Semenanjung di Awal Desember

Source pixabay


Oleh. Muhammad Naufaldi

Kini, Desember telah hadir
Pada semenanjung yang bersenandung
Membawa rasa-rasa yang kembali ke nadir
Hingga, mentari kini tertutup mendung

Sementara, hati yang masih terbelenggu
Rupanya menjadi, rasa sakit yang menunggu
Tanpa adanya tetes air mata, maupun dendam
Kini seorang tuan telah melepaskan hal yang diidam

Haus akan cinta, hingga hancur karena sepatah kata
Bahkan, dedaunan yang melambai rasa
Burung-burung yang bernanyi merdu
Juga, berusaha menghibur sang tuan

Desember, tidak ini sudah berlalu
Kini, kusimpan patah hati untuk yang kesekian kali
Menanamnya dalam risauku dan gelisahku
Yang tidak akan pernah mati oleh patah hati

Semoga hati tuan dilapangkan dari cobaan ini, semoga saja doa yang terbaik kepada tuan.

spacer

November, Hujan Datang




Oleh. Muhammad Naufaldi

Jika hujan, tidak datang pada november
Mungkin rasa ini tetap diujung takdir
Yang menyakitkan dan tak kunjung henti
Kini, waktunya aku menyaksikan hati


Yang telah lama letih
Dan berujung pada perih
Kini, novemberku penuh hujan
Yang membasahi hati kejiwaan

Tuas hati yang kini terbuka
Namun, menolak siapapun hadir
Sedangkan, hujan masih tetap berada di tempat yang sama
Waktupun mengusir dan mengusikku pada asa

Kini, november
Memberi banyak pelajaran kembali titik nadir
Mendekamkan hati
Memberikan peringatan pada pagi

"Agar pagi, menasehati lagi"

Selamat untuk kebahagiaan hati, lagi-lagi jangan terluka di kamu. Terimakasih

spacer

Sustainable Development: "Meminta Seutuhnya Turunkan Dana Pengembangan Desa"

 


Oleh. Muhammad Naufaldi

Sudah hampir setahun Indonesia terdampak oleh pandemi COVID-19 yang mana disini dapat terlihat semua aspek, semua sektor terhantam berhenti dan menjadi mangkrak diantara beberapa yang sudah berjalan. Keadaan ini menciptakan daya tarik penulis untuk melakukan kajian dan beropini mengenai keadaan yang mana nantinya bisa menjadi inovasi baru juga. Melihat dari teori Rogers yang beberapa kali sering saya kutip dibeberapa artikel merupakan salah satu bentuk pengendalian akan kesadaran yang diharapkan oleh inovator agar pembangunan desa bisa berjalan dan berkembang. Kembali lagi ketika pemerintah memberikan sebuah stimulus inovasi kepada masyarakat seharusnya tidak bisa seluruhnya disalahkan kearah pemerintah. Hal terbaik dari sustainable development yang baik seharusnya bisa menciptakan banyak keuntungan dan perkembangan akan kondisi di desa yang merupakan salah jantung milik kota, atau menjadi sebuah tempat paling vital sesuai dengan slogan yang disampaikan dari 2015 oleh Bapak Presiden Joko Widodo. Terbentuknya, Kementerian desa dan penciptaan Indeks Desa Membangun sebagai transparansi data akan keberhasilan pembangunan desa kini terhenti oleh pandemi COVID-19. Berdasarkan Data Indek Desa Membangun, Jawa tengah memiliki beberapa desa yang dapat dikatakan atau sudah lolos dimana  sebelumnya berhenti menjadi berkembang serta yang berkembang menjadi maju. 

Segala aspek yang meliputi keadaan saat ini menjadi rintangan yang berat bagi  pembangunan di desa. penulis meyakini terdapat pemberhentian dalam pengembangan desa ini. Bahkan, kurang maksimalnya penggunaan inovasi saat ini malah menjadi penghambat pada pengembangan desa. Kesadaran ini seharusnya lebih cepat oleh masyarakat desa, karena pemerintah hanya sebagai inovator memberikan sebuah fasilitas.

Melihat pada Indeks Membangun Desa (IDM) peringkat di kabupaten magelang kecamatan secang hanyalah 0,6674 dimana dari indikator ini dapat disebutkan bahwa desa-desa yang ada pada kecamatan secang merupakan desa yang masih berkembang. Ketika pandemi datang seharusnya menjadi sebuah upaya inovasi yang tlah dijelaskan oleh Everett M. Rogers terkait Adopsi Inobasi. Mengapa hal ini penting ?  penggadopsian inovasi yang cepat maka menciptakan kecepatan dalam menerima informasi yang masuk ke desa. Dengan hal itu maka pendorong SDM yang berkemajuan adalah mereka yang mampu menggunakan inovasi secara baik dan kreatif. Tidak hanya sekedar bentuk sosial media yang setelah itu didiamkan, begitu banyak hal yang bisa ditingkatkan dalam penggunaan aplikasi ini. Maka, dari itu perkembangan desa yang baik memang harus didorong oleh masyarakat dan kaum milenial yang mana memiliki peran cukup banyak untuk desanya masing-masing. Penulis berpendapat di desa saya sendiri masih sangat asing dengan inovasi baru, walaupun dalam kenyataan fasilitas-fasilitasnya sudah memadai tetapi jika masyarakat kurang peka dalam penggunaan inovasi baru ataupun menjadi penolak inovasi tersebut mungkin saja menjadi tertinggal. Keterpekaan terhadap inovasi adalah terwujudnya kemajuan desa di tengah pandemi COVID-19 ini. Sebelum itu, Everett M. Rogers sudah membagi lima kelompok adopter: 1. Inovator; 2. Early adopter;3. Early Majority;4. Late Majority; 5 Leggard. Pertama adalah Inovator, mereka yang pada dasarnya sudah menyenangi hal-hal baru dan sering melakukan percobaan. Kedua, Early Adopter orang-orang yang menerima hal-hal baru dan menjadi seorang yang mencoba. Ketiga, Early Majority mereka adalah orang-orang yang menggunakan sebuah inovasi dan belum ingin menjadi orang yang pertama melakukan pecobaan pertama. keempat, late majority mereka adalah orang-orang yang baru saja menerima inovasi. kelima, leggard merupakan mereka yang tidak menerima inovasi itu.

