajahnya, dengan senyuman yang menandakan aku lega. Namun, hati terasa ambyar. Namun, tetap saja disini ada sebuah pesan dimana pesan itu banyak banyak terselip disetiap kalimat. Apapun itu dahulukan kepentingan orang lain, kemudian jangan memaksakan dia yang kamu cintai untuk mencitaimu (kamu boleh berjuang), terus jangan lupakan jalan dirimu sendiri dan jadi dirimu sendiri.
spacer