Ikut sertanya kaum milenial dan karang taruna adalah salah satu wadah dalam membuka lockdown dengan inovasi yang baru. Seperti halnya, saat ini dari pengamatan penulis belum ada pengajian rutin didesa saya yang dilakukan secara online ditengah pandemi ini. Padahal ini merupakan salah satu inovasi baru yang cukup memudahkan dan mampu mematuhi protokol kesehatan saat ini. Penggunaan media digital dan sosial media menjadi salah satu aspek penting dalam pembangunan desa dan melepaskan belenggu lockdown.

Peran penyuluhan komunikasi pembangunan menjadi salah satu bentuk atau cara yang bisa dilakukan saat ini. Bahkan dengan adanya sosial media,  sebuah inovasi menciptakan pemikiran "kenapa tidak desa berbasis digital" saat ini lebih dimajukan lagi. Jika dalam peran penyuluhan ini terdapat Developmentalis untuk membangun kesadaran masyarakat maka seharusnya ada harapan sosial media mampu menjadi hubungan pengetahuan lokal dengan pengetahuan baru. Contoh diatas mengenai pengajian online, sebenarnya tidak mengurangi rasa kekhusyukan kita dalam menimba ilmu atau mencari ilmu. Disinilah sebenarnya bisa menjadi hal baru ditengah pandemi maupun di masa depan. 

Jika di desa saya penggunaan masjid sudah bisa dikatakan cukup maju, karena fasilitas yang ditingkatkan dan bisa digunakan bersama-sama. Tetapi yang menjadi permasalahan saat ini adalah keadaan pandemi COVID-19 ini yang tidak diketahui kapan usai. Kemudian, pergerakan mahasiswa yang tergabung di karang taruna seharusnya bisa menciptakan inovasi baru seperti halnya media rapat atau pertemuan rutin untuk membahas sebuah project yang tetap mematuhi protokol kesehatan melalui daring.

Selain itu, berdekatan dengan kawasan wisata melihat kesempatan ini kecamatan secang sendiri memiliki pesona-pesona yang tersembunyi dan jarang di explore. Sedikitnya adopter awal menjadi salah satunya hambatan yang sebenarnya mampu memajukan desa. Desa saya berdekatan sekali dengan perbatasan kota yang mana aksesnya masih bisa dikatakan mudah untuk seharusnya menjadi peluang untuk wisata alam disekitarnya.

Dikutip dari, Chliders (Servaes,2008) mengatakan "Jika anda ingin pembangunan berakar pada manusia sebagai agen pembangunan dan juga penerima manfaat, yang akan memutuskan sendiri jenis pengembangan yang dapat mereka pertahankan setelah bantuan luar negeri hilang, maka Anda harus mampu berkomunikasi dengan mereka, Anda harus memberikan kesempatan mereka untuk berkomunikasi satu sama lain dan kembali ke perencanaan ibu kota."

Maka dari pemahaman saya,  pembangunan desa itu tidak sekedar memberikan inovasi dan kreatifitas namun keberhasilan dalam komunikasi. Melihat dari sudut pandang sistem politik di indonesia adalah sistem perpoltikan yang bebas maka seharusnya pemerintah dan masyarakat adalah setara. Pembangunan dari inovator bukan lagi berbentuk top down komunikasi namun lebih ke suasana setara dan mudah dalam prosesnya. Dilain sisi dengan adanya karang taruna seharusnya mampu menciptakan sebuah wadah atau pikiran inovasi baru seperti desa berbasis digital, lantaran disamping memang desa saya adalah cukup baik namun jika menilik kebelakang yang saat ini adalah adanya tidak ratanya pembangunan berkelanjutan ini. 

Sementara, terdapat data mengejutkan dari wawancara seseorang yang sama serta satu desa. Sebelumnya, kita mengartikan desa melalui UU 14 Tahun 2020. Saya mengutip "Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintah, kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan prakasa masyarakat, hak asal usul, dan atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintah Kesatuan Negara Republik Indonesia."

Dari penjelasan diatas, sudah dijelaskan bahwa kesatuan masyarakat memiliki wewenang mengatur dan mengurus urusan pemerintah. Maka, dapat disimpulkan bahwa kesatuan masyarakat di desa saya seharusnya memiliki kekuatan hak atas hak untuk mendapatkan dana pengembangan desa. Sementara itu keadaan-keadaan saat ini menjadi semakin rumit, penuh alibi, atau alasan. Tidak apa jika itu benar, jika saja tidak benar itu malah menjadi permasalahan baru yang timbul di akhirat dan dunia. Saya sendiri selalu baik sangka karena keadaan pandemi ini mungkin saja ada ketersendatan dana lantaran kebutuhan-kebutuhan yang lebih urgensi. Namun, dalam kemalkuman ini saya merasa resah bahwa sebenarnya tujuan yang seharusnya mampu mensejahterakan rakyat dalam pembangunan berkelanjutan ini dananya tidak turun.

Komunikasi yang seharusnya bisa terjalin secara baik, tercipta secara baik, dan terbentuk untuk kebersamaan membangun indonesia lebih baik adalah dari jantung desa sendiri. Mendengar bahwa terdapat ke tidak sejahteraan masyarakat desa menjadi bukti atau salah satu indikator yang belum bisa dicapai melalui SDGS atau tujuan pembangunan berkelanjutan. Tetap seperti tadi saya sedikit menyayangkan hal ini terjadi, tetapi lantaran keadaan seperti ini sayapun memaklumi. Pasang surut ekonomi karena pandemi ini juga berdampak kepada desa dan otonomi pemerintahan daerah.

Jika komunikasi dalam publik saja saat ini masih menjadi halangan, bagaimana dengan penataan desa berkelanjutan untuk mempersiapkan the golden era of indonesia ? Namun, karena masyarakat desa atau kesatuan masyarakat ini memiliki hak seharusnya tak masalah apabila memprotes untuk meminta dana desa diturunkan. (Opini: Meminta Penurunan Dana Desa)

Sementara itu saya sendiri melihat bahwa desa mempunyai potensi-potensinya sendiri yang bisa membantu dalam pemasukan pemerintah kabupaten. Bahkan, dengan meleknya teknologi saat ini menjadi salah satu bentuk adopsi inovasi yang seharusnya teknologi menjadi alat, menjadi kemajuan, menjadi sebuah kemudahan untuk mengexplore hal baru. Jika kita membahas disini adalah rencana tentang pengajian online ditengah pandemi, rupanya baru-baru ini di surabaya sudah melakukan hal tersebut untuk menanggulang dan mengurangi penyebaran COVID-19 ini. Bahkan karena sudah melek akan informasi teknologi tak selalu menjadi sebuah momok yang mengerikan, serta dapat melibatkan karang taruna atau pemuda yang tlah off dalam kegiatannya selama ini.

SDGS dan Adopsi Inovasi menjadi semakin kuat dikalangan masyarakat selama pandemi ini. Bagaimana tidak, semua orang atau masyarakat dan individu diminta untuk melaksankan kerja melalui WFH. Maka dari itu, masyarakat merasa kesal lantaran dana desa yang seharusnya bisa menjadi anggaran dalam pembangunan desa hingga saat ini tidak jua turun.

Maka, untuk itu solusi terbaik adalah memperbaiki komunikasi antara instansi yang terkait dan ciptakan ketransparansi akan informasi. Lantaran, kepercayaan masyarakat dan publik itu sangatlah penting. Selain itu, keadaan saat ini benar-benar dibutuhkan kepastian lantaran covid-19 ini tidak ada kepastian seperti kabar doi yang hilang. Diciptakannya Tim Manajemen Krisis adalah hal penting untuk menyampaikan pesan agar shareholder atau publik tahu.



spacer

Menulis Satu Tahun Terakhir



Oleh. Muhammad Nnaufaldi

Seperti yang aku ketahui keadaan beberapa bulan lalu sudah menciptakan begitu banyak alur-alur cerita dan bahkan kisah-kisah percintaan yang cukup banyak dibaca hingga keadaan mendekati akhir tahun. Mulai Januari lalu aku masih mencoba untuk mempertahankan kecintaan dan kasih sayang kepada sastra dengan belajar menulis. Sudah cukup jauh rupanya perjalanan panjang yang memenuhi lika-liku kehidupan menarik jika dibahas pada artikel yang selanjutnya. Entah berapa orang hadir untuk membaca sedikit mengenai artikle maupun puisi-puisi pendek ini ingin aku ucapkan "Terimakasih sudah mau membaca yang masih banyak kekurangan dari diri ini" lantaran kalian sudah membantu meningkatkan literasi kalian dan mengapresiasinya.

Perjalanan yang panjang ini memang sudah dimulai dari begitu banyak kejadian. Tidak terasa sudah hampir satu tahun dan hampir purna juga tahun ini menemani kita, semoga pandemi ini segera usai dan hilang dari indonesia dan semua negara di bumi ini. 

Menulis satu tahun pada tajuk diatas ini merupakan sebuah program yang aku buat dalam meningkatkan diri mulai dari kualitas menulis hingga membaca buku-buku atau media online lainnya. Awalnya, tidak sengaja tantangan ini aku buat bahkan dikatakan orang iseng karena waktu itu mulai dengan Work From Home maka aku bisa membagi waktu untuk menulis di blog ini. Cukup senang bisa membucin melalui ketikan-ketikan beraksara dan bersenandung melalui keresahan semua orang. Tiada bosan aku mengucapkan terimakasih kepada kawan-kawan dan rekan yang mau menemani, mendukung, serta membuatku semakin semangat dalam berkarya.

Baiklah, aku akan memulai membahas beberapa pertanyaan yang mana sempat menjadi perbincangan orang-orang:

  • "Bang, mau tanya gimana caranya menulis kritis dan apakah bisa meningkatkan kekritisan kita ?"

Oke, aku akan menjawab sedikit mengenai hal ini. Cara menulis kritis itu bisa dibilang sedikit sulit tapi kalau sudah biasa akan mudah. Mengapa ? Lantaran kekritisan itu dimulai dari kepekaan kita terhadap lingkungan disekitar kita dahulu, kemudian mulailah tulis mengenai keadaan dan lingkungan kita. Aku sendiri masih belajar dalam menciptakan tulisan kritis. Kemudian jika menulis kritis apakah akan meningkatkan kekritisan kita ? jawabannya "Bisa" sebagai penulis kita dituntut untuk memperbanyak ensiklopedia dan pengetahuan umum kita. bahkan, kosa kata di KBBI menjadi salah satu dipelajari perbanyak diksi semakin menambah pengetahuan kita juga. 

  • "Bang, kenapa menulis membuat merasakan kebucinan yang cukup bagus pada diri ?"
Aku merasakan dengan menulis tercipta kebucinan-kebucinan yang dibuat oleh diri sendiri. Maksut dari hal tersebut adalah kita lebih paham akan diri kita, menjadi pribadi yang baik dan saling memahami pada diri sendiri dan orang lain. Namun, karena aku merasakan pada diri yang saat ini sedang sendiri aku memahaminya bahwa ini arti dari memahami menyayangi diri sendiri atau selflove kita melalui tulisan.
  •  "Bang, gimana caranya menulis seperti abangnya ini? "

Aku akan berbicara bahwa menulis adalah hal basic bagi setiap orang. Awalnya dulu aku tidak suka dengan menulis, tetapi karena memang suka sekali dan ingin mendalami sastra terutama sajak dan puisi maka mau tidak mau harus tetap berusaha menulis. Intinya adalah Trial and Error seperti kita melakukan penelitian, dari sinilah aku menyukai hal menulis meningkatkan pengetahuan umum dan pengetahuan sastra. Selain itu, jangan bosan membaca-baca entah itu artikel, berita, maupun sastra seperti novel, puisi, cerita dan sebagainya.

Sebagian orang menganggap bahwa menulis adalah hal yang membosankan. Padahal yang sebenarnya ibarat mencintai seseorang menulis adalah mendapingi kita dalam segala hal mulai dari rasa kesedihan hingga kebahagiaan sekalipun. 

Secara hebat, meningkat dari dua tahun lalu yang memulai menulis asal-asalan melalui media yang sangat disukai anak muda bahkan aku sendiri masih sering menggunakan aplikasi tersebut. Aku memiliki harapan yang cukup besar sebenarnya pada tahun ini, tetapi rupanya waktu tidak memihak untuk melaksanakan pada saat ini. Jadi, cukup menahan diri dan menahan naskah yang akan mulai kukerjakan kembali.

Okey, untuk sobat onlineku jangan bosan jika membaca buku. Buku adalah jendela ilmu dunia, bahkan imajinasi seorang bisa mengalahkan sebuah kenyataan bukan. Maka, pada tahun depan nantinya semoga kita bisa menyelesaikan segala tugas kita purna diakhir tahun untuk menjadi lebih baik lagi. Aku berharap juga nanti yang membaca ini entah dari belahan bumi mana itu semoga bisa menciptakan karya-karya yang juga sama akan terbit serta dibaca oleh semua orang. Sekian artikel ini next week kita bertemu lagi! See ya!!

spacer

Belajar Rela Dari Seekor Elang Timur



Oleh. Muhammad Naufaldi

Berdiri diantara gelap malam
Memikirkan setiap rasa yang kini semakin muram
Tidak nampak jelas dan merajam
Hingga nanti tampak mentari muncul dari timur menerkam

Elang yang mengepakan sayapnya
Mengarungi jarak yang tak terhitung olehnya
Hingga ia harus mematahkan paruh tajam
dan menggantikannya yang baru 

Ia telah jauh berkelana
Mencari tempat untuk kembali dan memeluk dia
Jika timur menjadi tujuannya
Harapan akan barat akan kehidupan baru untuk mereka

Kerelaan yang sangat menyakitkan pelajaran dari elang
Paruh yang tajam, bulu yang akan berganti ia cabut sendiri
Kedinginan dan melawan cuaca yang menusuk lebih kejam
Iapun bertahan untuk mencari sang pasangan

spacer

Dua Kata Yang Hampa

Oleh. Muhammad Naufaldi

Sejenak aku memandangi titik-titik kota
Menatap sayu akan lelah perjuangan pujangga
Syair-syair yang sudah tercatat tinta
Mampu mengurangi rasa pedih yang tercipta

Kata-kata hampa
Selagi kau mampu mencinta
Seharusnya aku mampu merindu
Tanpa adanya batasan untuk rindu padamu

Ketika mentari berganti temaram
Kau seakan lupa akan cinta yang berujung muram
Menciptakan beribu bekas lara
Yang menyiksa dalam dekapan panah asmara

Semua kata-kata itu kau buat indah
Seakan langit dan bumi menjadi hiasan kata yang membuahkan perih
Ahh-ha-ha... Sunggu menanti bukanlah hal yang tepat lagi
Malahan siksa batin ini menjadi-jadi dan mematikan diri

Magelang, 15 November 2020

spacer

Pesan Untuk Penulis Tak Dikenal



Setelah perseteruan yang panjang aku memulai perjalanan dalam sepi yang terkadang menjerumuskanku kedalam ikatan itu. Semua tlah atau akan berlalu mungkin. Tetapi entah mengapa tak ada sejengkal rasa yang menghibur hanya sebuah rasa yang muram dan tegang, bahkan ketika pesan ini ditulis untuk seorang tak dikenalnya untuk penulis. Sekian lama tidak lupa dengan yang terjadi perjalanan hari menjadi sedikit mengikuti suasana hati yaitu muram  padahal sang penulis ingin merasa "Unjuk Gigi" supaya tidak bosan berada dirumah tetapi malah terjebak oleh "Kebosanan Yang Memburu"... batinku bergumam.


Sore itu masih datang dengan sedikit mendung setengah matahari muncul dan menepuk kerongkongan jam dinding klasik yang tersedak mengeluarkan suara "teng-teng-teng" selama lima kali. Tak terbujuk apapun tatapanku hanya membaca-baca beberapa berita dan artikel ringan lantunan puisi Alfin Rizal yang tlah lama usang didalam sebuah website itu. Kubaca-baca dan seterusnya hingga menemukan penulis yang tak dikenal itu dalam diri setiap penulis dan terkadang lupa akan siapa diri. Kesadaran yang membuatku tersedak sedikit karena terkejut akan otak yang bekerja 2x lebih keras dibanding dengan biasanya. Ketawa dengan lagak akan genius padahal juga tidak hanya pemula dalam kehidupan menulis.

Sejenak menanti, terlalui banyak sekali hal. Begitu indah memang menikmati sore yang setengah menjingga. Tidak perlu menjadi seorang yang keren untuk menjadi penulis karena semua dilalui dengan proses berkembang. Sungguh waktu seperti itu aku merasa cukup banyak inspirasi yang tak sungkan aku munculkan. Selain itu aku selalu merasa menyesal karena tidak menulis. Bahkan sedihnya lagi aku merasa kehilangan jika tidak menulis.

"Ibarat langit dan bumi udara menjadi sebuah keperluan yang sangat penting. Bahkan hingga mentari kembali ditemani oleh gelap dan berpindah disisi lain aku merasa nikmat itu datang dari Tuhan."

Begitu melawannya hari hingga rasa itu menjadi kehilangan. Menulis itu tentang hidup yang memiliki banyak aspek. Kurasa cinta dan tulisan adalah sebuah yang benar-benar tlah hidup abadi menciptakan romansa yang tak pernah hilang dari muka bumi.

Pesan itu menjadi raungan harimau bagi penulis tak dikenal bahkan tak mengenal secara utuh. Aku malu begitu mengakui seorang pecinta namun aku melupakan cinta akan menulis. Si Mang Kribo pasti sama tak mau kalah dalam menulis sebuah sajak-sajak yang melukiskan harinya, atau mungkin Alfin Rizal dengan kata-kata yang menyentuh prosa dan kata yang tinggi. Sebuah pencapaian adalah perkembangan itu katanya, tapi bagaimana dengan sebuah hasil ? Lupakan! kita tak pernah akan tahu soal hasil namun menulis itu seperti mencintai dalam diam dan tak kenal lelah. 

Untuk blog ini pesan disampaikan kepada penulis tak dikenal yang sering memunculkan inspirasi dan giginya yang terkadang membuat luluh. Suara-suara itu tlah tersampaikan dalam sejarah yang abadi. Akankah pesan ini masuk kedalam hati penulis tak dikenal atau hanya akan dibaca saja (Aku merasa sedih jika tak dihayati). karena pesan ini aku berharap penulis tak dikenal akan menjadi dikenang hingga akhir hayat dan tetap abadi didalam aksara sastra penulisan.

spacer

Selusin Rindu

Oleh Muhammad Naufaldi

Genggaman itu, membekas akan telapak ini
Sungguh heran, malam terasa semakin sunyi
Selusin rindu, menghantam melalui dingin malam
Menutup hari, kunjung dalam ruang yang muram

Manisku, sedikit gula kutambahkan diantara kopi dan susu
Setertarik hati, diamku riuh dalam doa untukmu
Begitu rindu aku, dalam lusinan rindu
Menumpuk kuat dalam dingin malamku

Sejenak susah hati, bahagia hadir
Ketika kuingat, benak senyummu manis membuatku berdebar
Diantara doa untukmu dan panjatan kepada Tuhan
Segala rasa, meresap dalam hati dan alam kesadaran

Manisku, jangan bersedih akan rindu
Sungguh tatkala pagi datang, menjelmalah riuh doaku menjadi bahagiamu
Iringi langkahmu, dalam raga yang berjuang
Mengarungi setiap aksara rindu yang teguh seperti karang.

Magelang, 21 September 2020
spacer

Komunikasi dan Seni: Sebuah Peragaan Tajam akan Kritikan


oleh. Muhammad Naufaldi

Menurutku Komunikasi merupakan salah satu peragaan seni yang sangat banyak digunakan dimedia maupun platform-platform yang naik daun saat ini. Semakin banyak menggunakan sosial media atau platform ini menciptakan banyak sekali analisis baru yang juga sama bermunculan pada artikel-artikel penelitian. Namun bagaimana seorang meragakan berkomunikasi peka akan menjadi seorang kritis itu sangat rendah sekali saat ini. Hidup di Negara yang memiliki rasa Demokrasi atau kebebasan berpendapat dan bersikap kritis malah kurang diperhatikan oleh seorang ataupun beberapa orang bahwa hal tersebut merupakan seni dalam berkomunikasi juga.

pernah membayangkan film the king speach jika diperagakan oleh semua masyarakat untuk mengkritisi keadaan saat ini menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan. Tidak kalah menyenangkan dibanding melukis, menulis dan sebagainya.

Kita membuktikan bahwa komunikasi dan seni merupakan sebuah kesatuan yang bisa dibilang berseberangan. Namun, tidak dapat dipungkiri komunikasi dan seni itu satu kesatuan juga yang sengaja diciptakan untuk menanggapi berbagai hal. Bahkan, mengkritisi sebuah pandangan dan menanggapi sebuah kesalahan pemerintahan yang seharusnya bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua.

Tidak jauh dengan yang namanya komunikasi, seni dan kritikan tajam, peningkatan literasi menjadi sebuah iring-iringan yang tidak bisa terlepas begitu saja.

Inilah yang seharusnya dipelajari oleh para remaja milenial saat ini, generasi yang mampu merubah indonesia kedepannya. Tidak ada kata terlambat untuk mempelajarinya karena itu sangat dibutuhkan, tidak ssekedar mengobral janji-janji manis yang menuai pemasalahan baru atau memunculkan permasalahan yang tidak diinginkan.

Peragaan yang tajam akan kritikan ini lebih didominasi untuk seorang agar mempelajari bagaimana melemparkan pertanyaan-pertanyaan logis dan cukup untuk dijelaskan secara eksekusinya. orang-orang yang pandai dan peka akan sebuah kritikan akan mencoba memahami begitu banyak hal dan aspek serta melihat bagaimana cara untuk menemukan solusi jangka panjang dan pendek.

Belajar melemparkan pertanyaan kepada mereka yang lebih jauh diatas kita itu adalah penting. Cukup penting dengan menggunakan bahasa yang tepat dan benar.

Mengapa hal itu penting ?

Sekali lagi dalam penekanan, mengkritisi sebuah hal itu sangat penting sekali. Dibutuhkan banyak jam terbang dan literasi yang banyak agar mampu diselesaikan. Menjadi tidaklah mudah banyak dipertaruhkan untuk mencapai sebuah kepuasan terhadap sendiri. Kepuasan mengkritisi merupakan kepuasan sekunder dan tidak begitu terasa melesat didalam bawah alam sadar, tetapi tertancap di dalam pikiran mereka dan menciptakan kesadaran.

Dalam mengkritisi satu hal juga bisa meningkatkan cara penggunaan diksi dan semakin banyak belajar dalam memperbaiki ejaan bahasa indonesia, Peningkatan ini karena kesadaran sosial dan kesadaran akan pentingnya hidup sosial, bahkan peningkatan ini sangat tidak disadari oleh diri sendiri tapi terdorong oleh alam bawah sadar.

Jadi bagaimana kaum milenial ? Menjadi kritis atau menjadi seorang yang hanya rebahan dikamar ? ini membuatmu sadar betapa penting akar dari namanya kritis dan kritik. Cukup luas tetapi sangat mudah untuk dilakukan jika "terbiasa". Tidak ada yang salah ketika ingin menjadi benar, kecuali hanya orang-orang yang menyepelekan sebuah konsep dari kritik tersebut. Inilah yang kita lawan bersama-sama.

spacer

Malioboro Gemerlap Kota Yogyakarta



Oleh. Muhammad Naufaldi

"teruntuk kamu, yang aku rindukan bersama riuhnya kota-mu yaitu Yogyakarta. Maaf, jika kutahan semua rasa ini."


Lampu kota bersinar cukup terang

Tak redup, menemani rasa senang

Walau hati ini begitu rapuh

Aku berdiri dalam sudut rasa pasrah


Malioboro kala itu, menenangkan

Sesepi dari riuhnya kota pukul 2 pagi

Heningnya yang membuat semua lelap

Dalam pelukan pagi yang buta nan dingin


Semakin gundah rasaku

Aku tlah kembali jatuh cinta dengan-mu

Panah hangat menghujam jantung

bak, mengujam langit malam dengan bintang


Kurasa-rasa kota ini menjelma rindu

Akankah pertemuan berpihak kepada kita

Hari manis nan indah kota-mu dalam bahagia

Esok hari jumpaku kepadamu, aku rindu!


Yogyakarta, 03 September 2020

spacer

Pantai Liang

 


 Oleh. Muhammad Naufaldi

Ada yang aku rindukan dari sebuah pantai
Tempat lahir ibu yang indah dalam pelukan garis pantai
Tak pernah aku merasakan kesejukan biru laut
Yang menjelma dalam gubuk aku terduduk merenung kepulangan yang bersekat

Ruang yang luas, matahari yang menyengat
Segarnya suara air berkejaran menuju sudut
Bertebaran pasir putihnya yang menjelma seperti rasa
Sungguh kehilangan gairah dalam pelukan alam semesta

Kuingat lagi, betapa rindunya memiliki seorang
 Rintihku keras dihadapan Tuhan, dalam doa yang begitu meriuhkan
Takjubku melihat maha karya-Nya dalam rasa hati yang bingung
Anak-anak terlihat gembira bermain air dan bercipratan air seperti permata berkilauan

Ahh, pikirku "Gusti, aku merasa kesepian..."
Ruang hati begitu hampa terdiam lama menikmati pantai di Ambon
Dalam kesepian yang begitu dalam, tak tertahan
Terimakasih, tuhan

spacer

Kacamataku dan Restu-Nya


 

 Oleh Muhammad Naufaldi

Gusti, ampuni hati ini
Rasa yang membajiri, meluap tak terbendung
Tlah membuatku merasa susah hati
Riangnya yang kurindukan lagi-lagi membuat bingung

Syair dan aksara tlah terbaca
Tergoreskan tinta yang kutatap oleh mata
Mata yang sudah menua dan terbantu oleh sebuah lensa
Kacamata kehidupan sebuah rasa

Aku masih saja menyebutnya dalam doa
Walaupun hatinya memilih lain yaitu dia
Aku teguh, sekeras karang dan tetap dalam pelukan-Nya
Mengharap restu gusti yang meminta ampun dalam salahnya rasa

Riang-mu menjadi bahagia dalam cerita
Penyair ini sedang kesepian dalam hilang arahnya
Kompas yang sedari tadi disentuh tak lagi meruntuhkan harap
Semoga kelak pencarian sepiku akan bertemu kau yang aku harap

spacer

Puisi: Puas dan Ragu Pagi Hari

 
Oleh Muhammad Naufaldi

Semua syairku
Kutekankan pada rindu
Rindu yang menjelma dalam pagi dingin
Setengah sadar, dalam rasa kehilangan yang kumimpikan

Taman yang berbunga
Menciptakan rasa yang dinamakan cinta
Tak terlanjur untuk merindu kasih
Pada harapan yang t'lah jadi lungkrah

Semua batin ini
Kerinduan dalam melodia
Tlah memaksa rasa muncul dalam pagi
Tersasar lagi dalam ruang ragu yang hampa
 
Sejenak langkah mendendamku
Sang laut tlah melabuhkanku
Dalam pelukan sang semesta
Rasa puas dalam kebahagian yang penantian bersama


spacer

Bulan Juli Dan D/MI Café


Oleh Muhammad Naufaldi

Sebentar lagi Juli telah habis, mereka yang masih saja keras kepala terhadap dirinya adalah selalu benar. Yah begitulah singkat ceritanya. Selama masa new normal aku merasa kekosongan dalam hati dan pikiranku tentang asmara yang tersingkir oleh banyak percobaan dalam langkah yang tak berarah namun dalam tujuan yang sama.

Senyap malam itu dan riuhnya kota menjadi sebuah komposisi energis yang tak terlihat dalam sayap emas sang malaikat yang membantu mencari keadilan dan ikut andil dalam renung kami sang hamba yang ingin mencari kebenaran. Semua tak segan untuk menyapa berkenalan hingga menjadi kawan, sajak-sajak yang dilantunkan bait yang disebarkan dan dibacanya menjadi saksi malam yang tak terlewatkan. Hebat memang!

Malam itu dalam renung aku sedang memikirkan betapa hebat sang penulis pram yang menorehkan catatan prestasi berekor dunia dalam sekedar tulisan penuh makna. Bayangkan saja betapa indah hati ini jika saja tulisan membuatku menjadi sebuah sejarah dalam dunia dan abadi tiada henti. Gumamku saja yang merasa ingin tetap menaruh hati kepada tulisan bukan kepada hati seorang.

Perjalananku ini dimulai dalam gelap malam yang tidak terlalu pekat namun berada dipertengahan senja yang semakin menyenangkan. Persekutuan mendekati sebuah kafe yang tidak terlalu besar namun penuh makna dan kenangan yang semerbak harum mawar perjuangan mencari keadilan yang tak pudar sekalipun. Merapatkan kuda besiku yang cukup mencerna setiap amarahku, hati ini dalam keadaan gundah. perkumpulan itu menjadi tempat kenyamanan baru diluar rumah dan penawar rindu selama ini.

"Ruang Tanpa Sekat, Hmmm sebuah nama yang bagus juga untuk dijadikan nama belakang menarik seorang." Seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan kuliah dan KKN saat ini

"Iya begitulah mbak, insyallah tahun ini bukuku akan ku terbitkan dengan salam hangat dan kasih sayang" kataku menjawab

"Semoga berhasil mas dalam kepenulisan ini." singkat saja pesan whatsapp yang ditutup karena aku sendiri sedang berada diluar

Semua saja berjalan dengan nyaman dan aman, hingga terlihatlah fajar jumat waktu itu aku masih saja memikirkan setiap langkah yang positif dan ingin kulakukan untuk bisa dirayakan bersama orang-orang yang kukenal dan yang membutuh sebuah mood positif. Kubuatkan sedikit puisi dalam rasa kekecewaan terhadap rindu yang sebenarnya adalah bukan tentang kebutaan atau keterbudakan cinta. Sering sekali seorang menganggap bucin adalah hal yang menjengkelkan dan membuat iri. padahal kita bisa membuat bucin itu ada dihadapan kita dan mencerna setiap rasa itu dan serta mertalah menjadi bucin. Aku tidak terlalu Naif untuk menjadi seorang pecinta yang saat ini belum juga bertuan, tetap menjadi diriku sendiri yang mecinta dalam rahasia tuhan dan entah letak rasa itu dimana tertimbun oleh tulisan asa dan kekhawatiranku.

Sore dan senja menjelanglah malam, pertengkaran batin dimulai dalam rasa yang tak semakin tenang dan khawatir yang tak kunjung mereda. Kusulutkan rokok dengan api yang kecil dan manis namun mematikan jika membakar suatu hal, maka kutatap api itu dan berkata batin didalam raga yang ber-ruh ini atas kehendak-Nya.

"Kenapa api selalu menyulut, membakar dan mematikan ? padahal api adalah abadi jika kita mengenal dewa bernama AGNI yang biasa kita kenal sebagai api abadi." gumamku dalam perjalanan yang tehrenti karena merokok.

Aku perokok yang aktif bisa dikatakan seperti itu walaupun aku tidak begitu peduli dengan apa yang saat ini kurasa, tetapi aku sangat pro terhadap masyarakat dan rakyat. Banyak, sangat banyak sekali hal yang ingin kuungkapkan dalam rasa perjuanganku dalam berpuisi. Hingga akhirnya gumamku menjadi lirih dan tersadar bahwa sebenarnya ada pesan yang tak kujawab sedari tadi, 10 Menit berlalu oleh gumaman ku yang tak kunjung purna ini.

"Abang! Abang Adi" kubaca dan kutarik task bar smartphoneku
"Bang Balas, ini kami sudah memulai acara sastra yang telah direncakan sebelumnya" lanjutnya

hingga akupun menjawab.

"Baiklah aku akan datang segera ketempat biasa, jangan khawatir sesegara aku akan kesana" jawabku singkat dengan sedikit kesabaran.

Kulanjutkan dalam perjalanan tempat biasa kami kongko atau nongkrong di depan perempatan dan kafe yang sering kami sebut D/MI cafe. Sampailah diriku ditempat tersapalah diriku ini oleh kawan-kawan yang lama tak bertemu. Hingga malam berjalan akhirnya kami berhasil menyelesaikan acara yang telah kita rencankan.

Kusulutkan sebatang rokok dan menikmati setiap malam disudut ruangan itu. Terpinggir bersama dengan malam yang kiat gelap menuju pagi buta, muncul pikiran-pikiran gelisah yang tak segan menutupku dalam ramai dan riuh malam itu. Semua menatapnya dan cukup membuatku selalu tertarik berada disekitar mereka hangat dan selalu siap menerima datangku.

spacer

Gara-Gara Perjuangan Aku Menulis Puisi


 
Kepada semua insan yang berjuang, untukku dan kita semua.
Oleh. Muhammad Naufaldi

Pertarungan raga menjadi pertanda
Pertarungan otak menjadi sengitnya laga
Agni dalam hati tak akan pernah padam
Dan angkara yang lama kian memadam

Tungku, yang berisi bara
Membakar arang yang dimakan habis olehnya
Semua tak bersisa hanya abu yang menandakan
Ruang singgahku ini hanya sementara, kebetulan

Harga martabat, hak dan keadilan menjadi tenar
Menggenggam kami untuk mencari benar
Supaya bicara halus kami keras terdengar
Kepada beliau yang duduk diatas kursi yang mendengkur

Usang, usang dan usang
Kursi yang berganti, hanyalah eksistensi diri. Apakah ini benar ?
Atau salah kami meminta keadilan dan kebenaran ini ?
Semua sama dipandangan tuhan kita manusia
Semoga, segera kerjakan amanah dan tuntaskan keinginan kami
spacer

Renungan Dingin


Oleh Muhammad Naufaldi

Setiap laksana langitku pandangi
Rasa itu tak pernah tepat kusinggahi
Sang mata menatap taman bunga yang ramai
Berwarna-warni menemani hari

Renung pagi, berselimut dingin
Menjadi sebuah asa yang tak tetahan
Setiap rasa dan raga yang mulai mengikuti irama beraturan
Menciptakan rasa yang tak mampu lagi dijelaskan

Secara gamblang bibirku memilih untuk diam
Tanpa ucap dan menikmati setiap relung  dan ruang-ruang hati
Seketika waktu yang menjulang dan memutar diatasku
Berhenti sejenak untuk menikmati bersama-ku

Mengucapkan setiap kata yang tak sekedar diucap
Rasa pengucapan yang tertulis dalam aksara dan dekap
Menjadi pengecoh rasa kantuk
Yang merenungi dirimu penuh pelukan dingin pagi yang menembus raga dan hati terketuk

Magelang, 27 Juli 2020
spacer

Surat Bahagiaku, Kelak


Oleh Muhammad Naufaldi

Sejarah yang telah berlalu
Ragapun tlah membiru
Semua yang berakhir dengan kata tulusmu
Hanya akan menjadi sebuah janji dikemudian hariku

Tanganku telah kaku
Dingin dalam sebuah rebahku
Yang terakhir dalam wajah tersenyumku
Mengucapkan selamat tinggal diakhir waktumu

Terlewati, aku berjanji akan ada dalam harimu
Berbentuk rasa, dan kehidupan yang abadiku
Secarik kertas-kertas ku bacalah
Rindumu berbalas dan berbahagialah

Tak ada yang mampu bercerita
Selain milikku satu adalah bahagia
Keabadianmu dalam secarik kertas tua
Aku tidak akan pernah melupakanmu
spacer

Elegi Rindu

source: pixabay

Oleh. Muhammad Naufaldi

Lelahku telah berakhir
Dalam sebuah rasa tak berarti dan terpinggir
Menjamah hati yang telah lama berhenti, menyepi
Terangkak keluar batin menunjukan diri mencari

Memulai dalam kerinduan yang cukup
Menepi jatuh dan menghilang rasa terlungkup
Rengkuh-rengkuh tanganku yang menutup
Tak mampu menjadi sebuah cerita yang terungkap

Elegi menyambut sedikit menenangkan luka hati
Menerpa dengan sejenak kehangatan yang dicari
Terakhir dan mengakhir bukan lagi dalam tabu yang tak bertuan
Seruan-seruang untuk mundur dalam sangkala terompet peperangan

Akankah sebuah detakan jantung merubah alur waktu
Yang tak pernah tahu kapan pemberhentian itu
Rindu yang menjelma dalam riuh doa-doa sepertiga malam
Menjadi saksi keatas dalam lindungan gusti yang hanya diketahui oleh alam
spacer

Will be a different people ? You can be yourself!


Oleh. Muhammad Naufaldi

Mengapa kita harus menjadi seseorang yang berbeda dengan orang lain?

Begini, jadi cukup menarik mengapa aku dan kamu atau kita semua harus berbeda. Menurutku perbedaan bukanlah suatu landasan untuk saling merendahkan atau menjatuhkan. Namun, menjadi sebuah hal yang utuh dan mempersatukan karena setiap gagasan bisa saja berguna.

Tetapi sadar tidak sih bahwa setiap diri manusia memiliki sebuah kelebihan dan kekurangan yang seharusnya disyukuri. "Ibarat ketika air dan api mereka saling melengkapi, hujan tau kapan ia turun matahari juga tau kapan ia memancarkan membaranya.". Itu menjadi sebuah hal yang sangat baik dan bagus apabila kita sadari dan menjadi pelajaran untuk setiap orang.

Selanjutnya bagaimana menjadi orang yang merasa bahwa "kita adalah milik kita sendiri" atau tidak merasa iri diantara kita dengan orang lain. Kesadaran akan diri sendiri pada saat ini mulai hilang, setiap orang harus merasakan insecure yang begitu berat dan merasa bahwa mereka tidak pantas.  Stop! untuk merasa seperti itu, kita semua punya hal yang harus dibanggakan pada diri kita.

Nah ada beberapa tips dari Adiaddict.id mengenai kita harus menjadi diri sendiri:

  1. Pahami bahwa dirimu adalah milikmu seutuhnya

    Kamu harus sadar bahwa dirimu adalah milikmu sendiri, disini itu bentuknya lebih pada love yourself. ketika kamu sadar dalam hal ini pasti akan memunculkan rasa bahwa setiap orang bisa menjadi apa yang dia inginkan.

  2. Bersyukur

    "Kecantikan dari dalam adalah yang membuat kita semakin beraura bagus"-Muhammad Naufaldi. Dari kutipan diatas ditunjukan semakin kita menyayangi diri maka akan menampilkan figur yang tidak disadari

  3. Kebahagiaan akan mendatangimu

    Sudah cukup jelas ketika kamu selalu bersyukur, maka kamu akan diberikan kebahagiaan. Bahagia tidak akan kita cari tetapi, kebahagiaanlah yang mencari dan menjemput kita. karena bersyukur diibaratkan gambaran tercukupi porsinya dalam hidup dan raganya.

  4. Kamu akan pandai dalam mengambil keputusan

    Siapa yang sadar bahwa menjadi diri sendiri itu membuat kamu lebih selektif dalam memilih keputusan? pasti itupun jarang disadari oleh setiap orang, oleh sebab orang saat ini lebih memperhatikan orang lain dari dirinya sendiri.

    Stop! kukatakan sekali lagi kamu harus tetap berjuang memperbaiki diri dengan cara yang paling mempesona dimiliki oleh dirimu, dan belajar untuk tetap semangat
    Melihat kemajuan teknologi sepertinya perasaan insecure juga semakin meningkat, maka hal yang terbaik adalah percaya kepada dirimu sendiri dan mencoba terus mencoba hingga mencapai itu.

  5. Ketika kamu mengetahui dirimu lebih dalam, maka kamu akan sukses

    Seperti yang dikatakan oleh seorang filsuf china "Kenalilah diri anda, dan kemenangan anda tidak akan tergoyahkan"-Sun tzu, lebih tepatnya adalah ketika kita mengenali diri kita sendiri maka kita bisa memenangkan segara medan dan pertempuran yang ada untuk mencapai kesuksesan itu.

Nah itulah empat kebesaran dari kenapa kita harus menjadi diri kita sendiri, dan semoga yang sedikit ini menjadi sebuah ilmu yang bermanfaat. Jangan lupa tetap ikuti anjuran dan protokol kesehatan, doaku semoga kalian sehat dan selalu diberikan perlindungan selalu! Aamiin.

spacer

Perindu Puan Dalam Hujan


Oleh. Muhammad Naufaldi

Setelah jarak yang aku lawan menghilang
Terjangan derasnya alur kehidupan 
Semenit, dua menit
Merasa cumbu menggoda

Sejalan yang kulalui, sendiri
Setapak dan licin oleh hujan kala itu
Bangkit, semerbak harum mawar dalam hati
Ah, kasih olehmu aku rindu

Lelangitan berteduh, oleh alam
Langkah yang ragu dalam diam
Mencoba kembali tuk mengejar suara detak
Jantung yang kencang berdetak

Hutan hujan dan lembah dingin ini
Menjadi saksi akan mencari dirimu, t'lah kulalui
Laju waktu, hantaman jarak, tak kuhiraukan
Hanya dikau kasih, kumenanti dalam keras arus tetapku menahan
spacer